Suami Inneke Sewa Sel Mewah Rp 700 Juta di Lapas Sukamiskin

Fahmi Darmawansyah Foto: NET

MEDIAHARAPAN.COM, Bandung – Dalam persidangan di pengadilan Tipikor Bandung, Fahmi Darmawansyah Napi Terpidana Tindak Korupsi (Tipikor) yang juga terdakwa kasus suap izin keluar Lapas Suka Miskin membongkar adanya praktik jual beli sel mewah dan sewa bilik asmara di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 (Lapas) Suka Miskin, Bandung.

Dalam keterangannya Suami Artis Inneke Koesherawati itu mengatakan bahwa sebelum seorang narapidana di eksekusi ke Lapas dapat membooking kamar sel mewah mencapai Rp 700 Juta dengan membayar uang muka atau DP terlebih dahulu kepada seorang broker.

“Jadi kalo mau dapat kamar booking dulu dari informasi itu mengutus orang ke Sukamiskin mengecek dan ternyata benar. Dari situ dikasih DP Rp 100 Juta setelah itu melalui transfer Rp 600 Juta” Kata Fahmi di Pengadilan Tipikor Bandung Jalan LLRE Martadinata Bandung, Rabu (6/2/2019).

Fahmi mengaku bahwa dirinya mengutus orang untuk mencek kamar dan membayar uang muka Rp 100 Juta Tunai sebelum masuk ke Lapas Suka Miskin. Hal itu dilakukannya berdasarkan informasi dari penasehat hukumnya yang mengatakan banyak narapidana berebut untuk mendapatkan sel mewah dilapas Sukamiskin.

Selain membayar sewa kamar yang mahal, fahmi juga mnegungkap adanya biaya bulanan untuk membayar fasilitas kamar lainnya yang mencapai Ro 1,5 Juta. “Rp 1,5 juta itu perbulannya, karena saya ditambah AC jadi tambah Rp 500 ribu” Urai Fahmi.

Selain praktik Jual Beli Sel Mewah, di Lapas Suka Miskin juga ada praktik sewa Bilik bercinta yang digunakan oleh napi dan istrinya dengan tarif sewa sekali bercinta mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 650 Ribu, namun fahmi menolak dikatakan dirinya menyewakan bilik tersebut karena tarif sewa tersebut bukan ditentukan olehnya sendiri namun kesepakatan bersama..

“Rp 650 ribu untuk 7 orang saja, kawan-kawan yang sudah kenal semua, bukan umum, kalau umum setahu saya Rp 300 sampai 400 Ribu”. jelas Fahmi.

Diketahui, Suami Inneke Koesherawati ini menjadi Terpidana Kasus Korupsi yang terbukti menyuap Deputi Bidang Informasi Hukum dan kerjasama Bakamla merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla yang juga sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) TA 2016 Eko Susilo Hadi sebesar 100 ribu dolar Singapur, 88.500 ribu dolar AS dan 10 ribu euro.

Majelis Hakim Tipikor menjatuhkan pidana terhadap Fahmi dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan [NEO]

Comments

comments