Dibully Karena Meneliti Mahapatih

BERBAGI
Ilustrasi (NET)

Oleh: Iswandi Syahputra

MEDIAHARAPAN.COM – Sekitar tahun 1996, saat menjadi mahasiswa, seorang sahabat saya pernah punya tesis bahwa peradaban Islam di nusantara sudah ada sejak lama, bahkan sebelum peradaban Buddha dan Hindu. Alasannya sederhana, beberapa nama tempat dan tokoh dalam Islam memiliki kemiripan dengan nama tempat dan tokoh di pulau Jawa.

Misalnya, kisah tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Bilkis. Identik dengan nama kecamatan Sleman dan Ratu Boko di Yogyakarta. Kisah kota Madyan dalam Al-Qur’an identik dengan kota Madiun di Jawa Timur. Tentu saja info itu saya tanggapi ringan sebagai humor yang disusun berdasarkan ilmu “Utak-atik Gathukologi”.

Belakangan ini, muncul kabar bahwa Mahapatih Kerjaaan Majapahit, Kiyai Gajah Mada juga diklaim sebagai seorang muslim. Saya sebut klaim, karena ini bersifat sepihak. Bedanya, klaim ini didasarkan oleh penelitian yang dilakukan oleh PDM Muhammadiyah Yogyakarta.

Singkatnya, penelitian tersebut berkesimpulan bahwah Gajah Mada adalah seorang Muslim berdasarkan temuan:

1. Koin sebagai alat tukar saat itu yang bertuliskan kalimat Syahadat.

2. Batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang menyebut dirinya seorang Qadi (hakim agama Islam pada era itu).

3. Simbol atau logo kerjaaan Majapahit yang dibaca sebagai tulisan Arab.

Percaya atau tidak, suka atau tidak dengan temuan penelitian tersebut, sebagai orang yang hidup dalam dunia akademik, ada klausul penting bahwa: Seorang ilmuwan boleh saja salah, tapi tidak boleh berbohong.

Temuan itu boleh saja salah, tapi untuk mengatakanya berbohong haruslah diuji secara metodologis atau setidaknya dibuat penelitian lain sebagai pembanding. Itu pula sebabnya, karena saya tidak punya kompetensi meneliti sejarah, apalagi terkait arkeologi, saya anggap saja hasil penelitian itu sebatas informasi yang tidak mempengaruhi pandangan saya sebelumnya. Ya, mirip angin sepoi-sepoilah. Tidak mampu merobohkan pandangan saya sebelumnya tapi juga bukan angin lalu yang diabaikan.

Tapi persoalan menjadi lain dan menarik minat saya saat temuan itu dibully di media sosial. Riset saya sebelumnya tentang adanya polarisasi netizen di media sosial dalam persoalan bully membully ini mencium ada yang janggal. Pengamatan saya sekilas terhadap aktivitas media sosial menunjukkan bahwa:

Kelompok yang (sebutlah) membully temuan penelitian tersebut dan kelompok yang dibully karena melakukan penelitian adalah kelompok yang sebelumnya dapat diidentifikasi dan terpolarisasi secara politik setelah Pilkada DKI 2017 lalu. Atau secara spesifik polarisasi kelompok itu dapat mengacu pada pro dan kontra Aksi Bela Islam.

Anggapan ini bisa diuji dengan mengajukan pengandaian begini:

Jika hasil penelitian itu dikemukakan oleh LIPI atau peneliti asing, apakah mereka juga akan dibully?

Jika hasil penelitian itu disampaikan sebelum Aksi Bela Islam, apakah mereka juga akan dibully?

Sebab kontroversi soal Gajah Mada ini bukan saja pada agamanya, tapi juga tentang kelahirannya, aktivas dan kematianya. Sejumlah penelitian tentang hal itu juga sudah sejak 5 tahun lalu dilakukan, bahkan mungkin sudah muncul sejak lama.

Anuf Chafiddi atau sering dipanggil Viddy AD Daery dalam makalahnya dalam Seminar Sesi II tentang Kontroversi Gajah Mada dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah di Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng menyampaikan sebuah situs kuburan yang diyakini warga sekitar merupakan kuburan patih Gajah Mada. Kuburan itu dalam posisi dan berkarakter kuburan islam.

“Kuburannya menghadap ke arah persis sebagaimana kuburan orang Islam. Kalau misalnya hal ini benar maka wajar saja masa tua Gajah Mada tidak ditulis di babad-babad atau kitab kuno. Sengaja disisihkan atau dihapus dari sejarah karena Gajah Mada mungkin dianggap ‘murtad’ atau semacam itu,” jelasnya. (dalam Merdeka.com 30 Oktober 2012).

Saya ingin beranggapan bahwa, apapun hasil atau temuan penelitiannya, jika yang meneliti adalah pihak yang dianggap berasal dari kepentingan yang berbeda, apalagi yang diteliti hal yang kontroversial, polarisasi lama netizen itu akan muncul dalam bentuk bully di media sosial. Hal serupa bisa dilihat dalam kebijakan sekolah full day 5 hari. Tanpa tabayyun, langsung disambar secepat kilat dan dibully membabi buta di media sosial.

Padahal (kembali ke soal hasil penelitian Gajah Mada seorang muslim) ini hal biasa dalam dunia penelitian. Yang diteliti sudah berabad lalu berlalu. Dia seperti gudang luas yang hanya bisa diintip melalui celah yang sangat sempit. Tidak utuh, tapi celah itu dapat memberikan secuil gambaran peradaban pada masa lalu.

Kontroversi seperti ini juga terjadi pada tokoh besar seperti Napoleon Bonaparte, penakluk dunia dari Prancis yang disemat sebagai seorang muslim.

Isu Napoleon menjadi Muslim ini diungkap dalam harian resmi Prancis,Le Moniteur Universel (terbit dalam kurun 1789-1868). Disebutkan bahwa Napoleon resmi menjadi Muslim pada 1798. Kutipan berita inilah yang kemudian dimuat dalam buku Satanic Voices Ancient and Modern karya David Musa Pidcock tepatnya pada halaman 61. 

Ada pula bantahan bahwa penemu benua Amerika bukanlah Columbus, pelaut dari Spanyol.

Adalah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menegaskan penemu benua Amerika bukanlah Christophorus Columbus, sebagaimana termaktub dalam berbagai literatur sejarah. Ternyata penemuanya adalah muslim.

Hal ini dibuktikan dengan adanya kuburan–kuburan kuna di benua Amerika yang ternyata bertuliskan aksara Arab, seperti Muhammad dan huruf arab.

Hal ini kemudian membuktikan penyebaran Islam di benua Amerika sudah terjadi sebelum abad kelima belas.

Columbus sendiri mengakui dalam catatannya bahwa pelaut muslim sudah terlebih dahulu datang ke Amerika pada 1178 masehi. Hal ini dibuktikan Columbus dengan adanya masjid di atas gunung di Kuba.

Jadi, selain kebenaran itu milik penguasa, kebenaran juga bisa menjadi milik sejarah yang diteliti. Kalau ingin membantah kebenaram sejarah, sebaiknya lakukan penelitian untuk menemukan fakta baru. Jika tidak percaya dengan temuan sebuah penelitian, sebaiknya diam saja. Janganlah kebodohan kita tularkan pada orang awam, apalagi dengan cara membully.

Comments

comments