MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta – Saat ini, berbagai masalah kesehatan reproduksi merupakan ancaman bagi remaja. Salah satunya pernikahan pada usia dini, karena memiliki dampak terhadap kesehatan reproduksi.
Tentang hal ini, Deputi Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Rizal Damanik menegaskan untuk mencegah risiko terhadap kesehatan reproduksi, peran pemuda sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan. Karena itu, pemuda harus dibekali semaksimal mungkin dengan pengetahuan kesehatan reproduksi.
“Remaja memerlukan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi untuk mencegah risiko terhadap kesehatan reproduksi,” demikian tegas Rizal usai memberikan sambutan dalam Pelaksanaan Desiminasi Hasil Penelitian Tahun 2016 dan Penyajian Draf Penelitian tahun 2017 di BKKBN Sumbar di Padang, kemarin Jumat (8/12/2017).
Pria yang juga sebagai pengajar di Departemen Ilmu Gizi IPB itu menjelaskan kemajuan teknologi saat ini yang sangat hebat merupakan sarana bagi pemuda sehingga dapat dengan mudah mengakses semua informasi mengenai kesehatan reproduksi. Pemuda dengan sebaik-baiknya bisa menambah pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi itu.
“Pengetahuan kesehatan reproduksi itu seperti bahaynya berhubungan badan pra-nikah, serta tertular dengan berbagai penyakit yang tak bisa dideteksi. Inilah pentingnya pengetahuan bagai pemuda,” jelasnya.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Padang menyatakan pernikahan pada usia dini saat ini seperti fenomena gunung es. Kasus yang ditemukan lebih sedikit dibandingkan fakta yang terjadi.
“Perrnikahan pada usia dini dapat mengakibatkan berbagai dampak kesehatan terutama bagi ibu dan bayi,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Padang, Depitra Wiguna.
Menurutnya, pada usia tersebut, fungsi organ reproduksi belum matang. Dampak negatifnya yakni memiliki risiko tinggi bagi ibu yang hamil dan melahirkan pada usia itu.
“Seperti terjadinya pendarahan dan keguguran,” pungkasnya. (myw)





