Penerapan Program Minawisata dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Pesisir di Kabupaten Sula

Oleh: Muin S. IPA, ST*

Konsep yang digunakan untuk mengembangkan Kawasan Pesisir yaitu berbasis minawisata adalah pendekatan pengelolaan terpadu yang berbasis konservasi denganmenitikberatkan pada pengembangan perikanan dan pariwisata bahari (Buklet DKP 2007).

Minawisata juga dapat didefinisikan sebagaipengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah yangberbasis pada pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan danpariwisata secara terintegrasi pada wilayah tertentu. Sehingga wisata minaberbasis perikanan dan kombinasinya dapat berupa pengembangan wisatabudidiaya laut seperti melihat proses budidaya ikan, memberi makan ikan danmemanenikan Atau memancing ikan, wisata edukatif dan wisata kuliner

Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam bisnis perikanan. Sementara menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Oleh karena itu dalam aplikasinya, kegiatan wisata bahari yang memanfaatkan sumber daya ikan dapat dikembangkan ke arah minawisata.

Untuk itu perubahan prilaku masyarakat tentang konsep Kawasan Pesisir berbasis Program MINA WISATA yang menitikberatkan pada pengembangan perikanan dan parawisata bahari merupakan Isu strategis permasalahan yang sering mengemuka terkait pengelola kawasan pesisir yakni kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Isu tersebut berhubungan dengan fungsi ekonomi dimana wilayah pesisir memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan dengan tingkat produktivitas hayati sangat tinggi, dapat dikonversi sebagai pusat kegiatan wisata bahari yang potensial bila dikembangkan sebagai wilayah bisnis yang berbasis sumber daya, selain itu juga dapat dimanfaatkan sebagai wisata edukatif.Adapun fungsi ekologi dimana ekosistem pesisir dan laut pulau-pulau kecil berfungsi sebagai sistem penunjang kehidupan lainnya.

Strategis konsep pengembangan kawasan pesisir dengan minawisata ini termasuk ke dalam beberapa indikator Resilient Development yaitu:
1. Leadership and Strategy
• Partisipasi masyarakat dalam perencanaan minawisata.
• Pembangunan balai pertemuan serbaguna untuk kelompok nelayan sebagai sarana peningkatan keterampilan.

2. Infrastructure and Environment
• Membangun fasilitas untuk mencegah dan menanggulangi dampak buruk dari aktivitas wisata terhadap alam.
• Membangun prasarana untuk menunjang kegiatan minawisata.
• Pendidikan konservasi lingkungan dengan me-redesign tambak agar ramah lingkungan tanpa mengurangi poduktivitas tambak.
• Peningkatan ketahanan lingkungan dari bencana alam seperti banjir dan abrasi dengan perbaikan infrastruktur.

3. Economy and Society
• Pembangunan sarana untuk meningkatkan nilai tambah dengan peningkatan kualitas pembibitan, pengolahan hingga pemasaran.
• Pembangunan sarana minawisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.
• Pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan kelompok UKM pengolahan hasil laut dan tambak.
• Pembangunan sarana pendidikan masyarakat tanggap bencana, terutama rob dan banjir.

Program MINAWISTA sekaligus menjawab ancaman kerentanan pangan serta krisis energi., memperkuat pengelolaan potensi kelautan secara berkelanjutan, produktif, dan berwawasan lingkungan, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam secara efisien melalui kreativitas dan inovatif. Ikan segar yang diperoleh dari laut tidak hanya akan menggunakan dagingnya saja sebagai santapan bahan konsumsi, tetapi juga menghasilkan berbagai produk seperti tepung ikan, minyak ikan, makanan lernak, kulit samak, gelatin, dan kerajinan. Dari produk tersebut dapat dihasilkan produk turunan paling tidak enam jenis yang dapat di lakukan secara inovatif teknologi.

Diharapkan dapat semakin melengkapi konsepsi dan rencana kerja implementasi dalam industrialisasi kelautan dan perikanan, khususnya pada industri perikanan budidaya.Dan peningkatan kapasitas SDM merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan industrialisasi kelautan dan perikanan. Pada prinsipnya yang harus dipegang dan kemudian dioperasionalkan dalam industrialisasi kelautan dan perikanan.Konsep ini selain mampu menciptakan industri kelautan dan perikanan yang ramah lingkungan, juga dapat melipatgandakan pendapatan, menciptakan kesempatan kerja dan menggerakan perekonomian masyarakat sekitar.

Para pemangku kepentingan, baik itu pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi maupun masyarakat mendorong program MINAWISATA karena merupakan program bersinergi dengan pelaksanaan triple track strategy yakni, program pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro-job (perekrutan tenaga kerja), dan pro-environment (pelestarian lingkungan).

Berdasarkan isu strategis diatas, Kabupaten Kepulauan Sula dapat memprogramkan Minawisatasebagai pemanfaatan kawasan wisata dengan pengembangan produksi perikanan untuk mencapai ketertarikan masyarakat pengguna akan pengembangan perikanan pada kawasan wisata tersebut. Dengan kata lain, Program Minawisata adalah pengembangan kegiatan perekonomian masyarakat dan wilayah yang berbasis pada pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan dan pariwisata secara terintegrasi pada wilayah Kabupaten Kepulauan sula. Merupakan bentuk satu program pemberdayaan masyarakat pulau-pulau kecil melalui pendayagunaan potensi sumberdaya perikanan dan pariwisata berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip tersebut yaitu; emisi karbon yang rendah, ramah lingkungan, sesuai daya dukung dan daya tampung, konservasi (penggunaan sumberdaya secara efisien), berbasis sumberdaya lokal dengan pelibatan stakeholders internal dan eksternel.

Dukungan ekologi lingkungan Kabupaten Kepulauan Sula sangat sesuai dengan program MINAWISATA karena memiliki ekosistem pesisir dan laut, pulau-pulau kecil, mangrove dan terumbu karang untuk pengembangan wisata Kerambak Jaring Angkat (KJA), wisata Edukatif dan wisata diving, namun belum tersentuh dengan program MINAWISATA karena prilaku manusia belum terpikirkan manfaatnya dan kebiasaan masih kecenderungan menangkap/memacing ikan, menjaring ikan dan bom ikan.

Rancangan Proyek Perubahan Lokus Pilot Project di Wilayah Kecamatan Sanana Utara Kabupaten Kepulauan Sula yang memiliki sebaran ekosistem laut dan pesisir yang sangat luas, yakni ekosistem mangrove ± 180 Ha dan Terumbu karang ± 1.590 Ha dan pulau-pulau kecil yang berada di sekitar pesisir laut desa Fukweu 4 pulau kecil dan diantaranya tempat wisata pulau kucing. Proyek perubahan ini dibuat sebagai sebuah gagasan dan konsep pengembangan potensi sumberdaya pesisir yang ada di Kabupaten Kepulauan Sula, dengan pendekatan minawisa diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara komperhensif dan mampu menambah income bagi masyarakat dan daerah.

Pulau Kucing yang kini menjadi salah satu obyek wisata di Kepulauan Sula, Maluku Utara, menawarkan beragam aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan.Mulanya pulau ini hanya menjadi tempat pengasingan kucing liar yang ada di desa-desa sekitar. Namun, kini Desa Fukweu pun mengembangkan pulau ini menjadi lokasi wisata. Disamping itu juga, sepanjang pesisir Kabupaten kepulauan sula terdapat lokasi hutan mangrove dan pasir sepanjang pesisir pantai yang belum di kelola dalam bentuk minawisata. Untuk itu melalui proyek perubahan ini, inovasi yang dibuatkan adalah program MINAWISATA sehingga eksistensi lokasi wisata tersebut dapat kembangkan dengan sistem terpadu antara perikanan dan wisata bahari melalui “PENERAPANPROGRAM MINAWISATA PADA KAWASAN MASYARAKAT PESISIR DI KABUPATEN KEPULAUAN SULA” ini dapat terwujud dengan harapan dapat memberikan manfaat peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat pesisir.

Program dan kegiatan proyek perubahan minawisata di Kepulauan Sula yang difokuskan di kawasan wisata mangrove desa Poheya dan Kawasan Wisata Pulau Kucing terdiri dari : kegiatan konsolidasi internal sekaligus pembentukan tim kerja internal. Kegiatan konsultasi dengan mentor, berkonsultasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Sula, berkoordinasi dengan DPRD Kabupaten Kepulauan, KASATPOLAIR, Kepala unit TNI AL Sula, Kepala BAPPEDA, dan OP terkait yang wajib bersinergi dalam rangka mensukseskan proyek perubahan minawisata. Kegiatan ini juga bekerjasama dengan kepala desa dan masyarakat desa Poheya dan desa Fokuweu. Melaksanakan sosialisasi dengan stakeholder tentang priyek perubahan minawisata, sosialisasi kepada masyarakat tentang rencanan program dan implememtasi proyek perubahan minawisata. Sleian itu dilaksanakn pula kegiatan launcing proyek peruahan minawisata di Kabupaten Kepulauan Sula.

Tujaun dari proyek perubahan minawisata ini yakni tujuan jangka pendek : Terlaksananya Proyek Perubahan Penerapan program minawisata dalam rangka peningkatan pendapatan pada kawasan masyarakat pesisir di Kabupate Kepulauan Sula di Desa Poheya dan Desa Fukweu yang selanjutnya dijadikan sebagai pilot project. Tujuan jangka menengah : Terlaksananya Proyek Perubahan Penerapan program minawisata dalam rangka peningkatan pendapatan pada kawasan masyarakat pesisir di Kecamatan Sanana Utara, Kabupate Kepulauan Sula. Tujuan jangka panjang : Terlaksananya Program Proyek Perubahan Penerapan program minawisata dalam rangka peningkatan pendapatan pada kawasan masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Sula.

Manfaat dari Proyek Perubahan Penerapan program minawisata dalam rangka peningkatan pendapatan pada kawasan masyarakat pesisir di Kabupate Kepulauan Sula dapat membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam melestarikan ekosistem pesisir dan laut serta berupaya memanfaatkan sumberdaya pesisir yang ada untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai tujuan dan manfaat tersebut, maka dalam proyek perubahan ini terbangun sinergitas antara sleuruh stakeholder yang secara kelebagaan memiliki pengaruh dan kepentingan dalam pencapaian tujuan proyek perubahan ini. Adapun stakeholder yang dilibatkan dalam proyek perubahan ini adalah Bupati dan Wakil Bupati selaku pengambil kebijakan dan pemegang kekuasaan tertinggi di daerah. DPRD Kabupaten Kepulauan Sula, BAPPEDA, Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Pariwisata, POLAIR, TNI AL, Kepala Desa Poheya, Kepala Desa Fokweu serta seluruh masyarakat di kedua desa tersebut.

Proyek perubahan minawisata ini merupakan sebuah gagasan dan konsep pemanfaat sekalgus pengembangan potensi usmberdaya pesisir dan laut demi kemaslahatan dankesejahteraan masyarakat pesisir. Ikhtiar ini diambil sebagai upaya untuk mengedukasi dan menggerakan masyarakat pesisir dalam memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki. Dua lokasi yang saat ini dijadikan lokus kegiatan merupakan pilot projek, kegiatan yang sama akan dilakukan di desa desa yang lain demi menggerakan perekonomian masyarakat dan mengebangkan potensi pariwisata wilayah pesisir di Kabupaten Kepulauan Sula.

*Penulis adalah Peserta DIKLATPIM III Angkatan XV BPSDM Provinsi Maluku Utara Tahun 2018

Comments

comments