Pertarungan Berdarah Pilgub Jabar

BERBAGI

Oleh : Hersubeno Arief

MEDIAHARAPAN.COM – Jajak pendapat yang dilakukan lembaga survei Indocon mengkonfirmasi pertarungan politik di Pilkada Jabar 2018 akan berdarah-darah.
Semua kandidat belum ada yang aman, dan bisa memastikan akan memenangkan pertarungan memperebutkan kursi Jabar 1.

Kendati semua survei menyebutkan Walikota Ridwan Kamil (RK) selalu menempati peringkat satu dalam elektabilitas, diikuti Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar, namun posisinya masih jauh dari aman.

RK masih berpeluang disalip kandidat lain, dan bisa mengalami nasib sial seperti kandidat-kandidat populer dengan elektabilitas tinggi pada Pilkada Jabar sebelumnya.

Ada empat poin mengapa Pilkada Jabar menjadi sangat dinamis dan akan menjadi pertarungan sengit.

Pertama, benar bahwa RK mempunyai elektabilitas tertinggi, namun keteguhan pemilihnya _(strong voters)_masih sangat rendah. Hanya 15%.

Dalam bahasa anak muda zaman now, mereka adalah kelompok ababil. Pemilih yang sangat labil. Sangat rentan mengalihkan dukungan. Untuk aman, seorang kandidat harus memiliki strong voters, setidaknya sebesar 40%.

Fenomena pemilih RK bisa disebut sebagai bubble voters, pemilih yang sangat mudah kempes, seperti buih. Fenomena ini bisa kita pahami karena adanya fenomena media sosial yang dengan sangat cerdik dimanfaatkan oleh RK dan timnya.

Dalam bahasa yang lebih lugas Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan alasan partainya tidak memilih RK karena hanya populer di medsos, namun tidak ditunjang dengan kinerja yang baik.

Pembangunan di Kota Bandung selama dipimpin RK tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dan hanya menyentuh pusat kota. Daerah pinggiran seperti kawasan Bandung Selatan tidak tersentuh.

Seorang warga menggambarkan situasi Kota Bandung saat ini seperti mojang cantik yang memakai lipstick merah menyala. Bersolek habis, tapi tidak mengganti pakaian dalamnya. Hanya cantik di luar, tapi di dalam….hmmmmm.

Tingginya elektabilitas RK juga disokong oleh fakta bahwa baru dia satu-satunya kandidat yang bekerja sangat serius melakukan marketing politik. Atribut RK sudah menyebar merata di seluruh Jabar, bahkan sampai ke jalan-jalan di kawasan lingkungan.

Di urutan kedua, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Sementara Wagub Deddy Mizwar boleh dibilang sama sekali belum berkampanye. Alat peraga kampanye luar ruang Demiz masih berkaitan dengan posisinya sebagai wagub, bukan sebagai cagub.

Masifnya alat kampanye RK dan banyaknya dukungan dari partai (Nasdem, PKB,PPP dan Golkar) menunjukkan bahwa RK adalah kandidat yang didukung oleh kekuatan modal yang sangat besar.

Silakan dihitung berapa besar dana yang harus dikeluarkan RK untuk atribut yang begitu massif, dan uang mahar untuk partai-partai pendukung.

Dedi Mulyadi mengaku pernah dimintai mahar sebesar Rp 10 miliar agar rekomendasi sebagai cagub dari DPP Golkar diberikan kepadanya. Padahal Dedi adalah Ketua DPD Golkar Jabar yang notabene calon internal. Dapat dibayangkan berapa besar dana yang harus dikeluarkan oleh seorang calon eksternal.

Dua fakta tersebut menjelaskan mengapa soliditas strong voters RK sangat rendah. Sebagai Walikota Bandung kesempatannya untuk bertatap muka dan membuat ikatan batin dengan warga Jabar yang tersebar di 27 kabupaten, sangat rendah.

Dia harus bekerja keras dan meluangkan waktu lebih banyak menjelajah wilayah Jabar dan menemui para pendukungnya.

Kedua, Faktor political endorser alias tokoh yang bisa mempengaruhi pilihan. Survei Indocon menyebutkan ada empat tokoh, yakni Jokowi (39%) Prabowo (34%) Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (27%), dan Megawati (24%).

Sebagai kandidat yang sejak awal berkomitmen akan memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019 (salah satu syarat dari Nasdem), RK sangat diuntungkan dengan fakta bahwa Jokowi adalah political endorser terkuat.

Kuatnya Jokowi di tlatah Priangan bisa dipahami karena sejak menjadi presiden, dia sangat serius menggarap pasar Jabar. Jokowi seolah menjadikan Jabar sebagai halaman belakangnya untuk bermain.

Setiap bulan Jokowi melakukan kunjungan kerja 2-3 kali ke Jabar. Terbanyak dibandingkan provinsi manapun. Biasanya blusukan tersebut dilengkapi dengan oleh-oleh berupa peresmian proyek, janji proyek, termasuk bagi-bagi sertifikat tanah.

Maklumlah Jokowi pada Pilpres 2014 kalah telak dari Prabowo. Sebagai wilayah dengan jumlah pemilih terbesar, Jokowi harus menang di Jabar, bila ingin melenggang di Pilpres 2019. Karena itu dia harus all out, dan memenangkan pertempuran awal, dalam hal ini Pilkada 2018.

Dengan dukungan Jokowi bukan berarti
RK bisa melenggang. Prabowo, Aher, dan Megawati juga menjadi figur yang bisa menggerakkan kemana para pemilih akan menjatuhkan pilihannya.

Sejauh ini ketiga figur tersebut posisinya berada di seberang RK. Bila ketiganya bersatu, atau setidaknya dua diantaranya bersatu, mendukung lawan RK, maka akan menjadi lawan berat.

Kabar baiknya bagi RK, saat ini Demiz pecah kongsi dengan Prabowo pecah. Demiz malah akan segera memakai seragam biru dengan bintang mercy. Pasangan Demiz-Syaichu kabarnya akan melakukan deklarasi dan diusung PKS-Demokrat, dan PAN.

Ketiga, faktor cawagub. Ada tiga kandidat yang memiliki elektabilitas cukup tinggi. Anggota DPR dari PAN Desy Ratnasari, Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum, dan Netty Heryawan istri Aher.

Dari ketiga nama tersebut yang berpotensi akan berlaga adalah Uu dan Netty. Sementara Desy tampaknya akan fokus kembali bertarung di legislatif.

Posisi Uu yang diusung PPP terancam digusur Daniel Mutaqien kader Golkar dan anak mantan Ketua Golkar Jabar Yance Irianto MS.Syafiuddin. Dari sisi jumlah kursi, Golkar (17) jauh lebih banyak dibanding PPP (9). Dari simulasi Indocon ternyata elektabilitas RK lebih tinggi bila dipasangkan dengan Daniel dibanding Uu.

Sementara Netty sejak tidak terpilih sebagai cagub dari PKS, secara gencar diincar oleh PDIP. Namun sebagai kader PKS, Netty menolak dan lebih memilih loyal kepada putusan partai.

Tidak putus asa dengan penolakan Netty, PDIP mengubah strategi. Mereka kini mencoba melakukan pendekatan langsung ke PKS. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan tidak tertutup kemungkinan mereka berkoalisi dengan PKS.

Dengan membaca survei Indocon kita bisa jadi memahami mengapa PDIP sangat gigih mengejar Netty. Selain Netty sebagai pribadi yang punya kompetensi tinggi dan jaringan luas, PDIP agaknya mengincar jaringan Aher dan kekuatannya sebagai political endorser.

Yang mungkin agak sulit dipahami mengapa PDIP memilih posisi berseberangan dengan calon yang diusung Jokowi? Fenomena ini juga terjadi di Jatim. Apakah sekedar kepentingan politik lokal dan jangka pendek, atau ada kaitannya dengan kepentingan jangka panjang Pilpres 2019. Apakah PDIP dan Jokowi akan berpisah jalan?

Keempat, relijiusitas. Faktor ini di Jabar juga sangat penting seperti dikemukakan pengamat politik Unpad Firman Manan.

Di Jabar faktor figur yang relijius juga sangat menentukan. Hal itu bisa dilihat dari dua Pilkada (2008, dan 2013). Aher yang santri mengalahkan figur-figur populer seperti Agum Gumelar, dan Dani Setiawan gubernur incumbent (2008). Sementara pada Pilgub 2013 mengalahkan dua artis populer Dede Yusuf dan Rieke “oneng” Diah Pitaloka.

Dua Pilgub Jabar sebelumnya juga membuktikan popularitas dan elektabilitas yang tinggi, tidak menjadi jaminan untuk menang. Jabar menjadi kuburan bagi para kandidat yang terlalu pede dengan modal popularitas dan elektabilitas yang tinggi.

Karakter pemilih Jabar memang lain. Dalam pemilu legislatif pemenangnya selalu berganti dari satu partai, ke partai lainnya. Dan siapapun yang memenangkan pileg di Jabar, akan menjadi pemenang pemilu nasional.

Eta terangkanlah…… end
13/11/17

Comments

comments