Menyiapkan Generasi Emas Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah 

Oleh: Mohamat Syarif Tuasikal, ST

Membangun generasi emas yang dicintai Allah SWT yang senantiasa bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah keharusan setiap keluarga yang beragama Islam. Hal ini karena untuk menciptakan masyarakat yang aman, tenteram dan damai, maka perlu diwujudkan terlebih dahulu manusianya yang memahami agama secara menyeluruh (Islam khaaffah), bukan juz’iyah karena masyarakat adalah kumpulan-kumpulan dari keluarga dan insya Allah generasi emas akan tumbuh dari individu-individu yang Islami.

Allah SWT berfirman, “Aku tidak Menciptakan jin dan Manusia melainkan agar meraka beribadah kepada-Ku. (QS.adz-Dzariyat: 56). Hidup adalah proses beribadah kepad-Nya, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, wajib kita lakukan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), sehingga ketika seseorang melakukan pendekatan hanya kepada Tuhannya, mengharapkan keridhaan-Nya,memahami akan hakekat diciptakannya, maka insya Allah dia tidak akan tergelincir ke lembah kemaksiatan yang menghancurkan masa depannya.

Secara harfiah, Islam adalah selamat, sejahtera, tunduk, patuh, damai dan pasrah. Ini berarti Islam merupakan agama yang menuntut pemeluknya untuk tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, serta pasrah dan berserah diri dalam menerima ketentuan itu sehingga membawa kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat. Islam adalah Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Sehingga Islam hadir untuk menciptakan kedamaian dimuka bumi ini. Sehingga ketika seseorang yang melakukan kekerasan terhadap siapapun dan atas dasar apapun, itu bukanlah ajaran Islam yang sesungguhnya dan yang jelas mereka belum masuk kedalam Islam secara menyeluruh. Oleh karena itu, seseorang yang mengaku Muslim harus melakukan ketundukkan, ketaatan dan kepasrahan hanya kepada-Nya. Apabila dia tidak melakukan itu, bisa jadi Allah SWT tidak mengakuinya sebagai seorang Muslim.

Sebagai seorang Muslim, kewajiban kita adalah menciptakan generasi emas berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, dan kita mulai dari keluarga masing-masing. Anak adalah titipan Allah dan bagi yang dititipkan memiliki kewajiban menjadikan mereka generasi yang shalih dan shalihah. Anak-anak di didik menjadi baik, penurut, sehat dan cerdas. Tumbuh kembang anak yang terbesar adalah dari penglihatan dan pengamatan lingkungan sekitar dan yang paling dekat dengan mereka adalah kedua orang tuanya, sehingga orang tuanya diwajibkan memahami agama lebih jauh, secara Syamil (Menyeluruh).

Kewajiban orang tua adalah mendidik dan membesarkan anak menjadi generasi yang berakhlakul karimah. Karena akhlak yang baik akan menyamai orang-orang yang baik puasanya dan baik shalat malamnya. Rasulullah Saw bersabda, ”Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) daripada akhlak yang baik.”(HR. Abu Daud). “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi & Abu Hurairah). Berkata Dr. Aidh Abdullah al-Qarni, “Akhlak yang baik adalah surga dalam kalbu.” Maka babAkhlak ini menjadi sesuatu yang sangat penting. Kita ketahui persis bahwa interaksi anak dengan dunia luar seperti di sekolah maksimal hanya tiga puluh persen selebihnya menjadi tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan mengajar, jangan biarkan akhlak mereka menjadi akhlak sinetron. Dan ketika orang tua hanya menyerahkan segalanya kepada tenaga pendidik, inilah awal dari kehancuran.

Allah SWT berfirman, “ … Sesungguhnya Allah tidak akan Mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka Mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS.ar-Raad: 11). Berkata para Ulama adalah yang harus dirubah adalah jiwa-jiwa yang bersangkutan agar diangkat derajatnya yang tidak lain adalah keberuntungan yang datangnya dari Allah SWT karena ketakwaannya. “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS.ath-Thalaq: 2-3). Sungguh, yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS.al-Hujurat: 13).

“Sesungguhnya Tuhanku berkata padaku: Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku kalau sudah menentukan sesuatu maka tiada seorang pun yang sanggup menolaknya. (HR. Muslim). Inilah penegasan dominasi Allah dalam menentukan nasib seseorang, namun jiwa-jiwa yang diperbaiki menjadi takwa,maka Allah akan memperbaiki keadaan atau kondisi seseorang sebagaimana janji-Nya. “Kitab (Al-Qur,an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS.al-Baqarah: 2). Anak yang senantiasa dibiasakan membaca Al-Qur’an dan artinya maka dia akantahu apa keinginan Tuhannya ditambah bimbingan orang tua yang faham agama kemudian berguru kepada para Ulamayang hanif, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi-generasi yang dicintai Allah SWT. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. “ (QS.ar-Raad: (13): 28). Dan dzikir yang terbaik adalah shalat. “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”(QS.Thaha: 14)

Setelah medirikan shalat, tentunya ada doa-doa yang dimohonkan kepada-Nya. Doa adalah senjata orang Mukmin.“Tidak ada yang dapat menolak takdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain doa. Dan tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.”(HR. Tirmidzi. Maka generasi yang hebat akan hadir dariorang tua yang selalu mendoakan yang terbaik buat anaknya.”Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang dizalimi.” (HR. Abu Daud). Apalagi setiap sehabis sholat orang tua mendoakan anaknya menjadi anak yang senantiasa mendirikan sholat sebagaimana doanya Nabi Ibrahim as yang bersyukur atas dianugerahkannya Ismail dan Ishaq, “Rabbij alnii muqiimash shalaati wa min dzurriyyatii rabbanaa wa taqobbal duaa.” (Ya Tuhan-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankan doaku. (QS.Ibrahim: 40).

Maka untuk menyiapkan generasi emas sesuai Al-Qur’an danSunna, perlu kita lakukan tiga hal sebagai berikut : Pertama, islamisasi diri. Islamisasi diri adalah berperilaku sesuai syari’at Islam yang sumbernya Al-Qur’an dan Sunnah, meningkatkan iman dan takwa, bersatu padu dalam payung ukhuwah Islamiyah serta jangan pernah meninggalkan Ulama. Anak-anak kita ditekankan pelajaran aqidah bahwa diamemiliki ikatan dengan Allah SWT semenjak masih dalam kandungan ibunya, beriman kepada Allah serta bertauhid. Anak memahami hanya Allah tempat bersandar dan meminta segala sesuatu.

Dengan islamisasi diri maka akan timbul akhlak yang baik, akhlak yang baik terhadap Allah, manusia dan lingkungan hidup yaitu berprasangka baik kepada Allah, berbuat baik ke sesama manusia dan tidak merusak lingkungan. Anak yang baik agamanya adalah generasi emas yang rajin beribadah, kelak mereka akan rajin zakat, infak dan sedekah, suka menolong, tidak narkoba, tidak berjudi, tidak merokok, tidak minum minumas keras, disiplin dan berbakti kepada kedua orang tua. Anak yang baik agamanya takutnya hanya kepada Allah SWT, takut atas siksa, adzab dan Murka-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu dekati langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.“(QS.al-Baqarah: (2): 208). Dalam tafsir Ibnu Katsir, Allah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk mengerjakan semua cabang iman dan syari’at Islam yang jumlahnya sangat banyak sesuai kemampuan mereka dan melaksanakan ketaatan dan jangan ikuti langkah setan karena setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang Allah. Sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah dan tidak berpengaruh bagi orang-orang yang beriman.

Kedua, Islamisasi keluarga, ini harus dilakukan agar anak dan istri kita terhindar dari adzab neraka.
“Wahai orang-orang beriman! Periharalah dirimu dan keluargamu dan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu… (QS.at-Tahrim: 6). “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsipa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS.al-Munafikun: 9). “Harta dan anak-anak adalah perhiasankehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS.al-Kahfi: 46). Berdoa saja tidak cukup kalau tidak dibarengi dengan perbuatan yang menopang doa tersebut yang tidak lain adalah ketakwaan kepada-Nya. Sebagai kepala keluarga yang baik, selayaknya memiliki tanggung jawab yang besar untuk bisa menahkodai kapalnya berlayar melintasi samudera kehidupan yang penuh dengan lika-liku agar sampai bersama-sama keluarganya di surganya Allah SWT.

Ketiga adalah istiqomah, bagi seorang Muslim istiqomah adalah sebuah keniscayaan. Istiqomah dalam Islamisasi diri dan keluarganya karena setan selalu mengikuti anak Adam kemana saja dia berada. Sebagaimana janjinya setan, “ Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” (QS.al-Araaf: 17. “Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, tidak ada rasa kawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS.al-Ahqaf: 13). Dengan tiga point diatas kiranya dapat dijadikan rujukan untuk menciptakan generasi emas berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, Semoga.

Wallahu a’lam bish shawab

[Penulis adalah Wakil Ketua Pusat Kajian Dakwah Maluku (PKDM) dan Direktur Eksekutif Rumah Belajar Matasiri (RBM)] 

Comments

comments