Oleh : Yahandra Muslimin (Mantan Presiden Mahasiswa BEM-UNSA dan Ketua Umum HMI)
Sumbawa Besar – Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, salah satunya hasil tambang (batubara, minyak bumi, gas alam dan timah). Di era globalisasi ini, setiap negara membangun perekonomiannya melalui kegiatan industri dengan mengolah sumber daya alam yang ada di negaranya. Hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan negara lain dan memajukan perekonomiannya. Oleh karena itu, banyak perusahaan dari sektor privat maupun sektor swasta yang mengolah hasil tambang untuk diproduksi.
Munculnya industri-industri pertambangan di Indonesia mempunyai dampak positif dan dampak negatif bagi masyarakat dan negara. Dampak positif adanya industri pertambangan antara lain menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, hasil produksi tambang dapat digunakan untuk memenuhi permintaan pasar domestik maupun pasar internasional, sehingga hasil ekspor tambang tersebut dapat meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi negara. Industri pertambangan juga dapat menarik investasi asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Dari sisi lain, industri pertambangan juga mempunyai dampak negatif, yaitu kerusakan lingkungan. Wilayah yang menjadi area pertambangan akan terkikis, sehingga dapat menyebabkan erosi. Limbah hasil pengolahan tambang juga dapat mencemari lingkungan.
Sumbawa Dan Pertambangan
Kabupaten Sumbawa adalah salah satu daerah dari tujuh Kabupaten/Kota yang berada diwilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat, secara geografis terletak pada posisi 116 “42’ sampai dengan 118” 22’ Bujur Timur dan 8’ 8’ sampai dengan 9’ 7’ Lintang Selatan serta memiliki luas wilayah 11.556,44 Km2 mencakup Luas daratan 6.643,98 Km2, Luas perairan: 4.912,46 Km2. Daerah Kabupaten Sumbawa merupakan daerah yang beriklim tropis yang dipengaruhi oleh musim hujan dan musim kemarau.
Sebagai hasil proses geologi yang terus berlanjut di berbagai lokasi di Kabupaten Sumbawa, telah dihasilkan berbagai jenis bahan galian, diantaranya: emas, perak, tembaga, tima, seng, pasir besi, gypsum, fosfat, krisopras, batu silika, kalsedon, oniks, kaolin dengan persediaan yang cukup banyak, namun masih dalam proses pendataan(data dari pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa).
Sumbawa mencari incaran investor pertambangan ini dibuktikan kurun waktu 10 tahun terakhir kalau saya tidak salah sebut ada 24 ijin KP dan 2 PT saat ini sudah memegang IUP dalam masa pra konstruksi yakni PT intam dengan HPL mencapai 18.500 Ha dan PT SJR dengan HPL mencapai 8,687 Ha semuanya dikecamatan Ropang.
Alam Ropang-Lantung jantung mata air embung batu-bulan
Bicara pertambangan tentu menjadi sangat seksi dimata masyarakat karena isu Lingkungan dan lapangan pekerjaan menjadi bahan diskusi semua kalangan. Tapi kali ini saya mengajak sahabat focus tentang alam pegunungan ropang-lantung yang tidak lepas dari eksistensi sumber penghidupan utama masyratakat moyo hilir dan moyo utara. Pertanyaan selalu muncul kenapa bisa ? tentu jawabannya bisa!, simulasinya seperti ini irigasi persawahan moyo hilir dan moyo utara disuplai dari embung batu bulan sementara embung batu bulan bergantung pada 3 aliran utama yakni sungai Lito,batu tering dan sebasang. Dua aliran utama yang berdampak besar menjaga stabilitas air embung batu bulan bergantung terhadap keberadaan alam pegunungan lantung-ropang. Saya tidak mengatakan bahwa akibat praktek pertambangan pada tahapan pra konstruksi dan sedang melakukan penebangan pohon diareal ropang-lantung mengakibatkan terendamnya kecamatan moyo hilir dan moyo utara selama 5 hari 5 malam tidak pernah terjadi selama ini, tapi kami bisa memastikan berkurangnya daya serap air karena adanya penebangan akan mengakibatkan air meluap dan lonsor.
Kami berharap pemerintah daerah memperhatikan keberadaan investasi pertambangan dikabupaten Sumbawa, tujuan mensejahterakan rakyat dan membuka peluang kerja akan berbanding terbalik karena hanya akan menyisahkan duka dan air mata yang berkepanjangan.






