MEDIAHARAPAN.COM.Jakarta-Divisi Pendidikan Politik KIPP Indonesia, Nayla Indah, mengatakan, pada pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017 putaran pertama, jumlah pemilih secara keseluruhan menurut data KPU berjumlah 7.218.244 jiwa, dan pengguna hak pilih sejumlah 5.563.207 jiwa.
Sementara jumlah pemilih perempuan, melebihi jumlah pemilih laki-laki, jumlah pemilih perempuan berjumlah 3.511.216 jiwa, sedangkan jumlah pemilih laki-laki berjumlah 3.506.462 jiwa.
Indah menyampaikan, bahwa pengguna hak pilih perempuan lebih banyak dibanding pemilih laki-laki, yakni 2.757.449 jiwa, sementara jumlah pengguna hak pilih laki-laki berjumlah 2.600.143 jiwa. Sehingga terdapat kelebihan selisih pemilih perempuan sebesar 157.306 jiwa.
“Artinya pemilih perempuan dalam konteks Pilkada DKI 2017, sangat menentukkan kemenangan peraihan atau perolehan suara paslon,” kata Indah kepada wartawan, Sabtu (4/3/2017) malam.
Dia menyebutkan, paslon yang bisa merebut hati kaum hawa dalam pertarungan politik di Pilkada DKI Jakarta, dapat dikatakan sudah mengantongi separuh kemenangan.
Pada 29 November 2016 lalu, Charta Politika mengeluarkan hasil surveinya terhadap tiga pasangan calon gubernur-calon wakil gubernur DKI Jakarta, yakni Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Hasilnya sebnyak 32,3 persen perempuan cenderung memilih Agus-Sylvi dan ada 30,2 persen pria memilih Ahok-Djarot. Agus-Sylvi unggul pada kategori usia 30-39 tahun, Ahok-Djarot kategori usia 20-29 tahun, dan Anies-Sandiaga unggul pada kategori pemilih pemula dan rentang usia 40-49 tahun dan 50 tahun ke atas. Mereka yang memilih Agus-Sylvi rata-rata menilai pasangan nomor urut 1 itu sosok yang tegas, tampan, dan berwibawa.
Untuk itu, pada putaran kedua peIlkada DKI Jakarta 2017 ini, kedua paslon yang akan bertarung harus merebut suara pemilih, khususnya kaum hawa.
Lantas bagaimana para paslon bisa merebut hati pemilih perempuan dalam Pilkada DKI, diantaranya.
“Pertama, mendorong partisipasi politik pemilih perempuan. Menurut Cocky, partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mereka yang,” jelasnya.
Menurutnya, mengambil bagian dalam prosesi pemilihan penguasa dan secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijaksanaan umum.
Selain itu, untuk mewujudkan partisipasi murni, masyarakat harus lengkap dan cukup menerima pesan-pesan komunikasi (transformasi nilai-nilai) dan informasi tentang langkah kebijaksanaan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Untuk itu, kandidat paslon harus rajin mengkomunikasikan program-programnya, khususnya terkait dengan kebutuhan-kebutuhan kaum perempuan.
Kemudian misalnya, sosialisasi bagi pemilih perempuan tentang keberhasilan perjuangan kaum perempuan yang didukung program paslon di bidang hukum, sosial dan politik, dalam skala nasional mau pun internasional.
“Yang pada intinya mengokohkan prevensi penindasan, proteksi dan peningkatan aksesibilitas ke ruang publik, bagi perempuan, bukan batas perjuangan kesetaraan gender,” ujarnya.
Sementara itu, yang kedua, memaksimalkan agen-agen sosialisasi politik. Agen sosialisasi politik dalam hal ini adalah,
Pertama adalah Keluarga, kedua, Sekolah ,keriga, Kelompok pergaulan,I kemudian keempat, Kelompok Kerja.
Selanjutnya, kelima adalah Kelompok agama, keenam. Kelompok-kelompok senggang, ketujuh adalah Media massa,
Delapan, situs jaringan sosial (Facebook, Twitter, dll),
Serta kesembilan, kontak-kontak politkl langsung. Agen-agen sosialisasi politik ini dibentuk baik oleh relawan, kader-kader parpol pengusung, dan ormas pengusung, untuk mensosialisasikan sosok paslon beserta program-programnya di basis-basis pemilih perempuan yang memberikan suara kepada pasangan calon Agus-Sylvi.
Ketiga, memahami budaya politik di suatu daerah. Menurut Alan R. Ball, budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri atas sikap, kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik dan isu-isu politik. (Bams)






