Budidaya Cabai Ramah Lingkungan Menekan Biaya Produksi dan Menguntungkan Petani

Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan merupakan salah satu sentra produksi sayuran di Provinsi Sumatera Selatan. Sentra produksi tersebut tersebar di beberapa kecamatan antara lain Pulau Beringin, Sungai Are, Sindang Danau dan Warkuk Ranau Selatan.

Berdasarkan data Ditjen Hortikultura, produksi cabai di wilayah ini pada 2018 sebesar 8096 ton. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sejumlah 3420 ton.

Tardi, Kabid Hortikultura Kabupaten OKU Selatan mengatakan, “Kecamatan Pulau Beringin adalah sentra utama cabai di OKU Selatan. Daerah ini merupakan kawasan cabai dengan sentra utamanya yaitu Desa Tanjung Kari, Desa Simpang Pancur, Desa Tanjung Bulan dan Desa Aromantai. Salah satu kelompok tani di daerah ini menerima bantuan kawasan pengembangan cabai melalui dana APBN 2018 seluas 5 hektare.”

Salah satu hal yang ditakutkan petani karena dapat menurunkan produksi yakni serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan). Jenis OPT yang sering menyerang cabai di daerah ini adalah trips, kutu kebul, lalat buah dan antraknosa. Namun demikian serangannya masih tergolong wajar dan dapat ditangani.

“Pengendalian OPT ramah lingkungan (RAMLI) sudah disosialisasikan disini. Salah satu kegiatannya adalah memperkenalkan cara pembuatan Trichoderma, PGPR, perangkap likat kuning dan perangkap lalat buah,” ujar Yosi Utami, Kasi Perlindungan Tanaman Hortikultura BPTPH Sumsel.

Kelompok Tani Tebet Gayat, Desa Tanjung Bulan Ulu, Kecamatan Pulau Beringin merupakan salah satu kelompok yang sudah mendapatkan pelatihan penerapan pengendalian OPT ramah lingkungan. Cabai yang diusahakan petani adalah cabai keriting dengan varietas Rimbun dan Priyayi. “Panen cabai bisa dilakukan sampai 16 kali. Harga cabai saat ini relatif stabil dan masih menguntungkan,” tutur Yohan, anggota kelompok tani.

Enung Hartati Suwarno, Kasi Sarana Pengendalian OPT Sayuran dan Tanaman Obat saat kunjungannya menghimbau petani untuk menggunakan sarana pengendalian OPT ramah lingkungan, karena banyak keuntungannya. “Mengurangi biaya pestisida kimia yang mahal, petani sehat, cabai yang dihasilkan aman konsumsi dan kelestarian lingkungan terjaga.”

Ditanyakan mengenai dukungan Ditjen Hortikultura, Enung menyatakan, “Dukungan anggaran untuk pengendalian OPT tahun ini sama seperti tahun lalu, yakni bantuan kawasan pengembangan cabai melalui dana APBN 2019 seluas 5 hektare,” lanjutnya.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian tidak pernah bosan mengajak petani untuk berbudidaya hortikultura ramah lingkungan.

“Penggunaan pestisida kimia adalah pilihan terakhir dalam pengendalian OPT. Dalam penggunaannya harus perhatikan 6 prinsip yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi serta cara penggunaannya. Prinsip tersebut dilakukan agar hasil yang diperoleh efektif,” tutupnya.

[Budi*]

Comments

comments