Oleh: Zeng Wei Jian
MEDIAHARAPAN.COM – Andrie Wongso, motivator kebanggaan saya, menitip pesan kepada Lieus Sungkharisma agar saya menulis sesuatu tentang Indonesia Jaya. Supaya tentram, harmonis, dan damai. Agar rakyat, termasuk Tionghoa, bisa bahagia.
This is a tough task. Pengetahuan dan pengalaman saya minim. Defisit ilmu. Tapi Andrie Wongso adalah tokoh baik. Sekali pun sempat jadi Ahoker, saya masih lebih ingat ujar-ujarannya daripada retorika yang kerap disampaikan Lieus “Mario-Keruh” Sungkharisma.
Semasa jadi aktifis Buddhist, saya dan teman-teman kerap diskusi seputar nasehat bijak Andrie Wongso. Salah satu yang saya ingat, dia berpesan, “Saat sukses kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada didalam rasa bersyukur.”
Tionghoa di Indonesia memiliki privilege. Tidak semegah rezim “white folk” di Afrika Selatan kuno. Namun, kondisinya jauh lebi baik dibanding other-minorities di Amerika, China, Singapore, Australia, Burma dan lain sebagainya.
Di Indonesia, minoritas Tionghoa punya social standing yang baik.
Tionghoa di Indonesia mirip etnik Sorbs di Jerman. For centuries, etnik Sorbs hidup di antara mayoritas German-speaking states. Sama seperti Tionghoa, mereka ngga punya “historical territory”. Namun, mereka dianggap sebagai bagian dari Bangsa Jerman. Konstitusi Federal Republic of Germany melindungi hak-hak berbudaya mereka. Dari ribuan etnik minoritas di seluruh dunia, hanya sedikit yang diperlakukan seperti itu. Sorbs dan Tionghoa salah satu yang bernasib baik.
Kelompok minoritas di Pakistan tidak seberuntung itu. Konstitusi Pakistan melarang non-muslim jadi Presiden atau Perdana Menteri.
Tahun 2005, di Amerika, dropout rate SMA tertinggi adalah minoritas Latino, Negro dan Indians (Alaska Natives). Menurut National Center for Education Statistics.
Jadi, lucu bila ada Tionghoa di Indonesia masih tidak bersyukur. Masih meminta-minta lebih.
Namun, di mana-mana, minoritas seringkali jadi korban social turmoil. Karena itu, menurut saya, bila Tionghoa mau lebih nyaman hidup di Indonesia maka Tionghoa harus involve menaikan Socioeconomic status (SES) dari mayoritas pribumi.
Economic disparity, plus caci-maki rasis di internet, menyebabkan mutual distrust menjadi norma sosial. Itu kita saksikan di negara ‘stability-obssesed’ seperti China. Terutama di daerah Xin Jiang dan Tibet. Minoritas jadi bulan-bulanan power abuse mayoritas Han Chinese.
Integrasi dan asimilasi populasi tidak menjamin keselamatan minoritas saat kemiskinan dan dendam sejarah masih ada.
Di tahun 1930an, Yahudi di Jerman lebih membaur. Sedangkan Jews di Eropa Timur lebih ekslusif. Mereka bicara dengan bahasa sendiri (Yiddish). They read Yiddish books, and attended Yiddish theater and movies. Tapi, German Jewish dibantai holocaust. Menjadi korban terparah Nazi German.
Pasca Perang Dunia 1, atmosfer politik Jerman tidak kondusif bagi Yahudi. Di tahun 1920an, Jerman dilanda dipresi ekonomi, nasionalisme radikal, street violence, ancaman komunisme dan kegagalan demokrasi memicu sentimen antisemitic.
Seorang politisi Yahudi bernama Walter Rathenau dianggap merugikan Jerman karena mendukung Treaty of Versailles. Rathenau tewas dibunuh right-wing radicals. Minoritas Yahudi dinilai sebagai penyebab kekalahan Jerman di Perang Dunia 1.
Tahun 1933, ada sekitar 600,000 Yahudi di Jerman. Mereka sudah 2 ribu tahun hidup di sana. Umumnya, mereka tinggal di kota. Sukses berbisnis dan berstatus sosial tinggi (especially medicine and law). Mereka telah terintegrasi secara budaya. Namun mereka belum fully accepted as social equals in German society. Hermann Ahlwardt, dalam pidatonya di Reichstag, menyatakan, “The Jew is no German”.
Beruntung, Ahok keburu tumbang sebelum bertransformasi menjadi Walter Rathenau.
Sekarang, Pekerjaan Rumah Tionghoa tinggal bagaimana menghapus disparitas ekonomi sosial dan menjadikan pribumi sebagai tuan di negeri sendiri. Saya yakin, Andrie Wongso punya blue-print untuk itu.
THE END






