Kementan dan FAO Optimalkan Lahan kering Berbatu di Lima Propinsi

MEDIAHARAPAN.COM, Kupang – Berbagai inovasi sebagai Upaya Kementan menggenjot produktifitas Pertanian di NTT membuahkan hasil, daerah bebatuan dapat dimaksimalkan untuk lahan pertanian melalui kerjasama dengan FAO dalam penerapan pertanian konservasi. Hal ini terungkap dalam pertemuan project steering committee. Kupang, Selasa 11/11/2018

Ir. Sulhadiana Munir, M.Sc perwakilan direktorat Serealia ,DITJEN TP, kementerian pertanian mengutarakan , teknologi PK ini lebih signifikan apabila dilakukan pada lahan kering berbatu, agar petani dapat bertani walaupun pada lahan musim kering.

Dia menjelaskan, teknologi ini memangkas biaya produksi sebab menerapkan system Tanam tanpa olah tanah, Menutup permukaan tanah serapat-rapatnya secara terus menerus sepanjang musim sepanjang tahun, serta pola lubang permanent. disamping itu dengan pola tumpang sari dan rotasi tanaman antara legum dengan non legume.

Diana mengungkapkan, beberapa lokasi kabupaten Kupang, memperlihatkan teknologi pertanian konservasi (PK) menghasilkan produksi jagung 2 kali panen setahun di lahan batu bertanah pada saat kemarau dapat yang selama ini sama sekali tidak tanam aau panen hanya sekali setahun. Jelas Mantan Kasubdit Serealia Lainnya, direktorat Serealia

Alumni Massey University New Zealand dengan dasar master bidang soil science ini melanjutkan, dengan teknologi PK melalui lobang permanent dilahan batu bertanah sangat cocok untuk dikembangkan, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan pangannya yang semula hasil panen jagung hanya cukup untuk 8 – 10 bulan saja, dan sisanya 4 bulan tidak ada pangan.

“penerapan teknologi PK lobang permanent, jagung dapat ditanam dan dipanen 2 kali setahun, secara otomatis ada peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani di lahan sangat kering”. Papar Sulhadiana Munir

Berdasarkan pencapaian teknologi PK dilapangan sangat signifikan, maka dari 5 propinsi NTT, NTB, Sulsel, Sulteng, Gorontalo, Petani sangat antusias menerapkan integrasi pertanian konservasi di lahan tumpangsari padi dan jagung, maupun dilahan monokultur jagung di tahun depan.

Untuk diketahui, Kegiatan replikasi PK sudah dilakukan melalui APBD tahun 2018 di Propinsi Sulsel, sedangkan untuk kegiatan APBD tahun 2019 juga telah dialokasikan di propinsi NTB. Beber diana

Ir. Sulhadiana Munir menegaskan, kementan melalui direktorat Serealia akan memfokuskan keberlanjutan teknologi PK ini di 5 Propinsi Yang telah di latih terapkan PK Di lahan kering berbatu . lima propinsi tersebut diyakini mendukung petani tetap berproduksi walaupun saat musim kering, khususnynya dilahan kering marginal. pungkas Sulhadiana

Comments

comments