MEDIAHARAPAN.COM Jakarta-Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengatakan, sikap PDIP yang mengaitkan koalisi nasional dengan pilkada DKI Jakarta menunjukan ketakutan besar jika koalisi partai pendukung pasangan Basuki-Djarot kalah sebelum bertanding dalam putaran kedua pilkada DKI Jakarta. Pasalnya, dalam putaran pertama yang lalu, raihan suara pasangan Anies-Sandi sangat mengejutkan dengan mampu berada di urutan kedua dengan hanya beda 3% walau pun hanya di dukung dua partai politik.
“Adalah hal yang wajar jika partai pendukung kedua calon berusaha keras untuk mendapatkan dukungan lebih dari partai pendukung pasangan Agus-Sylvi. Namun mengaitkan koalisi nasional dengan pilkada DKI Jakarta mengindikasikan ketakutan yang berlebihan, karena bukan hanya terkait jabatan menteri yang dijadikan sandera, namun sepertinya ada kepentingan politik lebih besar dibalik dukungan yang diberikan” tegas Jajat,Jumat(3/3/2017)
Jajat menilai, perbedaan dukungan dalam pilkada DKI Jakarta tidak hanya terjadi ditingkat elit, namun suara arus bawah juga kerap berbeda dukungan. Hal ini tentu akan sangat merugikan partai, karena partai akan di cap tidak mampu merangkul aspirasi dari arus bawah. Selain itu fenomena seperti ini menunjukan kesadaran politik yang besar di tingkat arus bawah yang tidak mau aspirasinya terabaikan hanya untuk kepentingan elit partai semata.
“Tanpa dukungan kuat dari arus bawah, suara dukungan partai politik tidak akan berarti, khusus untuk pilkada DKI Jakarta kali ini, kasus hukum yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi dasar pertimbangan tersendiri bagi para pendukung arus bawah partai politik pendukung pasangan Agus-Sylvi dalam menentukan pilihannya” tutup Jajat. (Bams)






