Di Tanah Jawa, Koalisi “Tikam” PDIP Untuk 2019

Ilustrasi Banteng tumbang di tarik kuda keluar arena matador.
MEDIAHARAPAM.COM, Jakarta (29/18)
Pilkada serentak tahun 2018 di pulau Jawa seperti menjadi warming up menjelang pileg dan pilpres 2019. Posisi pulau Jawa strategis seperti apa model koalisi pilpres bulan agustus mendatang. Perhelatan pemilihan kepala daerah di Jawa (jawa barat, jawa tengah dan jawa timur) 2018 di ikuti oleh 44 Kabupaten Kota. Kolaisi pemerintah muncul dengan wajah terbelah.
Terbelahnya koalisi pemerintah dalam pilkada serentak 2018, khusunya di jawa banyak merugikan PDIP. Polarisasi dan konflik dalam koalisi pemerintah merusak elektabilitas dan popularitas PDIP sedang popularitas partai lain dalam koalisi mengalami kenaiknan signifikan. Kondisi ini menggambarkan banteng PDIP di tikam oleh Partai Koalisi dan Non Koalisi dalam Pilkada Serentak 2018.
Pengaruh PDIP di Jawa menurun dibanding partai koalisi pemerintah lainnya dalam Pilkada Serentak 2018. Jumlah pemilih Jawa Barat mencapai 31.730.042 orang jika merujuk dari data DPT milik KPU. Jumlah tersebut terdiri atas 15.945.499 pria dan 15.784.543 wanita. Seluruh pemilih di Jabar tersebar di 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, dan 5.957 kelurahan/desa.
Pilkada Jawa Barat di 16 kabupaten kota dan Gubernur di Jawa Barat, PDIP mengalami banyak “tikaman” kekalahan di Provinsi dan hanya menang di 4 kabupaten kota dari 16 yang melaksanakan Pilkada serentak 2018. PDI-P hanya menang di 3 Kabupaten dan 1 kota, masing-masing: Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Cirebon, serta 1 kota yaitu Kota Bekasi yang diusung oleh 8 Parpol dan walikotanya kader Golkar dan wakilnya bukan kader PDI Perjuangan
Jawa Tengah jumlah pemilih cukup besar mencapai 27.068.500 orang. Jumlah itu terdiri atas 13.479.004 pria dan 13.589.496 wanita. Semuanya tersebar di 35 kabupaten/kota, 573 kecamatan, serta 8.559 desa. Jateng identik sebagai basisi konsituen PDIP cukup kesulitan menghadapi pertarungan di level Gubernur.
Sementara untuk suara kabupaten kota kekuatan PDIP mulai tergerus dengan hanya memenangkan 3 dari 7 pilkada kabupaten kota dan provinsi di Jawa Tengah. Dari 7 Kabupaten/Kota yang ikut Pilkada, PDI Perjuangan hanya menang di Banyumas, Kab Magelang, dan Karanganyar (posisi Wakil Bupati). Itu pun ada yang menang keroyokan 8 parpol. Selain itu, 1 bupati petahana dari PDI Perjuangan kalah di Temanggung. Kuat mungkin iya. Tapi kalau Perkasa tidak.
Jawa Timur jumlah pemilih mencapai 30.155.719 orang, di antaranya 14.840.353 pria dan 15.315.366 wanita. Seluruh pemilih tersebar di 38 kabupaten/kota, 666 kecamatan, dan 8.497 kelurahan/desa. Dari 13 Kabupaten dan 5 Kota Jawa Timur yang ikut Pilkada serentak dikurangi 3 Kabupaten di Pulau Madura yang tidak kondusif untuk Quick Count dan Kabupaten Bondowoso yang suaranya masih kejar-kejaran antara calon dari PKB Vs calon dari PDI-P, PDI Perjuangan menang di Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Probolinggo (Bupati kader Nasdem), Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Pasuruan (8 partai melawan kotak kosong), Kota Mojokerto, Kota Kediri dan Kota Madiun. Artinya dari 14 Kabupaten/Kota PDI Perjuangan menang di 8 Kabupaten/kota dari 18 (4 belum dihitung) di Jawa Timur.
Provinsi Banten 1 Kabupaten dan 2 Kota di Banten yang menyelenggarakan Quick Count dalam Pilkada Serentak 2018, Kota Serang belum bisa memastikan siapa pemenangnya (perbedaan masih dalam ambang margin eror), sedangkan di Kota Tangerang lawannya kotak kosong, begitu juga dengan Kabupaten Lebak yang lawannya kotak kosong. Belum ada sigal PDI-P di Banten yang menyelenggarakan Pilkada Serentak 2019 ini.
Selama pilkada serentak 2018 ini PDI-P hanya menang di 15 dari 40 di Pilkada Kabupaten Kota se-Pulau Jawa. Dengan konfigurasi politik yang tidak menguntungkan secara politik, meungkinkan PDIP melakukan manuver lain untuk memperkuat keuntungan politik. Banyak kader partai yang bermaslah hukum dan lain-lain sehingga harus melakukan kompromi politik dengan berbagai kekuatan politik, kemampuan komunikasi politik PDIP kembali di uji, apakah masih kaku atau sudah mulai menlentur, hanya waktu yang bisa menjawab.
(MD)

Comments

comments