Hukum Kurban dalam Islam

Oleh : Aprianif, Lc. MA
Dosen Islamic Village dan Founder Madrasah Ruhani

MEDIAHARAPAN.COM Jakarta
Kurban secara bahasa berasal dari bahasa Arab (قربان), yang artinya adalah dekat. Dalam Islam ia disebut juga dengan al-Udhhiyyah yang artinya adalah menyembelih hewan sembelihan (unta, sapi, dan kambing) pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Dalam madzhab Hanafi, kurban ini hukumnya adalah wajib. Kewajibannya dibebankan kepada muslim yang merdeka, muqim dan mampu. Karena itu jika ada seorang muslim, mampu, merdeka dan bukan sedang safar, maka ia berdosa jika ia tidak berkurban.
Alasannya adalah perintah Allah Swt dalam surat al-Kautsar ayat kedua, yang ditafsiri oleh banyak ulama bahwa itu adalah perintah salat Idul Adha dan kurban. Karenanya, dalam madzhab ini yang wajib bukan hanya berkurban, tetapi juga salat Idul Adha. Terlebih lagi ada hadits dari Nabi Saw yang menolak siapapun mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan harta untuk masuk ke tempat salat beliau jika ia tidak mau berkurban di hari raya Idul Adha.
Rasulullah Saw Bersabda:
من وجد سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا
“Barang siapa yang memiliki kelapangan Rezki namun tidak berkurban, maka jangan mendekati tempat salat kami”
Hadits ini memang masih diperdebatkan keshahihannya, tetapi setidaknya ia menyiratkan betapa tercelanya orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban.
Selanjutnya perlu diketahui juga bahwa walaupun dalam madzhab Hanafi hukum berkurban ini adalah wajib, tetapi wajib bukanlah keharusan tertingggi dalam mazdhab ini. Hukum taklif dalam madzhab ini berbeda dengan kebanyakan madzhab lainnya. Hukum taklif dalam mazdhab ini ada 7: Fardhu, Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh Tanzih, Makruh Tahrim dan Haram. Jadi diatas wajib masih ada fardhu.
Sedangkan dalam madzhab Syafi’i, ia punya penjelasan berbeda soal hukum kurban. Mazdhab Syafi’i membagi antara hukum personal dan keluarga. Secara umum, hukum kurban adalah sunnah muakkadah, bagi tiap personal muslim. Bukan kewajiban. Karena dalam hadits, Nabi Saw pernah menyatakan bahwa sesiapa yang ingin berkurban, maka jangan potong kuku dan rambutnya jika sudah masuk bulan Dzulhijjah sampai ia menyembelih. Kalau memang wajib dan harus, mestinya Nabi Saw tidak memberikan opsi “siapa yang ingin”, lansung saja “Jangan potong kuku dan dan rambut kalau sudah masuk bulan Dzulhijjah sampai menyembelih”. Karena memang semuanya harus berkurban. Tetapi dalam hadits ini justru ada opsi “bagi yang ingin”. Itu secara personal. Berbeda jika ia sudah berkeluarga. Dalam madzhab Syafi’i bagi yang sudah berkeluarga hukum kurban adalah Sunnah Kifayah. Jika dalam keluarga ada 5 orang misalnya, ada Suami, Istri dan 3 orang anak. Maka bagi 5 orang tersebut cukup satu ekor kurban atas nama salah satunya, bukan atas nama semuanya.
Sunnah Kifayah ini sama seperti fardhu Kifayah. Salat Jenazah contohnya, hukumnya adalah fardhu kifayah. Misalnya dalam satu kampung ada 200 orang mukallaf, lalu meninggal salah satunya. Maka 199 orang sisanya wajib untuk melaksanakan salat jenazah dan mereka semua berdosa jika tidak ada satupun dari mereka yang mensalatinya. Jika ada yang mensalatinya walaupun satu orang, maka sisanya terbebas dari dosa. Begitu juga kurban dalam keluarga. Sejatinya kemakruhan menimpa seluruh personal dalam keluarga tersebut sampai ada diantara mereka yang melaksanakan ibadah kurban.
Dalil yang dipakai oleh madzhab Syafi’i ini adalah tentang kurban Nabi Saw yang 2 ekor kambing yang salah satunya adalah untuknya dan keluarganya. Mereka tidak memahami bahwa satu kambing untuk beramai-ramai. Satu kambing hanya boleh untuk satu orang, sedangkan hewan yang boleh dikongsi hanyalah sapi dan unta yang maksimalnya sampai 7 orang.
Lain dengan mazdhab Syafi’i, lain pula mazdhab Maliki. Madzhab Maliki memang punya kemiripan dengan mazdhab Syafi’i dalam hukum kurban , tetapi ia juga punya beberapa perbedaan. Bagi mereka satu hewan kurban harus hanya untuk satu orang, apapun hewannya, baik itu kambing, sapi ataupun unta. Tidak boleh ada kongsi biaya dalam setiap hewan kurban, tetapi mereka membolehkan kongsi pahala. Satu ekor hanya untuk satu orang, tetapi satu orang tersebut boleh menshare pahalanya kepada siapapun yang ia mau dari keluarganya. Itu yang mereka pahami dari hadits Nabi Saw yang berkurban untuk dia dan keluarganya. Madzhab ini menyebut bahwa kambing atau hewan kurban itu hanya atas nama satu orang, tetapi pahalanya bisa dikongsi kepada keluarga pekurban selama masih dalam satu keluarga.
Selanjutnya berbicara tentang kategori mampu. Dalam mazdhab Hanafi seseorang dikategorikan mampu untuk berkurban adalah ketika ia yang mempunyai kelebihan harta sebanyak 20 Dinar. Sedangkan dalam beberapa literasi mazdhab Maliki standarnya adalah 30 Dinar.
20 atau 30 Dinar adalah harta lebih, alias tidak terpakai atau nganggur. Bukan rumah, bukan kendaraan, bukan perabotan, bukan juga dagangan, itu semua tidak terhitung. 20 atau 30 dinar adalah harta yang memang disimpan sedangkan kebutuhannya sudah terpenuhi semua. 20 atau 30 dinar itu memang kelebihan.
Dalam madzhab Hanafi, orang yang punya kelebihan harta 20 dinar, wajib berkurban. Jika tidak berkurban, maka berdosa. Kalau 1 Dinar saat ini senilai 2 juta rupiah lebih, maka tinggal dikalikan saja 20 atau 30 dinar. Itu standar dalam mazdhab Hanafi dan Maliki.
Sedangkan standar mampu dalam madzhab Syafi’i itu tidak dihitung dengan nominal tertentu, tetapi ia dikategorikan mampu ketika ia mempunyai uang yang cukup untuk beli hewan kurban, juga untuk menafkahi keluarganya beserta orang-orang yang ditanggungnya selama hari-hari penyembelihan yaitu 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Katakanlah ada seseorang yang mempunyai uang 6 juta rupiah. Untuk seekor kurban dari jenis kambing, yang sudah memenuhi syarat kurban hanya seharga 3 juta. Kalau dia beli kambing tersebut, maka sisa uangnya 3 juta rupiah, pertanyaannya, apakah sisa uang yang 3 juta rupiah tersebut cukup untuk menafkahi keluarga dan orang yang ditanggungnya?
Andaikan, kebetulan istrinya baru satu dan anak baru 2. Jadi tanggungannya hanya 3 orang, empat dengan dirinya. Dalam sehari, dari mulai makan, kebersihan dan kebutuhan lainnya untuk satu keluarga ini hanya menelan biaya 500 ribu rupiah. Kalau dikalikan 4 hari, menjadi 2 juta rupiah. Artinya uangnya masih berlebih, berarti ia adalah orang yang mampu berkurban.
Maka baginya sunnah berkurban dan sangat dianjurkan sekali, tidak sampai wajib memang karena dalam madzhab ini kurban hukumnya adalah sunnah muakkadah. Kalaupun tidak berkurban, tidak mengapa, tetapi jelas ini tercela dan tertimpa kemakruhan kepadanya dan keluarganya.
Selanjutnya jika ada seseorang mempunyai uang 10 juta rupiah, dia bisa beli kambing 3 juta, sisa uangnya 7 juta rupiah. Tetapi orang yang ditanggungnya banyak. Istri 4, anak dari masing-masing istrinya 2 jadi jumlahnya ada 12 orang. Masing-masing istri punya anak. Selain itu ia juga harus menafkahi orang tuanya yang keduanya sudah uzur, bahkan mertua dari istripun ikut dengannya. Jumlah semua yang dia nafkahi sampai 20 orang termasuk dirinya. Cukupkah 7 juta untuk 20 orang tersebut dalam 4 hari? Jika tidak maka ia tidak sunnah untuk berkurban.

-wallahu a’lam bis shawab-

Comments

comments