MEDIAHARAPAN.COM -Amerika Serikat pada hari Rabu (8/3), mengatakan, “semua pilihan berada di atas meja” untuk membuat kesepakatan dengan Korea Utara dan mengabaikan sugesti “dual suspensi” China yaitu latihan militer AS -Korea Selatan versus rudal dan nuklir tes Korut.
“Kita tidak berurusan dengan orang yang rasional,” kata Duta AS untuk PBB, Nikki Haley, menyikapi pemimpin Korea Utara Kim Jong Un setelah Dewan keamanan PBB membahas peluncuran empat rudal balistik Korea Utara pada hari Senin lalu.
“Ini tidak bisa dipercaya, tidak bertanggung jawab, arogansi yang kita lihat keluar dari Kim Jong Un saat ini,” kata Haley.
Menurutnya, Pemerintahan Presiden Donald Trump akan mengevaluasi ulang bagaimana akan menangani Korea Utara dan menyatakan bahwa, semua opsi di atas meja.
“Kami akan membuat keputusan sekarang dan kami akan bertindak sesuai kesepakatan.” Katanya menambahkan.
Korea Utara menembakkan rudal dari pantainya ke laut Jepang menanggapi latihan tahunan AS-Korea Selatan yang Pyongyang lihat sebagai persiapan untuk perang.
Sejauh ini Pyongyang telah meluncurkan puluhan rudal dan melakukan sedikitnya lima kali uji coba nuklir sehingga melanggar ketetapan Dewan Keamanan PBB.
Dalam sebuah pernyataan dikirim ke Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada hari Rabu, Kementerian Luar Negeri Korea Utara memperingatkan bahwa, tindakan yang diambil tersebut akan mengurangi agresi dan provokasi menjadi abu dengan roket Hwasong tak terkalahkan yang dipasangi dengan hulu ledak nuklir dan handal mempertahankan keamanan negara dan kebahagiaan masyarakat. Dalam kasus AS dan negara boneka Korea Selatan, Korut mengancam akan meluncurkan nuklirnya meskipun AS dan Korsel hanya menembakan satu butur peluru di wilayah negara DPRK.
Menteri luar negeri China Wang Yi, Rabu mengatakan bahwa tes oleh Utara dan bersama latihan AS-Korsel di Seberang perbatasan di Korea Selatan menyebabkan ketegangan meningkat seperti dua kereta berkecepatan tinggi berjalan dari dua arah yang berlawanan satu sama lain. Menggambarkan “dual suspensi” sehingga kedua pihak diharapkan kembali ke meja perundingan. (MH029)






