Harga minyak menembus level tertinggi sepanjang 2019, sejak selasa (02/04) Brent naik 36 sen, atau 0,52 pesen dari patokan internasional mendekati USD70 per barel. Harga tersebut merupakan level tertinggi sejak pertengahan November, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Selasa (2/4). Suplai dari OPEC yang bermaslah negara venezuela dan sanksi yang luas ke Iran, data PMI Cina terkait manufaktur yang mulai bergerak menjadi penyebab naiknya harga minyak dunia, kata Innes, Kepala Strategi Perdagangan SPI Asset Management
Faktor lain naiknya hagra minyak dunia adalah pasokan dari OPEC yang masih rendah. Timbulnya prospek sanksi lebih banyak terhadap Iran dan gangguan lebih lanjut di Venezuela dapat memperdalam pemangkasan pasokan yang dipimpin OPEC .
AS sedang mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap Iran yang akan menargetkan sejumlah area ekonominya yang belum pernah terjamah sebelumnya, kata pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump, Senin (01/04).
Dia juga menyebutkan AS mungkin tidak memperpanjang keringanan atas sanksi terhadap ekspor minyak Iran untuk delapan importir yang berakhir bulan depan. “Itu, saya pikir, adalah tujuan kita,” kata pejabat tersebut.
Terminal ekspor minyak Jose, Venezuela, menghentikan operasi karena kurangnya pasokan listrik, tutur dua narasumber, setelah beroperasi kembali, Jumat, menyusul pemadaman listrik berkepanjangan.
Rilis data manufaktur China senin (01/04) di luar dugaan kembali ke jalur pertumbuhan untuk kali pertama dalam empat bulan pada Maret. Indeks Pembelian Manajer (PMI) Manufaktur Caixin/Markit tumbuh pada laju terkuat dalam delapan bulan untuk periode Maret, data tersebut menunjukkan. “PMI adalah pendorong harga komoditas,” kata Innes, Kepala Strategi Perdagangan SPI Asset Management.
“Data PMI China mencatatkan peningkatan bulanan paling signifikan sejak 2012, yang meredakan kekhawatiran tentang potensi ancaman terhadap permintaan minyak,” kata Stephen Innes,
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), bertambah 14 sen, atau 0,2 persen, menjadi USD61,73 per barel, setelah sebelumnya melampaui USD62 untuk pertama kalinya sejak awal November.
Data positif dari ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan China, mendukung harga minyak dunia naik.
Sebagian besar pasar saham di Asia juga menguat karena angka manufaktur yang lebih kuat mendorong kepercayaan di kalangan investor.












