MEDIAHARAPAN,COM, Jakarta (13/04) – Bank sentral Singapura pada Jumat (12/04) mempertahankan kebijakan moneternya setelah pemerintah memproyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi serta risiko ekonomi global yang ‘signifikan’. Seperti dilansir Channel News Asia, Jumat, Otoritas Moneter Singapura (MAS), mempertahankan slope dan rentang nilai mata uangnya terhadap dolar Amerika.
“Pertumbuhan PDB dalam perekonomian Singapura melambat, membawa tingkat output lebih dekat ke potensi underlying-nya”, MAS mengatakan dalam pernyataan semi-tahunan, menambahkan “tekanan inflasi ringan dan harus tetap terkendali.”
MAS meningkatkan slope dua kali tahun lalu sebagai upaya untuk mengontrol kenaikan harga dan tekanan terhadap mata uang, ini merupakan pengetatan pertama dalam enam tahun.
Dolar Singapura tidak berubah setelah keputusan itu,
Menyusul keputusan tersebut, nilai tukar dolar Singapura melemah 0,1 persen ke level USD1,3575 terhadap dolar AS pada jumat pagi .
“Pertumbuhan ekonomi Singapura telah mereda. Meskipun ada kenaikan dalam biaya tenaga kerja, tekanan inflasi kecil dan harus tetap terkendali,” terang MAS, seperti dikutip Bloomberg.
Sementara itu, pemerintah Singapura memproyeksikan pertumbuhan ekonominya, yang bergantung pada ekspor, akan melambat menjadi tepat di bawah titik tengah kisaran 1,5% hingga 3,5% setelah melaju 3,2% pada 2018.
Sebuah laporan terpisah yang dirilis Jumat (12/4) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) hanya tumbuh 1,3% pada kuartal pertama dari setahun sebelumnya, dan naik 2% dari kuartal sebelumnya atau lebih rendah dari proyeksi para ekonom.
“Ekonomi Singapura telah melambat, dan kemungkinan akan berkembang dengan laju moderat pada kuartal-kuartal mendatang. Laju pertumbuhan akan sedikit di bawah potensinya tahun ini, setelah dua tahun berada di atas tren,” terang MAS dalam pernyataannya.
Prospek inflasi yang rendah juga memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk menunda langkah pengetatan. Harga konsumen naik 0,5% pada Februari dari setahun sebelumnya dan mencatat sedikit kenaikan dari 0,4% pada bulan sebelumnya.






