“Manuver” Ombusman RI, 10 Bulan Kasus Novel Baswedan

11 April 2017, atau sudah 10 bulan sejak penyiraman saat Novel dalam perjalanan dari masjid ke rumahnya usai shalat Subuh.

MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta. Proses penanganan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan masih belum menunjukkan hasil positif hingga saat ini. Sebaliknya, kejanggalan justru terendus dalam perkara yang terjadi 11 April tahun lalu tersebut. Salah satunya terkait dengan pemeriksaan Novel di Singapura pada medio Agustus tahun lalu.

wartawan melakukan aksi teaterikal kronologi terhadap novel baswedan
Kejanggalan itu diungkapkan Komisioner Ombudsman RI (ORI) Adrianus Meliala. Dia mendapati dokumen berita acara pemeriksaan (BAP) Novel tidak ada di kepolisian. Padahal, pada saat pemeriksaan itu, Novel diperiksa dan sudah di-BAP penyidik Polda Metro Jaya. “Hanya (dokumen) pemberian keterangan saja dari Novel (yang ada di kepolisian). Ada tanda tangan dan cap KBRI,” ujarnya kepada Media, sabtu (10/2).

Dokumen yang tidak mirip BAP itu ditengarai menjadi akar lambatnya penanganan teror terhadap penyidik KPK tersebut. Adrianus mengatakan, kepada Ombudsman, penyidik Polda Metro Jaya memang mengatakan bahwa Novel belum pernah di-BAP. “Ini sesuai dengan perkataan penyidik (Polda Metro Jaya) bahwa Novel belum pernah di-BAP,” ungkapnya.

Adrianus pun menyarankan agar dilakukan pemeriksaan ulang terhadap Novel yang kini sedang menjalani perawatan mata di Singapura. Dia juga mengusulkan kepada polisi untuk mendalami keterangan Novel yang sebenar-benarnya. “Keterangan Novel bisa didalami di bawah sumpah, bukan karena katanya si A, katanya si B,” ucapnya.

Novel diserang dengan air keras dan kemudian dokter mendiagnosa sekitar 95 persen bagian mata kiri Novel rusak terpapar air keras tersebut. Hingga kini kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel masih misteri.
Novel Baswedan menegaskan bahwa dirinya sudah pernah di-BAP oleh penyidik Polda Metro Jaya di Singapura. Pemeriksaan itu dilakukan di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Singapura yang terletak di Jalan Chatsworth 7. Pemeriksaan di Singapura itu juga disaksikan pegawai dan pimpinan KPK.

Karena itu, dia meminta Ombudsman untuk menanyakan secara kelembagaan kepada KPK terkait dengan temuan dokumen kepolisian tersebut. “Untuk lebih jelas bisa ditanyakan ke KPK karena setiap proses saya selalu didampingi dari KPK,” tegasnya.

“Tidak benar juga bahwa saya pernah menandatangani suatu tulisan dengan format seperti BAP dan diberi cap KBRI. Itu aneh lagi,” ungkap suami Rina Emilda itu.

Senada dengan Novel, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, terkait dengan pernyataan pihak tertentu yang menyampaikan bahwa kendala penanganan perkara disebabkan belum bisa dilakukan pemeriksaan terhadap Novel, KPK menegaskan bahwa Novel telah diperiksa secara pro justitia, bahkan sebelum operasi mata tahap satu dilakukan.

“Saaat itu pimpinan KPK juga mendampingi dan telah berkoordinasi dengan Kapolri dan Polda Metro Jaya. Jadi kami harap informasi-informasi yang disampaikan adalah informasi yang benar, sehingga tidak membuat publik salah memahami,” tegas mantan aktivis antikorupsi tersebut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, komisioner Ombudsman yang menyatakan Novel Baswedan belum diperiksa atau belum dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP) adalah pernyataan yang membingungkan publik.

“Saya tidak paham apa maksud Adrianus menyampaikan berita menyesatkan seperti itu? Novel Baswedan sudah diperiksa secara projusticia oleh penyidik Polda Metrojaya, di Singapura sebelum operasi tahap pertama Novel dilakukan, terang Novel Sudah di BAP, bahkan satu hari setelah penyerangan banyak keterangan-keterangan juga sudah disampaikan Novel kepada pimpinan Kepolisian. Jadi, pernyataan Adrianus sesat dan menyesatkan,” kata Dahnil.

Menurutnya, jangan sampai lambatnya pengungkapan kasus ini justru kesalahannya dialamatkan kepada Novel Baswedan sebagai korban. “Sudah menjadi korban kemudian dipersalahkan lagi. Terus terang saya semakin pesimis dengan itikad kepolisian dan berbagai pihak terkait dengan pengungkapan kasus ini. 306 hari sudah berlalu, oleh sebab itu TGPF sangat mendesak untuk dibentuk oleh Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Diketahui, penyidik senior KPK Novel Baswedan masih berada di Singapura dan masih harus melakukan rangkaian proses pengobatan, khususnya terhadap mata kiri. Pada hari Ahad (11/2) tepat 10 bulan sejak penyiraman saat Novel dalam perjalanan dari masjid ke rumahnya usai shalat Subuh pada 11 April 2017.

Novel diserang dengan air keras dan kemudian dokter mendiagnosa sekitar 95 persen bagian mata kiri Novel rusak terpapar air keras tersebut. Hingga kini kasus teror penyiraman air keras terhadap Novel masih misteri. Sampai sekarang, pihak Polda Metro Jaya belum mampu mengungkap motif di balik teror tersebut.

Perkembangan kasus itu sendiri, terakhir pihak Polda Metro Jaya merilis dua sketsa wajah yang diduga pelaku teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. Dari sketsa yang dipaparkan, pelaku pertama berciri-ciri pria berambut cepak dan berkulit gelap. Sementara satu terduga lainnya berambut panjang dan berkulit putih.

Terpisah menanggapi adanya hal ini, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen M. Iqbal menuturkan, Polri berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan pelaku penyiraman Novel. Sketsa orang yang diduga menjadi pelaku juga sudah tersebar. ”Kami berupaya sekuat tenaga,” tukasnya.

(HZ)

Comments

comments