• Redaksi
  • Kode Etik
Media Harapan
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
Media Harapan
No Result
View All Result
Home Khazanah Focus

Penyembah Agama Versus Penyembah Tuhan

Lebih jauh lagi, banyak orang takut dosa ritual, tetapi tidak takut dosa sosial

by San Malona
21 August 2025 22:19
in Focus, Jurnalisme Warga, Opini
0
Penyembah Agama Versus Penyembah Tuhan

Oleh: Abd. Manan Latuconsina, S.Ag, MH, Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia Maluku

Fenomena zaman ini semakin terang benderang: banyak orang yang tampak religius, rajin beribadah, fasih mengutip ayat, bahkan berpenampilan sangat agamis. Namun ironisnya, perilaku dan lisannya jauh dari akhlak yang seharusnya lahir dari ajaran agama itu sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Jawabannya sederhana: agama lebih sering dijadikan identitas sosial daripada jalan hidup. Banyak orang ingin dilihat suci, dihormati karena label agamanya, tetapi tidak sungguh-sungguh membersihkan hati. Mereka rajin menjalankan ritual menyembah Tuhan, tetapi sesungguhnya masih menyembah ego, gengsi, dan amarah.

Ada juga yang berilmu agama tanpa jiwa. Ayat dan hukum mereka kuasai, tetapi makna terdalam—kasih, sabar, jujur, rendah hati—tidak pernah meresap ke batin. Ilmu mereka berhenti di lisan, bukan menembus hati. Akibatnya, agama dipakai sebagai alat menghakimi, bukan untuk memperbaiki diri. Mereka merasa paling benar, lalu menyakiti orang lain dengan kata-kata tajam. Itu bukan kesalehan, melainkan ego yang bersembunyi di balik dalil.

Takut meninggalkan shalat, puasa, atau misa—tetapi tidak takut menyakiti hati sesama. Padahal, dosa kepada Tuhan bisa selesai dengan taubat. Tetapi dosa sosial, luka yang ditinggalkan pada sesama manusia, tidak akan dihapus sebelum ada kerelaan dari orang yang tersakiti.

Inilah sumber bahaya: mengira yang penting adalah ritual ibadah, sementara dosa menyakiti sesama dianggap sepele. Lupa bahwa tumpukan “dosa kecil” bisa berubah menjadi bukit besar. Lupa bahwa Tuhan tidak ikut campur dalam urusan dosa antarmanusia sebelum ada keadilan dan maaf.

Maka tak heran, beda pendapat sedikit langsung dicap sesat. Beda tafsir langsung dikafirkan. Seakan-akan yang lain hina, dan yang benar hanya dirinya serta kelompoknya. Pertanyaan besar pun muncul: yang disembah itu Tuhan, atau agama? Atau jangan-jangan, hanya ego yang dibungkus dalil?

Agama lalu menjadi topeng. Mulut fasih menyebut nama Tuhan, tetapi lisannya bisa melukai hati orang lain. Rajin beribadah, tapi gemar menindas. Hafal kitab suci, tetapi kosong dari kasih. Setiap hari masuk rumah ibadah, tetapi keluar darinya dengan amarah. Seperti orang datang ke istana raja, tetapi tak peduli pada titah sang raja.

Padahal dalam spiritualitas sejati, mengenal Tuhan bukan soal melihat-Nya sebagai sosok di langit, melainkan mengalami kehadiran-Nya dalam hati, dalam cinta, dalam alam, dalam keheningan batin. Tuhan adalah kesadaran murni, energi ilahi yang meresapi segala. Semakin seseorang sadar, semakin dekatlah ia dengan Tuhan.

Orang Jawa menyebutnya “sangkan paraning dumadi”—dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali. Tuhan bisa hadir sebagai “rasa sejati”: damai, hangat, membungkus jiwa. Itulah suara Tuhan yang sebenarnya—bukan teriakan keras di rumah ibadah, melainkan bisikan lembut di hati yang tulus.

Maka, beragama tanpa menghadirkan Tuhan hanya akan menjadi langkah tanpa arah. Ritual hanyalah tubuh, tetapi jiwa ibadah adalah akhlak. Yang Tuhan kehendaki bukanlah pamer kesalehan, melainkan hati yang bersih, mulut yang jujur, dan laku yang penuh kasih.

Comments

comments

Previous Post

Tips Membatalkan Pinjaman di Easycash dengan Mudah

Next Post

Penyembah Agama versus Penyembah Tuhan

San Malona

Next Post
Penyembah Agama Versus Penyembah Tuhan

Penyembah Agama versus Penyembah Tuhan

BERITA POPULER

Penyembah Agama Versus Penyembah Tuhan

Penyembah Agama Versus Penyembah Tuhan

21 August 2025 22:19
Ragam Kesenian Tradisional Yogyakarta

Ragam Kesenian Tradisional Yogyakarta

4 October 2022 09:04
Cara memperbaiki printer mp287 dengan kode error e03

Cara memperbaiki printer mp287 dengan kode error e03

20 April 2023 09:33
Orang Sholeh Yang Diam Menyaksikan Kemungkaran Maka Ia Terlaknat

Orang Sholeh Yang Diam Menyaksikan Kemungkaran Maka Ia Terlaknat

29 April 2019 08:25
10 Alat Bantu Fotografi yang Wajib Diketahui Pemula

10 Alat Bantu Fotografi yang Wajib Diketahui Pemula

28 August 2023 14:39
noor-azhari

Kasus Pagar Laut Tangerang dan Indikasi Kejahatan Struktural SDA

19 January 2026 12:32

BERITA TERBARU

noor-azhari

Kasus Pagar Laut Tangerang dan Indikasi Kejahatan Struktural SDA

19 January 2026 12:32
Peduli Anak Stunting, TPPKK Tanah Datar Bangun MCK Untuk Keluarga Stunting

Peduli Anak Stunting, TPPKK Tanah Datar Bangun MCK Untuk Keluarga Stunting

9 January 2026 09:56
Sambut Wajib Sertifikasi Halal 2026, IHW Saran Masa Berlaku Empat Tahun

Sambut Wajib Sertifikasi Halal 2026, IHW Saran Masa Berlaku Empat Tahun

4 January 2026 21:30
Bidan di Daerah Pedalaman: Pilar Kesehatan Ibu dan Bayi di Wilayah Terpencil

Bidan di Daerah Pedalaman: Pilar Kesehatan Ibu dan Bayi di Wilayah Terpencil

4 January 2026 21:25

Follow Us

Media Harapan merupakan web portal berita berbasiskan citizen jurnalism yang menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Semua materi dalam situs mediaharapan.com boleh di copy guna keperluan pengembangan pengetahuan dan wawasan masyarakat khususnya peningkatan inteligensi pemuda-pemudi Indonesia dan referensi non komersil dengan mencantumkan mediaharapan.com sebagai sumbernya. Semua masyarakat khususnya pemuda-pemudi Indonesia dapat berpartisipasi sebagai citizen jurnalism dengan mengirimkan rilis, informasi, berita, artikel, opini atau foto untuk dipublikasikan melalui alamat email Redaksi.

Recent News

noor-azhari

Kasus Pagar Laut Tangerang dan Indikasi Kejahatan Struktural SDA

19 January 2026 12:32
Peduli Anak Stunting, TPPKK Tanah Datar Bangun MCK Untuk Keluarga Stunting

Peduli Anak Stunting, TPPKK Tanah Datar Bangun MCK Untuk Keluarga Stunting

9 January 2026 09:56
  • Redaksi
  • Kode Etik

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia