Oleh: Iswandi Syahputra
“Ini bukan sebuah Pipa” atau Ceci n’est pas une pipe. Demikian tulisan yang termuat di bawah lukisan gambar pipa rokok ini. Gila! Sudah jelas ini gambar pipa rokok, mengapa kita dilarang menyebutnya dengan pipa?
Ini memang tentang kegilaan
René François Ghislain Magritte (1898–1967), seorang artis surealis Belgia. Ia dikenal karena sejumlah karyanya yang memprovokasi kemapanan.
Kira-kira begini, jika pipa rokok ini bisa bicara, belum tentu dia bersedia dipanggil pipa. Lantas siapa yang memberi namanya sebagai pipa? Itulah yang ingin di lawan sebagai sebuah kemapanan dengan gerakan anti kemapanan. Dengan cara apa melawannya? Bahasa dan wacana, itulah kekuatannya. Siapa yang dapat disebut gila? Di sini, gila itu bukan penyakit kejiwaan tapi sebuah praktek kuasa wacana. Begini contohnya…
Seorang Bapak yang taat beragama punya seekor kambing yang dipeliharanya sejak lahir. Setelah dewasa, kambing itu di bawa ke pasar untuk dijual. Tapi tiap kali ketemu orang, selalu heran dan bertanya, “Hei Pak, ngapain bawa anjing?” Si Bapak tersenyum simpul, dalam hati berfikir “Mereka bergurau”. Begitulah seterusnya tiap ketemu orang, selalu menyebut kambing yang dibawanya dengan sebutan anjing. HIngga sampai di pasar, pembeli kambing kaget “Pak, ini pasar kambing, bukan pasar anjing”. Bapak tersebut heran bertanya dalam hati, “Ini sekarang sebenarnya siapa yang gila?”, sambil melepas gemetar kambing yang dipeliharanya sejak lahir.
Demikianlah satu kisah tentang kegilaan…
Itu sebabnya seorang Postmodernist asal Prancis, Michel Foucault menjelaskan bahwa predikat ‘gila’ bukanlah sekedar masalah empiris atau medis semata, tapi juga berkenaan dengan norma-norma sosial dan bentuk-bentuk diskursus (praktek berwacana) tertentu. Pengertian tentang kegilaan adalah hasil ciptaan manusia, karena kategori gila terus berubah sesuai dengan zaman.
Abad Pertengahan memperlakukan orang gila sebagai orang yang tidak berintegrasi dengan masyarakat. Menurut versi gereja, orang gila adalah yang tidak memiliki loyalitas pada gereja. Ingat kasus teori Copernicus dari Galileo Galilei? Pengertian gila terus berubah sesuai dengan perspektif dan kepentingan pemegang kuasa.
Saat ini, kita sedang berhadapan pada proses terbentuknya sejarah kegilaan.
Ada dugaan korupsi, tapi diwacanakan bersih.
Satu keluarga dari satu etnis, tapi diwacanakan tokoh Bhinneka Tunggal Ika.
Beberapa kali menghina agama, tapi diwacanakan toleran.
Suka menggusur, tapi diwacanakan agar rakyat makmur.
Suka omong kasar, tapi diwacanakan memiliki hati ya baik.
Kalah dalam Pilkada, teruslah dipuja agar medan wacana yang sudah terbentuk tidak sirna.
Dapat hukuman karena menghina, tapi diwacanakan pelanggaran hak asasi manusia. Demikian terus, cari, temukan, sebarkan terus menerus wacana untuk mendapat kuasa yang diinginkan. Inilah yang disebut sebagai ruang diskursif. Jika ada yang menyerah dengan serangan wacana itu, maka selesai produksi satu sejarah tentang kegilaan.
Sehingga kita lupa memeriksa bahwa dimanapun, kapanpun penista agama selalu mendapat hukuman. Berikut beberapa contoh-contohnya :
● Bristol mosque bacon sandwich attack: Three more charged : http://www.bbc.com/news/uk-england-bristol-35372556
● Pastor di Inggris ditahan for abusive words :
http://www.dailywire.com/news/14075/these-british-pastors-were-just-arrested-hank-berrien
● Ditangkap karena menghina Jesus :
http://www.express.co.uk/news/weird/702003/jesus-walking-cross
● Seorang atheist dipenjara karena menghina Jesus dan Islam
http://www.telegraph.co.uk/news/religion/7624578/Atheist-given-Asbo-for-leaflets-mocking-Jesus.html
● Lelaki Rusia dihukum karena bermain Pokemon Go di dalam Gereja.
http://mobile.abc.net.au/news/2017-05-12/pokemon-go-user-convicted-for-playing-game-in-russian-church/8519382
● Blogger Rusia diganjar 3.5 tahun penjara
https://bbs.dailystormer.com/t/russian-blogger-sentenced-to-3-5-years-for-denouncing-the-existence-of-god-and-mocking-jesus-christ/105810
● Dipenjara 3 bulan karena merendahkan agama saat berdebat di cafe
http://m.thenational.ae/uae/courts/man-who-disrespected-religion-during-argument-in-dubai-jailed-for-three-months
● Blogger remaja dipenjara di Singapore karena menghina Islam dan Kristen di videonya.
http://www.independent.co.uk/news/world/asia/amos-yee-singapore-jails-teenager-youtube-blogger-insulting-christians-muslims-videos-quran-bible-a7345856.html
● Lelaki berkebangsaan Belanda dipenjara di Myanmar krn mencabut speaker yg biasa digunakan Biksu myanmar.
https://coconuts.co/yangon/news/another-foreigner-has-been-arrested-insulting-religion-buddhist-myanmar/
● 2 Guru Hindu di Bangladesh dipenjara karena menghina Islam
https://www.dawn.com/news/1254740
● Rapper Malaysia dipenjara karena filming music video nya di dalam masjid
https://www.theguardian.com/world/2016/aug/22/malaysian-rapper-namewee-arrested-video-disrespectul-to-islam
● Blogger Bahrain dipenjara karena menghina sekte dan agama lain di Twitter
http://jimmywalesfoundation.org/bahraini-blogger-sentenced-to-jail-over-insulting-religion-on-twitter/
● Blogger Saudi dipenjara 10 tahun karena menghina Islam
http://www.patheos.com/blogs/friendlyatheist/2014/05/08/saudi-blogger-punished-for-insulting-islam-is-sentenced-to-10-years-in-jail-and-1000-lashes/
● Profesor di University of Mysore dipenjara karena menghina Lord Rama (dewa Rama)
http://m.deccanherald.com/articles.php?name=http%3A%2F%2Fwww.deccanherald.com%2Fcontent%2F553876%2Fuom-prof-jailed-insulting-lord.html
● Lelaki New Zealand dipenjara 2.5 tahun karena membuat iklan dgn menampilkan Budha memakai headphone DJ
http://m.nzherald.co.nz/nz/news/article.cfm?c_id=1&objectid=11418740
Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.






