MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta – Domisili Bogor dan aksi 313 yang hanya hitungan jam, membuat Muhammad Al Khathath (MAK) terpaksa menginap di hotel, tak jauh dari titik kumpul utama, Masjid Istiqlal, Kamis (30/3) malam.
Saat itu, sang istri yang ditugaskan mencari penginapan, mengabarkan, jika sejumlah hotel di sekitar Istiqlal penuh.
“Jadi, istri pak Khaththath kasih kabar, kalau semua hotel (di sekitar Istiqlal) penuh,” ungkap Ketua Umum PP Parmusi, Usamah Hisyam saat memberikan keterangan pers di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (3/4/2017).
Informasi dari sang istri, diterima MAK usai menghadiri acara salah satu stasiun TV di Gondangdia, Jakarta Pusat, sekira pukul 22.00 WIB. Disaat bersamaan, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) itu sudah berjanji akan menemui Usamah di sekitar Istiqlal.
Namun, karena posisi Usamah di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, maka pertemuan keduanya disepakati di Lobby Hotel Indonesia Kempinski (HIK).
MAK pun, dikatakan Usamah, datang ke HIK naik ojek dari Gondangdia. Usamah mengungkapkan, kedatangan MAK juga didampingi koordinator humas FUI, Nanang Kosim. Serta dua orang dari FUI yang tidak dikenalnya.
Terkait dugaan pertemuan antara MAK dengan Tommy Soeharto di HIK, Usamah membantahnya.
“Jadi, kita ketemu di tengah. Lobi hotel (HI) Kempinski. Kita ngobrol, bahas aksi 313 sampai jam 1 (01.00 WIB). Hanya pertemuan dengan saya. Tidak benar ada tommy Soeharto,” terang mantan anggora DPR RI itu.
Usai pertemuan, MAK sempat ijin pamit pulang ke Bogor karena tidak ada kamar hotel kosong di sekitar Istiqlal. Namun, Usamah menyarankan agar menginap saja di HIK. Mengingat agenda aksi 313 hanya tinggal hitungan jam. Tepatnya, Jumat (31/3) siang, usai ibadah salat.
“Jelang jam 1 (dinihari), Pak Khaththtah ijin pulang ke Bogor. Tapi saya larang. Lalu, akhirnya check in di HIK. Memang tidak ada rencana menginap di sana (HIK). Inisiatif saya saja,” tutur Usamah.
Mantan politisi PPP itu juga membantah dugaan aliran dana yang mensponsori penginapan MAK di HIK. Menurutnya, sebagai pengusaha, bukanlah hal yang perlu dipusingkan jika harus memesan salah satu kamar di HIK yang ditengarai bertarif terendah, Rp 2 jutaan ke atas per malam.
“Anggarannya juga, saya yang bayar. Jadi, tidak ada aliran dana juta-jutaan. Kan saya pengusaha,” papar pria yang lama menjadi jurnalis tersebut. (Goeh Gorbachev).





