• Redaksi
  • Kode Etik
Media Harapan
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
Media Harapan
No Result
View All Result
Home Khazanah Focus

Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Sayuran di Lahan Rawa

by Deni Rusdiana
4 February 2019 00:56
in Focus
0
0
SHARES
222
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare to Whatsapp

Tahun ini Kementerian Pertanian mulai menggalakkan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi) di enam provinsi, salah satunya Provinsi Kalimantan Selatan. Program ini sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa lahan rawa adalah solusi pangan nasional.

“Karena itu, kita harus garap lahan rawa, tanami padi, sayuran, itik, dan ikan untuk sejahterakan petani. Pembangunan hortikultura tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Jawa.” jelas Amran. Maksudnya adalah pembangunan hortikultura khususnya bawang merah dan cabai di setiap pulau bisa mandiri.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura melalui Program Pengembangan Kawasan Aneka Cabai dan Bawang Merah gencar menumbuhkan sentra baru di seluruh Indonesia, termasuk di lahan rawa Kalimantan Selatan. Kebutuhan bawang merah yang selama ini didatangkan dari Pulau Jawa , NTB dan Sulawesi Selatan mulai didorong untuk diproduksi sendiri.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi, menyatakan pihaknya akan terus mendorong petani luar Jawa untuk terus menanam. Asosiasi bawang merah juga diminta memperluas akses pemasaran salah satunya dengan ekspor.

Suwandi menambahkan bawang merah varietas Tajuk dan Super Philip yang dihasilkan petani Tapin, meski di lahan bekas rawa, secara spesifikasi memenuhi standard ekspor. “Selain mendapatkan harga yang lebih baik, ekspor bawang merah akan memacu petani memperbaiki cara budidayanya agar produknya bisa bersaing,” ujarnya.

Kalimantan Selatan mulai tumbuh menjadi sentra baru sayuran. Kelompok Tani Ngudi Rahayu Kelurahan Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru yang diketuai Sargim bertanam sayuran di lahan seluas 31 hektar.

Pada umumnya petani setempat menanam cabai rawit merah dan keriting dengan tomat secara tumpang sari secara terus menerus. Kini mulai menanam bawang merah.

Sargim bersama kelompoknya sudah melakukan tindakan pengendalian OPT secara pre emtif yang diikuti pengendalian secara responsif seperti yang dianjurkan oleh petugas lapang setempat.

“Kenyataannya hasil panen cabai setengah ton per minggu dari KT Ngudi Rahayu dapat mencukupi kebutuhan masyarakat setempat bahkan sebagian dipasarkan ke Banjarmasin,” ungkap Sargim.

Surono, anggota kelompok tani Ngudi Rahayu mengatakan bahwa ia sudah mulai menanam bawang merah di lahan seluas 1000 m2 dengan bibit 35 kg varietas Super Philip dari Probolinggo.

“Saya baru saja panen sebanyak 3 kuintal bulan Desember lalu. Hal ini menambah keyakinan menanam hortikultura khususnya cabai dan bawang merah cukup menguntungkan untuk menambah penghasilan.

Kasubdit Pengendalian OPT Sayuran dan Biofarmaka, Nadra Illiyana menjelaskan bahwa serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat menurunkan hasil dan kualitas produksi pertanian. “Penggunaan pestisida kimia yang tidak tepat akan berdampak terganggunya ekosistem, akibatnya terdapat residu pestisida pada produk yang dikonsumsi,” jelasnya.

Sementara itu kendala saat tingginya curah hujan adalah serangan patogen penyakit. Dijelaskan pula pada musim hujan bisa terus berbudidaya bawang merah yaitu dengan inovasi teknologi menggunakan metode sungkup plastik atau yang dikenal dengan rain shelter di samping melakukan pengendalian OPT ramah lingkungan.

Produksi yang terjaga dapat menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT, sehingga mutu hasil terjamin, daya saing yang tinggi dan aman dikonsumsi. Diharapkan ke depan petani Kalsel dapat mencukupi kebutuhan pasarnya sendiri, sehingga sayuran seperti cabai, tomat dan bawang merah tak perlu lagi didatangkan dari luar.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, dalam kesempatan terpisah menyatakan, “Kementan meminta kepada semua BPTPH untuk mengawal petani melaksanakan pengendalian OPT secara pre emtif dengan memanfaatkan bahan pengendali OPT ramah lingkungan yang sudah banyak dihasilkan oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) serta memonitor secara intensif pertanaman hortikultura. Sehingga gangguan OPT tidak mengganggu produksi dan mutu produk hortikultura”.

Ditjen Hortikultura mendorong petani menerapkan budidaya ramah lingkungan, dengan mengaplikasikan lebih banyak bahan organik dan bahan pengendali biologi, mulai dari persiapan lahan, pemeliharaan, sampai pasca panen.

“Semoga dengan kegigihan petani sayuran di lahan rawa, dapat menghasilkan sayuran yang sehat dan aman konsumsi serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka,” ujarnya mengakhiri.

[Budi*]

Comments

comments

Previous Post

Durian Pandeglang Rasanya Menggoda, Kementan Optimis Ekspor Semakin Naik

Next Post

Kementan Canangkan Gerakan Gemar Tanam dan Mengonsumsi Buah dan Sayuran Lokal

Deni Rusdiana

Next Post

Kementan Canangkan Gerakan Gemar Tanam dan Mengonsumsi Buah dan Sayuran Lokal

BERITA POPULER

No Content Available

BERITA TERBARU

Khalifah Aliftariski Aprian, Atlet Silat Belia Bengkulu Raih Medali Emas International

Khalifah Aliftariski Aprian, Atlet Silat Belia Bengkulu Raih Medali Emas International

18 September 2026 15:40
Pameran Kaligrafi Internasional 2026 Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara

Pameran Kaligrafi Internasional 2026 Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara

18 September 2026 14:54
Industri Kosmetik Didorong Siap Hadapi Regulasi BPOM dan Halal

Industri Kosmetik Didorong Siap Hadapi Regulasi BPOM dan Halal

18 September 2026 14:47
Katarak: Kenali Gejala, Penyebab Katarak, dan Operasi Katarak

Katarak: Kenali Gejala, Penyebab Katarak, dan Operasi Katarak

18 September 2026 14:37

Follow Us

Media Harapan merupakan web portal berita berbasiskan citizen jurnalism yang menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Semua materi dalam situs mediaharapan.com boleh di copy guna keperluan pengembangan pengetahuan dan wawasan masyarakat khususnya peningkatan inteligensi pemuda-pemudi Indonesia dan referensi non komersil dengan mencantumkan mediaharapan.com sebagai sumbernya. Semua masyarakat khususnya pemuda-pemudi Indonesia dapat berpartisipasi sebagai citizen jurnalism dengan mengirimkan rilis, informasi, berita, artikel, opini atau foto untuk dipublikasikan melalui alamat email Redaksi.

Recent News

Khalifah Aliftariski Aprian, Atlet Silat Belia Bengkulu Raih Medali Emas International

Khalifah Aliftariski Aprian, Atlet Silat Belia Bengkulu Raih Medali Emas International

18 September 2026 15:40
Pameran Kaligrafi Internasional 2026 Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara

Pameran Kaligrafi Internasional 2026 Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara

18 September 2026 14:54
  • Redaksi
  • Kode Etik

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia