Program KPLDH Dianggap Kurang Terasa, Mantan Relawan Anies-Sandi Minta Agar Dioptimalkan

MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta – Mantan relawan Anies-Sandi, Irawan meminta Pemerintah DKI Jakarta untuk mengoptimalisasikan program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH) yang diluncurkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

“Berdasarkan saran dari masyarakat, program ini sangat penting tapi harus lebih dioptimalkan, efektifitasnya juga agar lebih terasa oleh warga,” ungkap Irawan saat diwawancarai oleh media (13/02).
Menurut Irawan, Pemerintah DKI Jakarta lebih baik dalam jangka waktu dekat ini berfokus memperbaiki aspek-aspek peningkatan kualitas kesehatan.

“Jika dilihat urgensinya, pelayanan kesehatan di rumah sakit Jakarta harus jadi perhatian utama. Karena hal tersebut masih menjadi problem warga ibu kota yang hendak berobat,” kata Irawan.

Hingga saat ini banyak masyarakat yang mengeluhkan masalah saat berobat di rumah sakit. Masalah tersebut antara lain yaitu antrian yang panjang dan kurangnya ruang perawatan yang intensif bagi bayi, anak kecil dan orang dewasa.

“Masalah antrian dan kurangnya ruang perawatan sampai sekarang sering jadi keluhan, karena penuhnya pasien di rumah sakit baik dari dalam dan luar Jakarta. Saya harap ini yang dikedepankan sebelum pemerintah melempar program yang baru,” imbuh Irawan.

Irawan mengatakan, agar masalah tersebut segera terselesaikan Pemerintah DKI Jakarta perlu membuat terobosan. Di era perkembengan teknologi seperti sekarang, sistem layanan kesehatan terpadu secara digital bisa jadi solusinya.

”Kalau untuk antrian online sebenarnya sudah ada di beberapa Rumah Sakit pemerintah, tapi kita butuh yang lebih terintegrasi. Seperti kita bisa buat layanan kesehatan terpadu secara digital, KPLDH saya rasa program bagus namun ini harus lebih diperbaiki lagi agar warga Jakarta merasakan dampak positifnya,” pungkas Irawan.

Seperti diwartakan sebelumnya, beberapa warga DKI Jakarta mengeluh atas tidak efektifnya program Ketuk Pintu Layani Dengan Hati. Keluhan tersebut juga ditujukan pada tidak terasanya jumlah 5000 dokter pada program ini yang seharusnya terkontrol mendatangi warga. (Noer

Comments

comments