TdS 2018 Etape III, Pembalap Lewati Situs Cagar Budaya Tanah Datar

MEDIAHARAPAN.COM, Batusangkar, Sumatera Barat-Etape III Tour de Singkarak Tahun 2018, Tanah Datar menjadi lokasi finish bagi para pembalap kelas dunia tersebut. Etape III dengan start di Dermaga Danau Singkarak wilayah Kabupaten Solok dengan jarak tempuh 150,4 Km menjelang finish di Istano Basa Pagaruyung Kabupaten Tanah Datar, para pembalap terlebih dahulu mengitari Danau yang membentang di dua kabupaten itu.

Start pada hari Selasa (06/11) pukul 10.00 WIB, para pembalap mulai memacu sepeda masing-masing melintasi berbagai wilayah di dua kabupaten ini. Di Tanah Datar jelang menuju finish para pembalap melewati tempat-tempat bersejarah yang membuktikan tentang kejayaan Minangkabau zaman dahulu.

Seperti Objek wisata sejarah Nagari Tuo Pariangan, Batu Batikam, Kubu Rajo di Limo Kaum, Prasasti Adityawarman Gudam Pagaruyung, Ustano Rajo Pagaruyung, Rumah Gadang Silinduang Bulan dan berakhir di Istano Basa Pagaruyung. Namun sebelum masuk finish dirumah gadang kebanggaan Sumatera Barat itu, para pembalap harus terus berputar menuju arah Bukit Gombak-Piliang Lima Kaum dan terus kembali mengitari objek-objek bersejarah ini, bahkan hingga tiga kali putaran.

Sebagai daerah wisata Tanah Datar memiliki banyak peninggalan sejarah yang patut dipromosikan kepada tamu-tamu manca negara. Sepertinya hal inilah salah satu upaya yang dilakukan pemkab setempat bersama pemerintah Provinsi Sumatera Barat memanfaatkan moment TdS sebagai media promosi wisata baik alam, bahari maupun aset peninggalan sejarah sebagai peradaban masa lalu itu.

Kabupaten Tanah Datar yang dikenal Luak Nan Tuo, hingga saat ini belum ada yang mengetahui kapan daerah itu lahir dan terbentuk, walau bukti-bukti sejarah seperti prasasti yang menceritakan kejayaan masa lalu itu ada, tetapi tidak lengkap.

Salah satunya yang dapat dijumpai pada jalur rute TdS 2018 tersebut adalah Prasasti Pagaruyung. Pada kompleks prasasti ini banyak dijumpai bebatuan yang berukir menyerupai tulisan yang menceritakan peradaban masa lalu itu.

Disini juga terdapat tulisan yang menjelaskan bahwa di Kabupaten Tanah Datar banyak terdapat peninggalan prasasti dari masa Melayu Kuno sekitar abad XIII-XIV M. Sebahagian besar prasasti tersebut berasal dari Raja Adityawarman yang memerintah sekitar awal abad sampai seperempat akhir abad XIV M.

Di lokasi yang lebih dikenal komplek prasasti Adityawarman itu terdapat delapan buah prasasti yaitu prasasti Pagaruyung I hingga VIII dari batu andesit dan batu pasir kwarsa serta satu buah artefak lesung batu.

Ini menunjukkan adanya sejarah yang perlu untuk dipelajari dan dijadikan sebagai bukti pemerintahan masa raja zaman dahulu. Komplek yang berada dipinggir jalan raya Pagaruyung-Batusangkar tepatnya Jorong Gudam Nagari Pagaruyung, meskipun lokasi asal temuan prasasti-prasasti tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti begitu juga riwayat penemuannya namun harus tetap terjaga dan terpelihara sebagai aset wisata budaya.

Tidak jauh dari lokasi ini juga terdapat aset sejarah Ustano Rajo Alam atau komplek kuburan raja-raja. Areal pemakaman yang terdiri dari 13 kuburan tua dan dihiasi tiga pohon beringin besar yang menaunginya, sehingga menjadikan pemakaman ini sangat teduh. Makam-makam disini juga tampak bersih dan terawat, memang harusnya demikian, karena ini situs cagar budaya yang serat dengan sejarah pula.

Dengan adanya momen TdS yang hanya sekali dalam setahun, setidaknya ini dapat menjadikan daerah khususnya Tanah Datar lebih dikenal dunia, karena ajang olah raga yang juga wujud promosi wisata ini diikuti pembalap-pembalap dalam dan luar negeri.

Salah seorang warga Pagaruyung Rusdi Ml. Penghulu yang medampingi cucunya menyaksikan pembalap TdS lewat mengatakan senang dan puas dapat menyaksikan balap sepeda tingkat dunia secara langsung.” Kami sangat puas pak, dapat menyaksikan balap sepeda secara langsung, biasanya hanya melalui media televisi dan TdS kali ini sampai tiga kali memutari wilayah ini,” ucapnya kepada media ini.

“Ini momen satu kali setahun, walau kami sempat terganggu akibat akses jalan ditutup, namun ini sebuah kebanggaan juga bagi kita, Pagaruyung akan semakin dikenal dunia,” tambah Dia sembari menggendong cucunya.

TdS etape III yang diikuti beberapa tim pembalap luar negeri ini dijuarai oleh Tim malaysia, dengan pembalap asal Australia Ewart Jesse Berha, Dia menyabet sekaligus 3 jersey.

Posisi ke-2 diraih oleh Edwin Amulto Farra Bustamanto dari tim Cina, sementara posisi 3 diraih Marcelo Felife dari tim Philipina.

Sedangkan untuk kategori Best Indonesian Riders, ini diraih oleh pembalap Indonesia Muhamamad Abdurrahman dan berhak memakai Red and White Jersey. (Irfan F)

Comments

comments