MEDIAHARAPAN.COM, Ambon,- Pengamat sosial politik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon Maruf Mony mengatakan aktivis kampus generasi milenial mengalami kompleksitas problem atau masalah. Kendati demikian, hal tersebut tidak seharusnya mengendurkan kewajiban mereka untuk tetap memperkuat tradisi intelektual.
Mony menjelaskan, kompleksitas aktivis generasi milenial lantaran sekarang ini mereka berada era disrupsi, yang memuat mereka kebanjiran informasi yang tidak sepenuh nya valid atau benar. Kondisi itu membuat aktivis generasi milenial berada pada situasi minim budaya ontologis.
“Sangat jarang saya menemukan generasi milenial mampu mengurai problem sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan secara utuh. Itu artinya mereka terjerat pada situasi minim budaya ontologis,” kata Mony melalui keterangan tertulisnya kepada Media Harapan-Maluku (13/11).
Selain itu, ia juga menyarankan aktivis kampus era milenial peduli sesama karena dengan budaya tersebut akan terbentuk nalar kritik yang konstruktif dalam bentuk pemikiran kritis yang kuat. “Budayakan critical thinking atau berpikir kritis, karena ini adalah modal penting generasi milenial untuk memiliki kemampuan adaptasi dan inovasi untuk menjawab tantangan zamannya,” ujar dia.
Selanjutnya Maruf Mony menjelaskan aktivis mahasiswa milenial perlu bersinergi berjejaring atau berkolaborasi dengan berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat. Itu artinya, aktivis mahasiswa milenial perlu memiliki kesadaran kuat untuk menghargai keragaman.
Ia juga menambahkan, aktivis mahasiswa milenial dalam melakukan gerakan harus dibingkai dalam kerangka mengutamakan national interest (kepentingan nasional). Kepentingan nasional harus diutamakan, diantanya adalah dengan memajukan daerah masing-masing, untuk tampil unggul.
“Selain kepentingan daerah berbasis lokal yang perlu mendapat prioritas, aktivis mahasiswa milenial wajib memiliki tradisi spritual yang baik, serta memiliki tradisi kepekaan sosial yang tinggi. Sebab, tradisi kepekaan sosial itu melatih mereka untuk responsif terhadap berbagai persoalan sosial disekitarnya”, pungkasnya.
Penulis : Risman Belasa
Editor : Wiwin Soulissa











