MEDIAHARAPAN.COM, Jenewa – LSM berbasis di Strasbourg, Perancis pada hari Sabtu (9/3) menyerukan pembebasan “segera” perempuan dan anak-anak di penjara Suriah “tanpa syarat apa pun.”
“Kami mengundang semua orang di dunia yang memiliki hati nurani untuk berbicara hingga perempuan dan anak-anak Suriah terakhir dilepaskan,” kata International Council for Justice, Equality and Peace (COJEP) dalam sebuah pernyataan.
LSM itu mencatat bahwa setiap teks agama dan moral menghormati etika dan kehidupan manusia bahkan di masa perang.
“Ada banyak kejahatan perang di Suriah,” katanya, “Salah satunya rezim Suriah menggunakan pemerkosaan sebagai senjata terhadap perempuan dan terus melakukannya.”
Lebih lanjut dikatakan: “Beberapa wanita ditangkap selama kehamilan mereka dan mereka melahirkan di tempat-tempat di mana mereka ditahan. Para wanita ini dipenjara bersama anak-anak mereka. ”
Pernyataan itu menekankan bahwa tidak ada pilihan lain selain perdamaian dan bahwa setiap orang berhak untuk hidup dengan terhormat tanpa disiksa dan ditindas tanpa memandang agama, bahasa, ras, dan warna kulit mereka.
“Kami mendukung Gerakan Hati Nurani untuk kebebasan wanita dan anak-anak yang dipenjara di Suriah,” tambahnya.
Gerakan ini adalah aliansi individu, kelompok hak asasi dan organisasi yang bertujuan untuk menggalang tindakan mendesak pembebasan perempuan dan anak-anak di penjara rezim Bashar al-Assad Suriah.
Menurut gerakan itu, lebih dari 13.500 wanita telah dipenjara sejak konflik Suriah dimulai pada Maret 2011, sementara lebih dari 7.000 wanita tetap ditahan, di mana mereka menjadi sasaran penyiksaan, pemerkosaan dan kekerasan seksual.
Gerakan Hati Nurani didirikan tahun lalu setelah konvoi perempuan internasional menjadi berita utama dunia, konvoi itu berupaya meningkatkan kesadaran tentang penyiksaan dan penderitaan perempuan yang dipenjara oleh rezim Assad. (Anadolu/bilal)




