• Redaksi
  • Kode Etik
Media Harapan
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
Media Harapan
No Result
View All Result
Home Featured

Dimana Dia Ketika Rohingya Menangis?

by Media Harapan
5 September 2017 09:30
in Featured, Ragam
0

(Kisah Aung San Suu Kyi)

Oleh: Denny JA

Dimanakah ia berdiri
Ketika anak anak dipenggal kepala?
Ketika pemuda dibakar hidup-hidup?
Ketika gadis diperkosa bergantian?
Ketika bulan dipanah?
Ketika Rohingya menjerit luka?

Ia yang kini disorot dunia
Terdiam di pojok ruangan
Hatinya gusar
Dipeluknya nobel perdamaian itu
Dipeluknya pula kuasa dari rakyat
Celaka, ujarnya
Harum namaku ketika dizalimi
Kini membusuk ketika aku berkuasa
Oh hidup yang misteri
Kau datang tak terduga

Dikumpulkannya para hulu balang
Dimintanya nasehat:
Apa yang harus kulakukan?
Mengapa terjadi kekejaman?
Lama kurawat kebun bunga
Mengapa kini penuh ular berbisa?

Berdiri satu hulu balang
Ia dikenal ahli strategi
Dingin wajahnya
Sebeku hatinya

Ibu, pemilu kian dekat
Korban itu tak terhindarkan
Keamanan harus ditegakkan
Ketegasan harus ditunjukkan
Kekejaman berguna untuk melumpuhkan
Bahkan samudera yang luas
Perlu ikan hiu yang ganas

Tapi korban itu kelompok minoritas.
Jumlah mereka kurang 5 persen.
Mereka dimusuhi mayoritas.
Menunjukkan simpati pada 5 persen
Akan melukai 95 persen
Jangan ibu membela satu hama
Dan rusaklah kebun bunga

Bertahanlah untuk diam
Tunggu pemilu usai
Ibu lebih bisa berperan
ketika kuasa digenggam
Gegabah memainkan hati
Ibu akan rugi
Pemilu sebentar lagi
Gelap malam memang kelam
Tapi cahaya fajar segera tiba

Sang Ibupun menyanggah
Tapi bukankah aku sekarang berkuasa?
Hatiku bukan kalkulasi matematika
Aku juga punya air mata
Harus ada yang kulakukan
Aku tak suka kekejaman
Jangan beternak ular di kebun bungaku

Kembali bicara hulu balang lain
Ibu, dengarlah rekaman ini
Pasukan kita menjadi saksi
Apa daya kita tak di surga
Masyarakat memang terbelah
Bela semua, tak bisa

Terdengar itu rekaman
Suara pemimpin mayoritas yang ganas
Meyakinkan itu hasutan
Sekaligus menakutkan

Ujar pemimpin itu:
“Lihatlah mereka yang minoritas
Cepat sekali beranak pianak
Mereka kembang biak secepat kelinci
Pada waktunya mereka mayoritas.
Kitapun minoritas.
Mereka akan menindas.
Sebelum terlambat, kita harus menumpas
Demi negara!
Demi keyakinan!

Koor massapun bertalu talu
“Ya, ya, ya
Sebelum terlambat, kita haru menumpas.
Demi negara
Demi keyakinan.”

Hawa panas mengubah angkasa
Hilang sudah langit biru
Berganti kobar api kebencian
Hewan menjerit
Kebun bunga terbakar

Sang ibu semakin gusar
Kembali ia menyanggah
Tapi dunia akan celaka
Jika dibagi mayoritas dan minoritas
Dunia tak dibuat untuk menang dan kalah

Aku harus dengar suara mayoritas
Tapi aku juga punya air mata
Harus ada yang kulakukan
Aku tak suka kekejaman

Jangan tumpas hama
Dengan racun yang menghancurkan kebun bungaku

Berdiri hulu balang lain
Ujarnya;
Ibu harus memilih
Jangan ibu serakah
Tak bisa dapatkan semua

Menjadi pahlawan manusia?
Atau pemimpin yang kuasa?
Dalam dunia yang terbelah
Semakin kuasa ibu sebagai pemimpin
Semakin ibu kurang manusiawi
Semakin ibu manusiawi
Semakin ibu lemah sebagai pemimpin
Silahkan ibu memilih

Kita ada di bumi
Nirwana hanya ilusi

Pergi sudah semua hulu balang
Ia kini sendiri
Lama ia merenung
Hatinya semakin bergetar

Dipeluknya kembali nobel perdamaian itu
Dipeluknya pula amanah kuasa
Ia menjerit dalam diam
Mengapa tak bisa kudapatkan keduanya?

Itu kebun bunga
Yang ia rawat dengan air mata
Tumbuh dari perjuangan lama
Kini terbakar

Bahkan nobel perdamaian itu
Kini meronta
Tak ingin dipeluknya lagi

September 2017

Comments

comments

Previous Post

Data kementan selalu Update, BPK Salut

Next Post

Kementan-TNI Sinergi Wujudkan Ketahanan Pangan pondasi Pertahanan Negara

Media Harapan

Next Post
Kementan-TNI Sinergi Wujudkan Ketahanan Pangan pondasi Pertahanan Negara

Kementan-TNI Sinergi Wujudkan Ketahanan Pangan pondasi Pertahanan Negara

BERITA POPULER

No Content Available

BERITA TERBARU

Ketika Dakwah Dihadang: Sikap dan Harapan Pengurus Pusat PERWATI

Ketika Dakwah Dihadang: Sikap dan Harapan Pengurus Pusat PERWATI

12 July 2026 15:21
Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

20 June 2026 20:47
Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

16 June 2026 10:37
Pemkab Bogor Janji Buat Surat Edaran Cegah LGBT

Pemkab Bogor Janji Buat Surat Edaran Cegah LGBT

14 June 2026 08:33

Follow Us

Media Harapan merupakan web portal berita berbasiskan citizen jurnalism yang menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Semua materi dalam situs mediaharapan.com boleh di copy guna keperluan pengembangan pengetahuan dan wawasan masyarakat khususnya peningkatan inteligensi pemuda-pemudi Indonesia dan referensi non komersil dengan mencantumkan mediaharapan.com sebagai sumbernya. Semua masyarakat khususnya pemuda-pemudi Indonesia dapat berpartisipasi sebagai citizen jurnalism dengan mengirimkan rilis, informasi, berita, artikel, opini atau foto untuk dipublikasikan melalui alamat email Redaksi.

Recent News

Ketika Dakwah Dihadang: Sikap dan Harapan Pengurus Pusat PERWATI

Ketika Dakwah Dihadang: Sikap dan Harapan Pengurus Pusat PERWATI

12 July 2026 15:21
Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

20 June 2026 20:47
  • Redaksi
  • Kode Etik

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia