Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatu
Kepada yang Saya Hormati
Ibu Rifda
Surat ini saya tulis di tengah lahan tidur yang saat ini sedang saya kelola agar bisa menjadi lahan produktif. Setidaknya, lahan tidur ini bisa menumbuhkan sebiji dua biji padi. Agar dapur istri dan ibu saya bisa tetap ngebul. Sisa berasnya mungkin dilarikan ke dapur Bapak, mungkin ke dapur kawankawan akademisi lainnya. Atau janganjangan menclok di meja makan tetangga di negara tetangga.
Perkenalkan saya Acep, petani penggarap lahan tidur. Saya tak punya lahan tapi saya bisa bercocoktanam, berkebun, dan bertani. Sejak tahun 1982 saya menjadi cucu petani sekaligus anak petani, kini saya pun bekerja dan berKTP sebagai petani.
Apa yang saya lakukan di dunia pertanian ini? Apa yang telah saya berikan untuk Indonesia dan petani Indonesia? Saya tak tahu, saya hanya tahu bahwa saya hanya harus terus menyiangi lahan dengan arit dan parang, dengan cangkul dan garpu, dengan dengkul dan tangan. Terus bekerja, itu saja. Terus berpenghasilan, itu saja.
Saya hanya tahu untuk terus bekerja, bertani walau semuanya manual, tanpa alsintan, apalagi mekanisasi pertanian. Saya dengar di luar sana ada lembaga pendidikan yang punya departemen mekanisasi pertanian. Tapi entahlah kenapa untuk sekadar alsintan sederhana seperti mesin potong rumput saja masih di dominasi alsintan dari negeri orang. Manual itu asyik bu, Ibu tahu kenapa? Karena institusi dan akademisinya masih asyik di atas kertas, masih gagal fokus karena membidiknya jabatan dan kekuasaan, bukan tindakan. Itu sebabnya -salah satu sebabnya- mekanisasi pertanian di negeri kita, tertinggal. Jauh tertinggal.
Saya harap Ibu dan kawan kawan IPB bisa membuatkan alsintan sederhana ini (mesin potong rumput) yang bisa didapatkan petani dengan mudah dan terjangkau. Karena harga alsintan Honda dan Taso masih bertengger di atas angka 1 juta. Coba Ibu bayangkan bila ada mesin potong rumput lokal yang tangguh dan harganya 500 ribuan. Ke mana produk anak bangsa?

Jelang musim hujan ini, saya sudah mengayun cangkul sejak sekarang, membajak ladang, lagilagi pakai tangan, pakai dengkul. Nanti setelah hujan turun, setelah ladang saya menampung banyak air hujan, barulah saya panggil traktor tua untuk membajak lahan. Traktor miliknya Pak Haji, bukan milik institusi pemerintah, apalagi bantuan dari lembaga pendidikan. Saya sewa dengan harga 800.000/hektar, tidak termasuk ongkos makan dan rokok operator.
Tadi jam 5.30 pagi, dalam perjalanan dari rumah menuju ladang yang memakan waktu satu jam. Saya tak berhasil menyelesaikan sebuah pertanyaan, “Kenapa produk alsintan negeri orang masih juara di negara saya, ke mana produk anak bangsa, mana produk lokal Indonesia?” Entahlah, entah ke mana. Mungkin masih di sana, masih terjebak dalam sengkarut ambisi untuk menjadi berkuasa. Dan lupa jalan lain tentang bagaimana membangun dunia tani dan petani yang sejahtera.
Lahan tidur yang saya kelola ini bu, mulanya dikuasai swasta, petani dilarang menanam apapun kecuali padi dan palawija. Kini lahan ini telah dikembalikan pada negara dan petani dipersilakan mengelolanya untuk bercocok tanam apa saja.
Semua itu terjadi tahun-tahun ini di era Pak Jokowi, era Mentan Amran Sulaiman. Kini mengakses lahan menjadi lebih mudah, petani miskin yang hanya punya cangkul kini bisa kembali berkebun, bertani, mengelola lahan tidur di mana saja. Mungkin ini sekadar kebetulan. Entahlah.
Untuk sekadar membuat kebijakan yang menguntungkan petani, rasanya tak perlu menunggu jadi menteri, tak perlu nunggu punya jabatan. Coba Ibu ngobrol sama anak-anak ormas/lsm mereka jago-jago dalam hal mendorong pemerintah membuat kebijakan/peraturan baru yang lebih menguntungkan rakyat. Andai Ibu dan kawan kawan IPB yang Ibu banggakan bisa. Ah… Seandainya bisa. Mungkin sudah banyak produk hukum yang menguntungkan petani Indonesia.
Tapi sayang, di negeri ini masih banyak orang yang berpikir terjunam. Ya, terjunam, maksutnya mau berbuat baik bila sudah mendapat jabatan. Aih… Betapa malang.
Oh ya Bu. Taukah Ibu berapa banyak BUMN dan berapa banyak petani di BUMN? TAK ADA. Tapi meskipun demikian, meskipun tak satupun dari petani yang punya jabatan percaya sajalah, petani akan selalu berada di barisan terdepan pembela Indonesia. Mereka adalah patriot, nasionalis, pahlawan yang terus berjuang sampai daki mengubur sekujur badan.
Saya kira, tulisan saya ini sebentar lagi harus diselesaikan, hari sudah sangat sore, saya harus lekas pulang menuju rumah yang jaraknya sejam perjalanan. Semoga ke depannya Ibu dan kawan kawan IPB bisa menjadi insan cendikia penyelamat petani Indonesia yang tulus, tanpa menunggu berkuasa. Tulus berjuang di jalan yang berbeda, tulus mencintai petani Indonesia. Amin YRA.
Salam.
Acep Kamal
Petani Penggarap.Laham Tidur






