Wantannas RI Akan Gelar Sarasehan Nasional ‘Merawat Perdamaian’

Sesjen Wantannas RI, Letjen TNI. Doni Monardo menyampaikan kesiapan acara Sarasehan dalam kesempatan bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta – Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) RI akan menggelar Sarasehan Nasional pada tanggal 10-11 Juli 2018 di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta. Dengan Mengusung Tema: “Merawat Perdamaian – Belajar dari Resolusi Konflik dan Damai di Maluku dan Maluku Utara untuk Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur”.

Sarasehan rencananya akan dibuka oleh Menkopolhukam, Jenderal TNI (Purn) Wiranto mewakili Presiden RI. Sementara Dr (HC) Drs. H.M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, yang juga adalah Penggagas Perjanjian Malino II, momentum penting dalam membawa perdamaian pasca konflik yang berkecamuk di Maluku Tahun 1999, akan menjadi Keynote Speech atau pembicara kunci.

Sekretariat Jenderal Wantannas RI sendiri merupakan lembaga yang bertugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan pembinaan ketahanan nasional guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia. Dengan demikian penyelenggaraan Sarasehan “Merawat Perdamaian” ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam menjaga dan memperkuat ketahanan Nasional.

Saat ini Sekretaris Jenderal (Sesjen) Wantannas dijabat oleh Letjen TNI Doni Monardo yang pernah bertugas sebagai Pangdam XVI Pattimura, yang meliputi wilayah Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Kedua daerah ini, seperti diketahui pernah mengalami konflik kemanusiaan, namun berangsur dapat menyelesaikan konflik dalam waktu yang relatif cepat, bahkan saat ini tergolong sebagai daerah dengan indeks kebahagiaan tertinggi menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Sarasehan merupakan pertemuan yang diadakan guna mendengarkan pendapat atau saran dari seorang ahli maupun pelaku peristiwa untuk memecahkan atau menuntaskan suatu masalah yang terjadi, termasuk sebagai media pembelajaran. Begitu pun dengan sarasehan yang digagas Sekretariat Jenderal Wantannas RI kali ini dapat menjadi momentum untuk mendengar langsung pengalaman dari para pelaku lapangan saat konflik komunal di Maluku dan Maluku Utara, dan bagaimana mereka melakukan upaya perdamaian dan akhirnya kembali bersatu.

Menurut Sesjen Wantannas RI, Letjen Doni Monardo, salah satu tujuan dari diadakannya Sarasehan ini adalah apa yang pernah terjadi di Maluku dan Maluku Utara, baik itu konflik mau pun cara masyakat dalam membangun resolusi konflik sehingga berujung pada perdamaian dapat menjadi pembelajaran tidak hanya secara nasional, tapi juga oleh dunia.

“Hal yang paling penting dari dilakukannya Saresehan ini bertujuan mendiseminasikan proses resolusi konflik dan damai di Maluku dan Maluku utara untuk menjadi pembelajaran pada provinsi lain di Indonesia, bahkan oleh dunia internasional,” jelas Letjen Doni lewat pesan singkatnya kepada Media Harapan.

Selain para pelaku sejarah dan aktivis perdamaian asal Maluku dan Maluku Utara, sejumlah menteri maupun kepala lembaga pada Kabinet Kerja juga direncanakan hadir sebagai pembicara dalam Sarasehan yang dibagi dalam tujuh sesi atau tema pokok pembahasan. Diantaranya tercatat; Menteri Koordinator Kemaritiman Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak, Kepala Kepolisian RI, Jenderal Polisi Tito Karnavian, Gubernur Lemhanas Agus Widjojo, Wantimpres Agum Gumelar.

Ketua Ketua Panitia Sarasehan Nasional, Mayjen TNI Aris Martono Haryadi, SE mengatakan, Sarasehan nanti berformat diskusi terbuka dalam beberapa panel atau sesi diskusi, yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan termasuk pemangku kewajiban dari Maluku dan Maluku Utara, khususnya para pihak yang pernah terlibat dalam konflik sekaligus menjadi tokoh-tokoh perajut perdamaian.

“Undangan yang hadir selain perwakilan dari daerah-daerah di tanah air yang dianggap rawan konflik, utusan perguruan tinggi, tokoh-tokoh nasional, juga perwakilan dari sejumlah negara sahabat,” ungkap Mayjen Aris.

Panitia juga merencanakan untuk membukukan pengalaman para narasumber maupun panelis dan diterjemahkan dalam tiga bahasa, selain Bahasa Indonesia, juga dalam Bahasa Inggris dan Belanda, agar nantinya dapat menjadi referensi dalam penanganan konflik dan merajut perdamaian di waktu mendatang.

Ditargerkan lebih dari 500 orang undangan dan peserta akan hadir, termasuk 100 orang masyarakat Maluku dan Maluku Utara yang terlibat dalam Resolusi konflik dan damai. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi ikhtiar dan kontribusi penting dalam upaya merawat perdamaian dan memperkuat ketahanan Nasional,” pungkas Ketua Panitia.

Penulis : M. Ikhsan Tualeka

Comments

comments