Bukalapak Bertransformasi Menjadi Bukapolitik

Achmad Zaky bersama Jokowi saat Acara Ulang Tahun Bukalapak yang ke-9.Sumber Foto : @achmadzaky

MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta -Tahun 2019 sudah menjadi era politik yang multi tafsir, hal ini seirama dengan peristiwa yang dialami oleh pendiri dan CEO Bukalapak, Achmad Zaky. Zaky dalam cuitanya terkait isu R&D diujung tweet nya melontarkan kalimat “Mudah2han presiden baru bisa naikin”.

Bukalapak yang awalnya konsentrasi pada platfom penyedia lapak online, sekarang bertranformasi menjadi Bukapolitik yang sedang ramai dibicarakan oleh penduduk media sosial. Memahami niat yang ingin disampaikan oleh Zaky sebenarnya ingin pemerintah Indonesia peduli terhadap isu R&D sehingga bisa meningkat.

Ia tidak menyampaikan presiden baru yang dimaksud tersebut pasangan urut 01 atau 02, pendukung Jokowi merasa tidak terima dengan status Zaky langsung membuat gerakan #uninstallBukalapak. Hasil karya Zaky pun menjadi Bully-an pendukung Jokowi.

Zaky bijaksana dalam menghadapi permasalahan yang rumit tersebut, dengan rendah hati Ia menulis cuitan permohonan maaf kepada pendukung pak Jokowi, yang merasa tersinggung dengan kata-kata nya.

“buat pendukung pak Jokowi, mohon maaf jika ada yang kurang sesuai kata2 saya jadi misperception. Saya kenal Pak Jokowi orang baik. Bahkan sudah saya anggap seperti Ayah sendiri (sama2 orang solo). Kemarin juga hadir di HUT kami. Tidak ada niat buruk tentunya dari tweet saya”, tulis Zaky di akun Twitter Pribadinya.

Bagaikan gayung bersambut, Zaky menjawab kerusuhan yang sedang terjadi pada perasaan pendukung 01 ini. Bahwa memang tidak ada niat buruk yang Ia sampaikan dalam tweet tersebut.

Sementara itu, mencoba membaca dalam perspektif komunikasi, yang disampaikan oleh Zaky adalah kata-kata yang netral dan tidak menjelaskan nama orang atau presiden baru yang dimaksud.

Pesan tersebut dipelintir menjadi isu politik, karena pendukung Jokowi tidak rela ada presiden baru di Indonesia. Dalam perspektif komunikasi, tindakan yang dilakukan oleh pendukung Jokowi adalah kejahatan digital yang dapat merugikan perusahaan Bukalapak.

Dampak cuitan Zaky, berpengaruh kepada reputasi Bukalapak yang saat ini dalam krisis reputasi. Kehilangan kepercayaan publik, bahkan gerakan uninstall selalu di campaign kan oleh pendukung 01.

Sehingga kinerja Corporate Communications Bukalapak bekerja dua kali lipat untuk mengahadapi fenomena ini, untuk kembali meraih hati publik agar kembali percaya kepada perusahaannya.

Public Relations Bukalapak harus lebih jeli melihat kesempatan yang ada dalam memperbaiki citra, sehingga tidak banyak orang yang melaksanakan gerakan #uninstallBukalapak. Hal senada juga disampaikan oleh @iwetramadhan dalam tweetnya.

“Bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kerjasama team, network yang sangat baik, fokus dan tenang, plus membuat keputusan-keputusan jitu diwaktu yang sangat terbatas. PR bukan Cuma beridiri di depan, justru PR justru banyak dibelakang, memastikan semua yang di depan terlihat baik,” tweet akun @iwetramadhan.

Keterbatasan berpendapat bagi public figure harus ekstra hati-hati, karena akan ada bermuculan interpretasi yang sangat kejam untuk bisnis, karir politik dan citra personal di depan publik.

Sebuah ide dan gagasan yang tidak setujui dengan pendapat sebuah golongan, meskipun masih pada garis yang abu-abu akan menghadirkan musuh baru dalam kehidupan.

Bagi seorang public figure, lebih baik diam dibandingkan melontrakan kata-kata yang masih abu-abu, sehingga tidak berdampak kepada perusahaan yang sedang berkembang.

Penulis : Sirajul Fuad Zis

Comments

comments