Salah Satu Pemilik Tambang Sungai Bila Tak Terima Disebut Merusak Lingkungan

MEDIAHARAPAN.COM, Sidrap-Protes dan rasa keberatan warga terhadap aktivitas penambangan galian C di sekitar lokasi sungai Bila yang dilakukan sejumlah penambang, mendapat reaksi keras dari kelompok masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Bila.

Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Bila (AMPSB) mendesak aktivitas penambangan di aliran Sungai Bila dihentikan. Hal tersebut disampaikan AMPSB, saat dilaksanakan pertemuan bersama warga, aktivis lingkungan hidup, dan penambang di Kantor Kepala Desa Bila Riase, Jl Poros Barukku, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (29/8/2018).

Pertemuan tersebut dihadiri Kadis Perumahan Rakyat dan Lingkungan Hidup, Sidrap, Hj Aryani, Wakapolres Sidrap, Camat Pitu Riase, Danramil 1420-05, Kasat Intelkam Polres Sidrap, Kapolsek Pitu Riase, Babinsa Desa Bila Riase, kelompok Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan dan Pengelola Tambang yang berjumlah kurang lebih 300 orang serta pihak penambang lainnya.

Hasil pertemuan tersebut mengharapkan pemerintah dan aparat terkait untuk bersikap tegas menutup aktivitas tambang galian C yang di sepanjang jalur sungai Bila demi menjaga kelangsungan hidup generasi yang akan datang serta dan keselamatan masyarakat yang hidup disekitar lokasi.

“Secara umum kami bangga punya potensi alam didesak ini, namun belakangan masalah ini, aktivitas tambang tersebut, disalah gunakan sejumlah pihak yang tidak peduli masalah lingkungan dan seenaknya saja melanggar aturan,” keluh sejumlah warga.

Tetapi insiden kecil sempat terjadi dalam pertemuan tersebut,  Salah Satu Pemilik tambang tak Terima di bilang merusak Lingkungan, Akhirnya Mengamuk dalam forum, dimana di Ketahui bahwa yang mengamuk tersebut ialah Adik dari H.Ucu (Pemilik CV. Ega dan salah satu Anggota APTASI) yg bernama Appe.

Dimana Diketahui dari hasil investigasi Aliansi Masyarakat Peduli Sungai Bila, ternyata banyak menemukan pelanggaran berupa perusakan lingkungan bahkan sampai menghilangkan tanah warga di sekitar sungai akibat pemilik tambang melakukan “Ilegal Mining” atau “Penambangan Liar”.

Inilah yang menjadi keresahan masyarakat Bila selama ini, kata Andi Tenri Sangka SE. Sebagai pelopor sekaligus ketua Aliansi Bahwa ” Penambangan Liar ini sudah menelan korban jiwa, karena sudah beberapa korban meninggal di areal bekas galian tambang secara massif dan tak beraturan tersebut, sehingga membahayakan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar areal penambangan liar tersebut.”

Lanjut Ali Hedar sebagai sekretaris Aliansi mengatakan : ” pemilik tambang harus berhenti dari aktivitasnya, dan seluruh stake holder yang ada harus mengambil sikap yang tegas dan tak boleh lagi ada toleransi, karena warisan untuk anak dan cucu kita kelak, lebih berharga di banding kerakusan penambangan liar saat ini.” Tutupnya

https://www.youtube.com/channel/UCMWI-9Juas1u1s5ITwqQ9QQ

 

 

Comments

comments