Oleh: Martimus Amin
Masih ingatkah kita sewaktu duduk di bangku SD dan SMP, Komik begitu populer dan digemari berbagai kalangan. Terutama karya Ganes TH ‘Si Buta Dari goa Hantu’. ‘Djaka Sembung’, Rio Manudia Srigala’ (Djair), ‘Gundala Putra Petir’ (Hasmi), serta Cerita Silat Karya Asmaraman S. Ko Ping Ho.
Tempat penyewaan komik dan cersil rame saat itu. Berhari-hari kita sambung menyambung membacanya. Di tas sekolah sering dirazia guru. Komik yang kedapatan disita membuat kita kelabakan. Sebab, uang jajan diberikan ortu tidak sepadan buat mengganti.
Untuk komik era digital/ desain komputer kini, kita sudah tidak nafsu mengikuti. Tidak ada ruh dan semangat pada gambar-gambar dan dialeknya.
Kejayaan komik berlangsung pada periode 1970-1980-an. Saya membayangkan begitu banyak orang Indonesia begitu hebat pada masa itu dan periode sebelumnya. Tidak hanya sebagai seniman juga sebagai politisi. Orisinil dengan bakat luar biasa. Tidak seperti sekarang yang mempromosikan kepopuleran dirinya dengan memanfaatkan teknologi dan sihir media. Langgam zaman sdh begeser.
Untuk mengenang kejayaan komik, kita menyampaikan pesan bahwa jadikan pertarungan Pilkada DKI Jakarta bak cerita komik dan cersil yang seru.
Slamat bertanding wahai pendekar putih vs doso muko angkara murka. NKRI harga mati.
Martimus Amin Penggemar cerita Komik dan Cersil Tahun 80-an.






