Oleh: Handriansyah
(Ketua Umum: Wahana Muda Indonesia (WMI))
Ditengah gonjang-ganjing ranah poltik Indosnesia, Sosok Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjadi perhatian rakyat Indonesia. Independensi, ketegasan Sikap dan pernyataannya memberikan kesejukan dalam kemelut isu politik dan keamanan bangsa.
Jenderal kelahiran Tegal, 13 Maret 1960 ini hadir ditengah bangsa ibarat air yang menyirami padang gersang dan tandus diantara kaktus-kaktus politik yang berusaha saling serang dan melukai perasaan rakyat yang nyaris terbelah akibat benturan kepentingan politik sesaat.
Beberapa kali ia tampil di hadapan publik melalui media massa dengan pernyataan yang selalu memihak kepada rakyat, bahkan ketika sebuah media berusaha menjebaknya dalam kerangka framing penggiringan opini ia berani meng-’cut’ dan meluruskan realita sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa. Ia berani membuka fakta ancaman keamanan bangsa kontemporer yang menyatakan bahwa “ancaman kuning” merupakan realita yang dihadapai bangsa Indonesia saat ini dalam bungkusan Pasar Bebas.
Ketika pejabat publik berusaha menjustifikasi suatu kelompok, ia justeru sebaliknya berusaha merangkul semua kelompok dengan pernyataan dan langkah yang menyejukkan. Sehingga wajar jika kemudian publik mengibaratkannya seperti inkarnasi dari Panglima Besar Jenderal Soedirman yang bergerak terarah dan konsisiten tanpa melukai dan merugikan rakyat.

Terakhir, Kecintaanya pada rakyat dan bangsa ditunjukkanya dalam acara silaturrahmi, Buka Puasa bersama dan santunan Ramadhan dilapangan Brigif Raider 13 Galuh Tasikmalaya Jawa barat, Rabu (21/6/2017). Disaat hujan deras membasahi ribuan umat Islam yang saat itu hadir, ia tidak mundur sejengkalpun dari mimbar yang terbuka. meski baju PDH dan lambang pangkat Jenderal yang melekat dibahunya juga turut basah disiram hujan yang saat itu tak kunjung reda.
Sebagai Panglima, Ia menunjukkan kecintaannya pada bawahan, prajurit yang dipimpin dan rakyat. Dan peristiwa ini seakan mengulang sejarah perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang tidak mundur sedikitpun dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajah meski harus ditandu karena sakit.
Tak pelak, foto dan video yang beredar membuat banyak orang berdecak kagum bahkan meneteskan air mata melihat sikap Jenderal Gatot Nurmantyo. Terlebih peristiwa tersebut terjadi di 10 hari terakhir Bulan Ramadhan, sehinga banyak yang mendoakan agar hujan yang turun memberikan tersebut merupakan rahmat dan memberi keberkahan baik kepada sosok Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI maupun bangsa Indonesia.
Dan isi ceramah dalam sambutannya saat itu membuat setiap orang terbelalak, karena ia kembali menegaskan bahwa peran serta Ulama, Kyai dan santri dalam merebut kemerdekaan dan melawan penjajah merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri hingga akhirnya Indonesia Merdeka seperti saat ini.
Diahadapan ribuan Jamaah, Panglima menegaskan bahwa yang merumuskan UUD 1945 adalah para tokoh-tokoh agama. Dan pancasila merupakan hasil kompromis umat beragama, khususnya umat Islam saat mendirikan NKRI karena para ulama dengan mengedepankan rasa kebangsaan, persatuan dan kesatuan serta Ke-Bhineka Tunggal Ika-an sepakat untuk sila pertama Pancasila adalah “Ketuhanan yang maha esa”.
Dalam acara tersebut Panglima juga mewanti-wanti Prajurit TNI agar selalu menjaga hubungan baik degan para ulama dan pemuka agama lainya untuk mengamakan bangsa. “Kalau TNI mau sukses dalam menjalankan tugas pokoknya maka harus selalu dekat dengan pemuka-pemuka agama. Itu kuncinya” Tegas Panglima.
Sosok Gatot Nurmantyo kiranya memberikan harapan bagi kedamaian dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari intrevensi asing, kepiawaiannya dalam menjaga keamanan, persatuan dan kesatuan bangsa memberi angin segar bagi rakyat untuk Indonesia yang tegak berdaulat diantara negara-negara dunia.
Di kehidupan nyata maupun di dunia maya dan Media Sosial, Sosok Jenderal Gatot Nurmantyo beredar dan menjadi pembicaraan, rakyat berharap ia menjadi “Indonesian Next Leader” yang dapat memimpin Bangsa ini, mengubah nasib bangsa dan membebaskan bangsa dari intervensi asing sehingga Kedaulatan Indonesia sebagai bangsa benar-benar terwujud dan rakyat Indonesia bukan lagi menjadi tamu di rumahnya sendiri.
Bravo Jenderal, Rakyat bersamamu..!!!






