Jakarta poros Jepang ini percakapan sebagai sesama warga dunia yang saling belajar dan berbagi pengalaman. Kita adalah sesama warga dunia dan sama-sama punya tanggung jawab untuk menyiapkan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya.
MEDIAHARAPAN.COM, Jepang – Jejak relasi dan komunikasi lintas ruang yang dilakukan Anies Baswedan dengan warga dunia sangat spesial. Kita merasakan memiliki sosok yang pas menampakan bagaimana pesan dan gagasan dalam kehangatan, kesedhanaan serta kecerdasan berbalas penghormatan dari warga dunia. Nota Digital Aines merangkum poros Jakara Jepang, bagaimana Anies Selaku Gubernur Jakarta berbicara di hadapan Jepang. Bahasa elegan darie Anies “ini percakapan sebagai sesama warga dunia yang saling belajar dan berbagi pengalaman. Kita adalah sesama warga dunia dan sama-sama punya tanggung jawab utk menyiapkan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya”.
Masyarakat Jepang menaruh perhatian amat besar pada perkembangan Jakarta. Hubungan panjang antar kedua bangsa terasa sekali selama di Tokyo. Jakarta menjadi salah satu perhatian utama mereka. Semua transformasi yang terjadi di kota ini menarik bagi mereka.
笹川平和財団 The Sasakawa Peace Foundation menyelenggarakan tiga kali seminar tentang Jakarta. Dua kali di Tokyo dan satu di Hiroshima. Seminar pertama untuk kalangan akademisi dan jurnalis. Mereka yang memiliki riset dan kajian terkait indonesia dan Asia Tenggara. Seminar kedua untuk kalangan bisnis dan masyarakat umum yang memiliki kegiatan usaha dan minat di Indonesia.
Forum seminar di kampus Universitas Hiroshima Studi tentang Asia Tenggara
Seminar ketiga, Sasakawa bekerjasama dengan Universitas Hiroshima menyelenggarakan kuliah untuk kalangan mahasiswa. Hiroshima adalah kampung halaman Perdana Menteri Jepang sekarang, yaitu Fumio Kishida. Mereka selenggarakan di kota Hiroshima di bulan Agustus, sebagai bagian dari pengingat kejadian bom atom pertama di bulan Agustus 1945.
Sepanjang seminar di Tokyo itu mendapatkan komentar dari orang-orang Jepang yang sempat ke Jakarta tahun 2021 dan 2022. Mereka menceritakan betapa nyamannya kini menggunakan kendaraan umum dan bisa menyusuri Jakarta dengan berjalan kaki.
Ada banyak topik yang dibahas selama seminar. Mulai dari soal transportasi, kesehatan, pendidikan, perekonomian, demokrasi, hingga masalah UMP. Mereka memang cukup detail dan telaten dalam memantau Jakarta dan Indonesia.
Bahkan ada yang menceritakan pengalamannya naik angkot di Jakarta. Sekarang terasa sangat nyaman. Jika mereka cerita soal nyamannya naik MRT maka itu bukan sesuatu yang unik. Tapi jika ada orang Jepang cerita kenyamanan naik angkot dan bus umum, maka itu unik dan kita mendengarnya dengan rasa syukur.
Ada banyak topik yang dibahas selama seminar. Mulai dari soal transportasi, kesehatan, pendidikan, perekonomian, demokrasi, hingga masalah UMP. Mereka memang cukup detail dan telaten dalam memantau Jakarta dan Indonesia.
Menariknya sebagian malah mengatakan Jepang harus belajar dari Indonesia soal kecepatan utk learning dan unlearning, utk lebih cepat dalam mengantisipasi perubahan.
Tukar pikiran yang terjadi selama seminar-seminar itu bukan semata-mata dari orang yg sedang mewakili Jakarta di hadapan Jepang, tapi ini percakapan sebagai sesama warga dunia yang saling belajar dan berbagi pengalaman. Kita adalah sesama warga dunia dan sama-sama punya tanggung jawab utk menyiapkan masa depan lebih baik bagi generasi berikutnya.
Anies di Rumah Warisan Kakek MENLU Jepang Toshimasa Hayashi yang berusia sekitar 100 tahun
Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi mengundang untuk bermalam minggu di kampung halamannya. Sebuah kota kecil bernama Ube, di prefecture Yamaguchi, sisi Selatan Jepang. Sekitar 950 km dari Tokyo atau 90 menit dengan pesawat.
Menteri Luarnegeri Jepang Hayashi langsung “menjamu” kita dengan pianonya. Memang ia berasal dari keluarga pecinta musik.
Malam itu kami dijamu masakan khas Jepang, bersama istrinya Yuko Hayashi, PhD. Istrinya adalah seorang profesor di Universitas Yamaguchi pada bidang inovasi dan manajemen industri. Selain saya dan Fery Farhati, ikut bergabung dalam acara dinner itu adalah Atsushi Sunami, pimpinan Sasakawa Peace Foundation. Hayashi-san malam itu sengaja pakai batik Indonesia!
Rumahnya di Ube berusia sekitar 100 tahun. Sebuah rumah warisan kakeknya, seorang industriawan besar di jamannya yang berhasil membangun kota Ube. Rumah kuno ini cukup besar dibandingkan umumnya ukuran rumah Jepang.
Begitu tiba di rumahnya, Hayashi langsung “menjamu” kita dengan pianonya. Memang ia berasal dari keluarga pecinta musik.
Malam itu kita makan malam sambil diskusi panjang lebar tentang begitu banyak hal. Mulai dari mulai urusan masakan, upacara minum teh di Jepang, filosofi batik dan kain tradisional Indonesia, sampai soal stabilitas dunia.
perkenalan, lalu pertemanan, mengantarkan pada momen-momen persahabatan yang mengesankan
Kami berterima kasih sekali atas undangannya untuk singgah ke kota masa kecilnya. Sebagai Menteri Luar Negeri tentu jadwalnya amat padat, tapi sebagai sahabat lama, ia luangkan waktu khusus untuk mengundang kami bermalam Minggu di kampung halamannya.
Sebuah malam Minggu yang mengesankan. Tak pernah terbayangkan bahwa perkenalan, lalu pertemanan, mengantarkan pada momen-momen persahabatan yang mengesankan seperti malam Minggu itu.
Anies & MENLU Jepang Yoshimasha Hayashi Kawan Lama
Siang itu, mampir ke kantor teman lama: Yoshimasha Hayashi.
Kami bersahabat sudah agak panjang, sekitar 14 tahun. Saat sama-sama sering hadir pada ASEAN Statesmen Forum.
Selama ini, jika saya sedang ada acara di Tokyo, beliau sempatkan mampir menyapa. Saking baiknya, kadang beliau yg datang mengunjungi ke tempat delegasi kami menginap untuk sarapan atau ngopi bersama.
Bahkan pernah suatu ketika, saya sedang berada pada sebuah konferensi di Amerika, tiba-tiba dikabari bahwa ada undangan dinner dari delegasi Jepang. Ternyata di sana ada Hayashi-san. Beliau dengar bahwa saya hadir dalam konferensi itu. Lalu beliau mengundang dinner bersama kolega-koleganya.
Kali ini sama. Walau lebih banyak berurusan dgn kantor Gubernur Tokyo, tapi saya menyempatkan untuk mampir, berjumpa dan diskusi dengannya, meskipun singkat. Maka mampirlah kami ke kantornya, kini ia sudah bertugas sebagai Menteri Luar Negeri Jepang. Beliau telah menjadi salah satu tokoh penting di Jepang.
Itu sesi resmi dan terbatas. Beliau juga ajak untuk mampir lanjutan ke rumahnya bersama keluarganya.
Menyusul ceritanya
Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi mengundang untuk bermalam minggu di kampung halamannya. Sebuah kota kecil bernama Ube, di prefecture Yamaguchi, sisi Selatan Jepang. Sekitar 950 km dari Tokyo atau 90 menit dengan pesawat.
Malam itu kami dijamu masakan khas Jepang, bersama istrinya Yuko Hayashi, PhD. Istrinya adalah seorang profesor di Universitas Yamaguchi pada bidang inovasi dan manajemen industri. Selain saya dan Fery Farhati, ikut bergabung dalam acara dinner itu adalah Atsushi Sunami, pimpinan Sasakawa Peace Foundation. Hayashi-san malam itu sengaja pakai batik Indonesia!
Rumahnya di Ube berusia sekitar 100 tahun. Sebuah rumah warisan kakeknya, seorang industriawan besar di jamannya yang berhasil membangun kota Ube. Rumah kuno ini cukup besar dibandingkan umumnya ukuran rumah Jepang.
Begitu tiba di rumahnya, Hayashi langsung “menjamu” kita dengan pianonya. Memang ia berasal dari keluarga pecinta musik.
Malam itu kita makan malam sambil diskusi panjang lebar tentang begitu banyak hal. Mulai dari mulai urusan masakan, upacara minum teh di Jepang, filosofi batik dan kain tradisional Indonesia, sampai soal stabilitas dunia.
Kami berterima kasih sekali atas undangannya untuk singgah ke kota masa kecilnya. Sebagai Menteri Luar Negeri tentu jadwalnya amat padat, tapi sebagai sahabat lama, ia luangkan waktu khusus untuk mengundang kami bermalam Minggu di kampung halamannya.
Sebuah malam Minggu yang mengesankan. Tak pernah terbayangkan bahwa perkenalan, lalu pertemanan, mengantarkan pada momen-momen persahabatan yang mengesankan seperti malam Minggu itu.