• Redaksi
  • Kode Etik
Media Harapan
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
Media Harapan
No Result
View All Result
Home Citizen Jurnalisme Warga

Wajah Ganda Media Sosial

by Media Harapan
8 January 2017 09:25
in Jurnalisme Warga, Opini
0

Oleh: Moh. Ilyas



Anda ingin opini Anda dianggap kebenaran? Viralkan!

Itulah kira-kira bahasa keseharian sebagian kita, orang-orang yang berselancar di dunia media sosial (medsos) dalam beberapa tahun belakangan ini. 

Di tengah mahalnya kebenaran versi media massa yang benar-benar berpihak pada nurani di negeri ini, medsos pada awalnya hadir bak penyelamat. Ia bisa mewakili individu-individu masyarakat kita tanpa terkecuali untuk menyuarakan unek-uneknya secara utuh, bahkan tanpa melalui editing.

Pada saat kritik terhadap penguasa “dilarang” di media-media mainstream, medsos justru membuka diri seluas-luasnya untuk mewujudkan itu. Medsos menjadi alternatif terakhir di tengah sebagian media-media massa sudah “terbeli” oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dan agenda tertentu. Singkatnya, medsos menjadi jalan keluar di tengah kerinduan publik untuk menyampaikan aspirasinya terhadap para pengambil kebijakan. Bukankah sebagian media massa dalam beberapa tahun terakhir ini sudah mengalami krisis kepercayaan? 

Dalam kondisi krisis kepercayaan crisis of trust terhadap pers (baca: media massa) ini, publik akhirnya mencari tempat “pelarian”. Paling tidak, pelarian sementara agar hasrat mereka mendapatkan kebenaran tak dibatasi oleh media-media yang isi beritanya sudah “dikavling” oleh para pemiliknya. Dan, tempat pelarian itu bernama media sosial.

Wajah Ganda Medsos
Sepintas, kita melihat bagaimana nilai medsos begitu luar biasa. Kebebasan yang diberikan, medsos seperti menawarkan netralitas, obyektivitas, dan independensi pada masing-masing individu. 

Namun, rupanya hal itu masih merupakan sebuah idealitas yang – menurut hemat penulis – sedikit utopis. Kenapa? Alasannya karena media sosial memiliki jalan cerita sendiri yang ternyata juga tidak lebih baik dari “kakak”nya, yakni media massa.

Dengan kendali yang lepas, media sosial bisa diotak-atik, disetting sedemikian rupa, dimainkan sebebas mungkin, untuk memengaruhi persepsi dan membentuk opini publik. Maka, medsos tak lebih dari sekadar “alat baru” pemilik kepentingan untuk memenuhi hasrat mereka. Bahkan, jika media massa butuh orang-orang berduit untuk memainkan, medsos menjadi tempat yang lebih longgar untuk dimainkan, cukup dengan duit receh.

Di sinilah medsos dapat dilihat sebagai tempat pelampiasan unek-unek “berwajah ganda”. Di satu sisi ia bisa menjadi arena bagi kebebasan berekspresi untuk menyampaikan aspirasi, tetapi di sisi lain, ia jadi tempat bancakan setiap individu atau kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. 

Oleh karenanya, kebenaran di dalam dunia medsos juga jadi sangat relatif, karena ia sangat tergantung jalan cerita yang dibangun para penggunanya (netizen). Sebuah informasi, kabar, maupun opini (sejauh apapun tingkat kebenarannya) akan menjadi kebenaran (setidaknya di mata publik) bila ia mampu menjadi viral alias trending. Kebenaran di medsos mirip kebenaran dalam dunia demokrasi: suara mayoritas adalah pemenangnya. Bila sudah demikian, kabar-kabar yang pangkatnya pada level hoax alias kabar bohong sekalipun, dalam sekejap akan dianggap kebenaran oleh publik.

Bandingkan dengan peta kebenaran versi jurnalistik (media massa) seperti terangkum dalam gagasan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang menempatkan fakta sebagai hal utama dalam menemukan landasan kebenarannya – tentu dengan tetap merujuk pada proses yang diawali dengan disiplin profesional dalam pengumpulan dan verifikasi fakta. Ini tidak berlaku di medsos. Dalam dunia medsos, fakta apapun yang diinginkan, akan dijajakan seperti “barang obralan” yang jika laku keras dijual di ”pasar” maka dengan sendirinya ia akan dipandang sebagai sebuah kebenaran. 

Kebenaran di medsos menjadi barang yang amat sederhana, bukan? Cukup atur strategi dan taktik untuk memviralkan data-data palsu, jadilah ia sebagai kebenaran yang palsu pula. Tak peduli, apakah ia dimainkan oleh tangan-tangan robotik atau tangan-tangan mekanik para aktornya.

Lalu muncul pertanyaan baru, bagaimana cara memviralkan? Berkaitan dengan ini, sudah banyak buku yang mencoba membahasnya. Salah satunya buku Contagious: Why Things Catch On, karya seorang profesor Jonah Berger. Ia menganalisa 10 ribu konten dan menemukan ada enam kunci mengapa konten bisa menjadi viral, yakni social currency, trigger, emotion, public, practical value, dan story. Sekadar contoh, semakin tinggi level emosi yang terlibat dalam konten yang disebar di medsos, semakin tinggi keinginan orang membagikan konten tersebut.

Wallahu a’lamu bisshawab

Comments

comments

Previous Post

Pemerintah Aceh di Minta Aktifkan Pengajian untuk Pemuda

Next Post

Evaluasi ‘Palu Arit’ di Mata Uang Baru

Media Harapan

Next Post

Evaluasi 'Palu Arit' di Mata Uang Baru

BERITA POPULER

No Content Available

BERITA TERBARU

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

20 June 2026 20:47
Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

16 June 2026 10:37
Pemkab Bogor Janji Buat Surat Edaran Cegah LGBT

Pemkab Bogor Janji Buat Surat Edaran Cegah LGBT

14 June 2026 08:33
Forum Ponpes dan DKM Minta Pemkab Bogor Terbitkan Aturan Pencegahan Sex Menyimpang 

Forum Ponpes dan DKM Minta Pemkab Bogor Terbitkan Aturan Pencegahan Sex Menyimpang 

14 June 2026 08:29

Follow Us

Media Harapan merupakan web portal berita berbasiskan citizen jurnalism yang menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Semua materi dalam situs mediaharapan.com boleh di copy guna keperluan pengembangan pengetahuan dan wawasan masyarakat khususnya peningkatan inteligensi pemuda-pemudi Indonesia dan referensi non komersil dengan mencantumkan mediaharapan.com sebagai sumbernya. Semua masyarakat khususnya pemuda-pemudi Indonesia dapat berpartisipasi sebagai citizen jurnalism dengan mengirimkan rilis, informasi, berita, artikel, opini atau foto untuk dipublikasikan melalui alamat email Redaksi.

Recent News

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

Seruan Bangun Poros ASEAN Sebagai Kekuatan Peradaban Halal Climate

20 June 2026 20:47
Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

Awal Muharam, GNG Salurkan Al-Qur’an Braille di Unpam

16 June 2026 10:37
  • Redaksi
  • Kode Etik

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia