Jakarta, (mediaharapan.com)— Konflik bersenjata di berbagai belahan dunia dinilai tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik dan ekonomi global. Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran sekaligus Direktur SMART 171, Dr. Maimon Herawati, menyebut bahwa sejumlah konflik internasional menunjukkan pola yang sama. Ada peningkatan kejahatan perang dan itu menguntungkan aktor tertentu di tingkat global.
Dalam diskusi daring SMART CLASS bertajuk “Konflik Dunia, Siapa Diuntungkan?”, Dr. Maimon menyoroti konflik di Iran, Venezuela, Suriah, dan Palestina sebagai contoh bagaimana perang dan instabilitas sering kali berkelindan dengan kepentingan strategis Israel dan jaringan Zionis internasional.
“Pertanyaan paling mendasar dalam setiap konflik bukan hanya siapa yang bertikai, tetapi siapa yang diuntungkan,” ujarnya. Ia menilai bahwa wacana rekonstruksi Gaza pun tak lepas dari kepentingan politik dan ekonomi yang menyertai konflik berkepanjangan di Palestina.
Ia juga mengkritisi sejumlah kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada era Donald Trump, termasuk pengakuan sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel, klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan, serta penghentian pendanaan untuk UNRWA. Kebijakan tersebut, menurutnya, lebih mencerminkan tekanan kelompok pro-Zionis dibandingkan kepentingan publik Amerika secara luas.
Dr. Maimon kemudian menyoroti Venezuela, disebut sebagai contoh negara yang secara terbuka menentang kebijakan Israel. Negara tersebut memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel pada 2009 dan menjadi negara pertama di kawasan Amerika yang mengakui Palestina sebagai negara berdaulat pada 2005, serta aktif mendorong pengakuan Palestina di PBB. Di waktu lain, Amerika serang Venezuela.
Lebih jauh, Palestina dinilai telah menjadi “laboratorium” bagi pelemahan hukum internasional. Normalisasi pelanggaran hak asasi manusia dan perampasan wilayah di Palestina, kata Dr. Maimon, berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi konflik teritorial di kawasan lain dunia.
Ia juga menyoroti konstruksi narasi kemanusiaan yang timpang dalam konflik Palestina-Israel. “Israel kerap diposisikan sebagai satu-satunya korban, sementara kejahatan perang terhadap sipil Palestina dianggap wajar,” ujarnya. Pandangan sebagian masyarakat Israel yang menganggap warga Palestina tidak setara secara kemanusiaan disebut sebagai akar kekerasan struktural yang terus berulang.
Diskusi tersebut juga menyinggung pengaruh kelompok Zionis dalam politik global, khususnya di Amerika Serikat, melalui jejaring organisasi dan lobi yag dinilai mampu memengaruhi kebijakan luar negeri hingga dinamika pemilu.
Diskusi ini diselenggarakan oleh SMART171 dan diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. []










