Musyawarah Dan Mufakat Hukum Adat Minang Yang Tak Banyak Dipahami Orang
Oleh: Ibnu Aqil D. Ghani (Ketua Harian Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau)
Musyawarah dan mufakat adalah hukum adat di Minangkabau yg banyak tak dipahami orang. Pada hal di Minangkabau diagungkan sebagai salah satu produk tertenggi penyelesaian suatu kasus hukum.
Bulek aia ka pambuluah, bulek kato ka mufakat adalah adegium adat Minangkabau yg diakui di semua penjuru Minang.
Dalam mencari bulek sagolek, picak salayang dilakukan dengan proses musyawarah. Diindang ditampi tareh, dipikih atah ciek-ciek. Sedang prinsip tempat berpijak musyawarah itu adalah kebenaran; kamakan barajo ka mamak. Mamak barajo ka ninik mamak, ninik manak barajo ka mufakat, mufakat barajo ka kabanaran, kabanaran tagak dengan sendirinya.
Nah, ketika suatu persoalan yg kemudian diputus telah melalui mufakat seperti itu maka di Minangkabau sangat kuat, diasak indak layu dicabuik indak mati. Artinya, tak bisa diungkit-ungkit oleh insitusi apapun. Bahkan lebih kuat dari palu hakin sekalipun.
Kasus dr FL yang penyelesaiannya telah melalui musyawarah mufakat bagi masyarakat Minang sudah dianggap selesai. Dan ingat sudah semua duduk semeja; dr FL, pihak atasannya, Kemenag, polisi, LKaam, ormas, Wako. DPRD, MUI. Sangat-sangat sempurna.
Lalu. Ada reaksi dari Jakarta. Seolah itu bukan produk sebuah penegakkan hukum, lemah dan salah. Sehingga ada korban pencoporan dsbnya.
Saya kira terhadap kasus ini mereka orang pusat itu indak paham dengan adat Minang, kata orang sekarang gagal paham. Maka karena itu, penting dipahami nasehat M. Yamin salah seorang pendiri negeri ini: siapa pun yg bertugas di Minngkabau, maka pahami dulu adat Minangkabau.
Salah sauak, karuah air aia sa luak, salah sanduak rusak samba sabalango. Salah kakok rusak nagari.






