Jumat WMI Kembali Tebar Program Nasi Bungkus

MEDIAHARAPAN.COM, PALU – Wahana Muda Indonesia (WMI) Care kembali membagikan 1100 nasi bungkus untuk pengungsi korban bencana gempa di Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Pembagian nasi bungkus terhitung untuk keempat kalinya pasca gempa terjadi di Sulteng. Donasi nasi bungkus melibatkan banyak pihak diantaranya, WMI, Radio Dakta, Komunitas Masyarakat Minang, NMI, Thoriquna, dna lain lain.

“Kita bagikan nasi bungkus program sedekah Gerakan 5000 Nasi bungkus untuk Jumat Barokah,” kata Ketua Umum WMI, Handriansyah.

Pembagian nasi bungkus dilakukan di dua titik besar pengungsian. Pertama di Posko Madinah 517, Majelis Dzikir Nurul Khairat, Bukit Thursina, Kel. Kabonena, Kec. Ulujadi, Palu Barat.

Posko milik ulama kharismatik di Palu, Habib Muhammad Saleh bin Abu Bakar Alaydrus itu menampung kurang lebih 7 ribu orang. Berkurang dari sebelumnya, pengungsian dengan kontur berbukit itu di awal gempa menampung kurang lebih 10 ribu orang.

“Kita bagikan 500 nasi bungkus untuk di Nurul Khairat,” kata Koordinator Lapangan WMI, Budhi Setiawan.

Dalam kesempatan itu, rombongan WMI sempat bertemu dengan Habib Saleh. Beliau mengapresiasi program dan sinergitas WMI selama tanggap bencana. Habib mengingatkan WMI secara khusus dan relawan pada umumnya agar ikhlas dalam membantu pengungsi, membantu tidak pandang bulu memilah milih dari kelompok mana berasal.

“Kita sebisa mungkin membantu sosial saja, tidak pilih-pilih dari kelompok mana, jangan mencampur dengan kepentingan kelompok atau politik,” ujar Habib mengingatkan.

Seusai dari markaz Habib Shaleh, relawan WMI berangkat menuju Kabupaten Sigi. Tepat di desa Pewebo, tersebar sejumlah tenda pengungsi korban liquifaksi dari desa Jono Oge, Dusun Dua, Kec. SIGI Biromaru Kab. Sigi, Sulteng.

Pembagian nasi bungkus di lakukan di dua shelter berbeda di kawasan ini, sebab para pengungsi tersebar dalam cluster berbeda. Selain memberi bantuan 500 bungkus nasi, WMI juga memberikan bantuan 20 karung beras, susu kental manis, susu bayi, dan minyak telon.

Relawan WMI sempat berbincang dengan pengungsi, menanyakan kronologis peristiwa serta menghibur para korban.

“Sabar ya pak, mudah-mudahan Allah beri kelapangan,” ungkap salah seorang relawan.

Selanjutnya, relawan WMI menyempatkan diri memantau kondisi wilayah yang terkena bencana liquifaksi di desa Jono Oge sebelum kembali ke basecamp relawan di Palu. Selain dibagikan kepasa pengungsi, 100 nasi bungkus juga dibagikan kepada sejumlah relawan bencana di beberapa posko kemanusiaan. [bs]

Comments

comments