Kementan Sukses Sulap Larantuka NTT Jadi Sentra Bawang Merah

MEDIAHARAPAN.COM Larantuka – Sesuai arahan Mentan Amran untuk mendorong percepatan ekonomi masyarakat, maka BPTP Balitbangtan NTT telah mengambil peran dalam mendiseminasi teknologi/inovasi pertanian dengan mengintroduksi budidaya bawang merah di desa Narasaosina dan Kiwang Ona. Larantuka, Jumat, 10/8/18.

Tim Pakar BPTP NTT Dr. Ben Rosari mengatakan, Pertama kali kehadiran BPTP NTT di pulau kecil ini, dia menyebutkan dua kelompok tani masing-masing KT. Talahia di Narasaosina dan KT. Tibo Tawang yang berjumlah 42 orang ini, konsekuen dalam menerapkan inovasi budidaya bawang merah yang dipetkenalkan oleh BPTP NTT.

Waiwerang adalah salah satu tempat di Kecamatan Adonara Timur di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Pulau kecil kering yang letaknya di timur kota Larantuka ini dikenal karena salah satu sumber pertumbuhan daerah ini.

Pulau ini tergolong padat penduduk ini menandakan bahwa ada tersimpan potensi ekonomi di sini termasuk hasil-hasil pertanian.

Walaupun kering, pulau ini sebagai penyedia/produsen kelapa, mete dan asam. Bahkan aneka sayuran dan ubi kayu juga berasal dari daerah ini. Beber Dr. ben

Usaha budidaya bawang merah ini dilaksanakan di akhir Mei 2018 dan saat ini siap panen. “Dianggap luar biasa karena selama ini petani setempat tidak pernah menanam bawang merah alias hanya membeli dari luar”. jelasnya

Dia menambahkan “mereka selama ini mengetahui cara perbanyakan tanaman ini hanya melalui umbi, tetapi dalam binaan dan pendampingannya mereka diperkenalkan dengan teknik budidaya berbasis TTS (True Seed of Shallot) atau perbanyakan tanaman bawang merah asal biji. didetasering selama satu musim tanam di dua desa tersebut.

Oleh sebab itu wajar, jelasnya, bila kehadiran BPTP NTT telah memicu dua rintisan sekaligus, yaitu Mengenalkan budidaya bawang merah dan mengenalkan teknik perbanyakan TSS sekaligus.

Menurut , Dr. Ben de Rosari, penempatan kegiatan diseminasi ini sengaja dilakukan di wilayah ini atas pertimbangan potensi lahan yang luar biasa. dikatakannya bahwa, “walaupun wilayah ini dikenal kering, tapi tanahnya subur yang berbasis volkan, serta tersedianya sumber air dibeberapa tempat”.

Untuk diketahui bahwa, saat ini tanamannya dalam kondisi sehat yang sudah berumur lebih dari dua bulan dan diperkirakan panen akhir Agustus ini. tutur Dr. Ben

“penampilan pertumbuhan tanaman yang meyakinkan ini, tidak saja disenangi oleh para anggota Kelompok tani yang terlibat tetapi masyarakat sekitarnya ikut jatuh cinta dengan usaha budidaya bawang merah”. Ungkap Dr. Ben

ketertarikan pada budi daya bawang merah ini disampaikan ketua kelompok Talahia, Yohanis Kopong dan ketua kelompok Tibo Tawan Antonius Jony Sabon. “kami sepakat akan menanam lagi setelah panen musim ini”. Tegas Yohanis

berkat pendampingan oleh pihak BPTP Kementan ini jelas Yohanis ” sekarang kami punya ilmu dan pemahaman bagaimana mengendalikan tiga penyakit utama bawang merah yang selama ini menjadi momok besar di tempat lain. Pungkasnya

Comments

comments