53 Tahun Panas Pela Negeri Hatu-Wakasihu

Oleh : Rudy Rahabeat

Sejak dilakukan Panas Pela tahun 1965 di Negeri Wakasihu, baru kali ini acara Panas Pela antara Negeri Hatu dan Negeri Wakasihu berlangsung Sabtu, 22 Desember 2018 di negeri Hatu Kecamatan Leihitu Barat. Acara yang bertujuan mempererat ikat Pela kedua negeri itu, berlangsung khidmat diikuti oleh ratusan masyarakat dari kedua negeri dan dihadiri oleh para pejabat dari Kabupaten Maluku Tengah dan tokoh agama. Sebuah peristiwa sejarah dan budaya yang patut dicatat dengan tinta emas.

Antraksi perang antara Kapitan Wakasihu dan Kapitan Hatu terjadi di depan Baileo atau rumah ada Negeri Hatu. Hujan turun pagi itu. Dua kapitan mengayunkan pedang. Mereka berdua saling beradu kekuatan. Beberapa menit adegan itu terjadi tapi tak ada yang kalah dan menang. Maka mereka pun berpelukan. Dan menjadi tanda awal persaudaraan Pela antara Negeri Hatu-dan Negeri Wakasihu, yang keduanya berada di jazirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah itu.

Adegan pagi itu disaksikan ratusan pasang mata, termasuk Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua, S.H, wakil Bupati Atus Leleury, SE, Ketua Sinode GPM, Pdt AJS Werinussa serta para tamu undangan. Setelah adegan itu, Raja Hatu, Marcus Hehalatu menyambut Raja Negeri Wakasihi, Hajah H Polanunu dan rombongan Saniri Negeri Wakasihu, yang sebelumnya telah berjalan dari Wakasihu ke Hatu di atas batu (dalam bahasa setempat, Lena-hatu atau berjalan di atas batu).

Raja Hatu kemudian mengajak Raja Wakasihu masuk ke dalam Baileo Negeri Hatu yang bernama Samasuru Ruma Pau. Dalam Baileo itu terjadi proses makan siri pinang antara kedua raja, serta berbagi Sagu dan Gula sebagai salah satu hasil alam khas kedua negeri. Raja Hatu memberi Gula kepada raja Wakasihu, dan raja Wakasihu memberi Sagu kepada Raja Hatu. Keduanya saling berpelukan.

Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan Janji dan Sumpah Pela yang berisi 10 butir janji dan 3 butir sumpah. Dalam piagam Janji dan Sumpah itu, antara lain diatur tentang saling tolong menolong dan saling memberi antara kedua negeri ber-pela, serta larangan untuk tidak kawin mawin antara dua negeri. Dengan tegas disebutkan jika larangan itu dilanggar maka akibatnya adalah kematian.

Setelah pembacaan Janji dan Sumpah dilanjutkan oleh penandatangan prasasti oleh kedua raja dan juga Bupati Maluku Tengah sebagai saksi. Pada kesempatan ini juga dilakukan akta renovasi Gedung Gereja Tua Hatu. Salah satu butir Janji Pela adalah saling membantu dalam pembangunan rumah ibadah baik Islam maupun Kristen.

Di luar gedung Baileo hujan masih turun, tapi tidak mengurangi semangat warga kedua negeri untuk menyatakan sukacita atas peristiswa bersaudara itu. Para penari Cakalele yang biasa disebut Cakalele Alifuru dari Soa Souhawat, menari menari dengan semangat, demikian pula Cakalele dari Soa Hatulessy. Soa Malupang, dengan yang berada di dalam perahu yang teranyam dari pelepah kelapa itu juga menyanyi dengan sukacita di tengah derah hujan. “Kata orang tua-tua, hujan ini tanda berkat, orang tua-tua sedang hadir bersama anak cucu” ungkap Bapa Art Risamassu, kepala Soa Malupang.

DOA IMAM DAN PENDETA

Di ujung acara sakral yang berlangsung di dalam gedung Baileo Hatu, imam negeri Wakasihu, Ibrahim Latuconsina dan Pendeta Jemaat Hatu, Pendeta Z Patipeilohy melangkah ke depan podium. Bapa Imam kemudian mendaraskan doa yang penuh makna dan menyentuh kalbu.

Berikut dua bait yang terucapkan di antara bait-bait doa yang khusuk itu; “Ya Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan mengucapkan syukur Alhamdulilah, kami agungnya RidhoMu, karena atas berkat dan asmaMu, kami semua berkumpul di sini, di tempat yang indah, dalam suasana damai dan penuh keakraban, dua negeri Pela Hatu dan Wakasihu. Ya Allah Yang Maha Pengasih, berikan kami kesehatan, kekuatan dan keselamatan atas dunia negeri yang selalu membangun silaturahmi dan persaudaraan, dan menjaga kerukunan sampai selama-lamanya”.

Di ujung acara sakral yang berlangsung di dalam gedung Baileo Hatu, imam negeri Wakasihu, Ibrahim Latuconsina dan Pendeta Jemaat Hatu, Pendeta Z Patipeilohy melangkah ke depan podium. Bapa Imam kemudian mendaraskan doa yang penuh makna dan menyentuh kalbu.

Berikut dua bait yang terucapkan di antara bait-bait doa yang khusuk itu; “Ya Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dengan mengucapkan syukur Alhamdulilah, kami agungnya RidhoMu, karena atas berkat dan asmaMu, kami semua berkumpul di sini, di tempat yang indah, dalam suasana damai dan penuh keakraban, dua negeri Pela Hatu dan Wakasihu. Ya Allah Yang Maha Pengasih, berikan kami kesehatan, kekuatan dan keselamatan atas dunia negeri yang selalu membangun silaturahmi dan persaudaraan, dan menjaga kerukunan sampai selama-lamanya”.

Selanjutnya sang imam berdoa “ Ya Allah ya Tuhan kami, kami adalah bangsa yang beragam suku dan agama, bangsa yang tumbuh dari tanah yang menghasilkan buah persaudaraan, pada hari ini kami hadir di sini, dalam rangka mensyukuri ikatan persaudaraan kami yakni Pela, antara dua negeri Hatu dan negeri Wakasihu. Oleh karena itu ya Allah jauhkan kami dari fitnah yang menyusakan, dan dari kejahatan orang yang ingin menciderai persaudaraan kami ini. Jauhkan kami dari sifat-sifat dan tabiat-tabiat yang merusakan persaudaraan dua negeri ini.

Mampukan kami untuk mengisi persaudaraan ini dengan kekuatan iman, dengan kemulian akhlak yang terpuji. Jadikan kedua negeri ini negera yang aman dan sejahtera”. Setelah doa yang khusuk itu dilantukan, dilanjutkan dengan doa oleh Pendeta Jemaat Hatu yang mendoakan keselamatan kedua negeri, termasuk berdoa kepada bangsa dan negara Indonesia.

Doa Imam dan Pendeta itu sekaligus memberikan pesan simbolik tentang perjumpaan dan persaudaraan lintas agama, yakni antara negeri Hatu yang beragama Kristen dan negeri Wakasihu yang beragama Islam. Pranata Pela telah menjadi kearifan budaya masyarakat di Maluku yang mempersatukan perbedaan tersebut dalam semangat persaudaraan. Pentingnya merajut dan merawat persaudaraan lintas agama ini juga ditekankan Bupati Maluku Tengah dan Ketua Sinode GPM dalam sambutan mereka pada acara yang bersejarah itu.

Para tamu undangan dan seluruh warga kedua negeri kemudian menuju pelataran rumah Raja Hatu untuk mengikuti Jamuan Santap Siang (Makan Patita) yang diselingi oleh hiburan di antaranya Tarian Katreji dari siswa SD Negeri 2 Hatu dan Tarian Sagu dari Pemudi Wakasihu. Suasana keakraban dan persaudaraan tergambar jelas. Hujan rintik masih turun, tapi semangat persaudaraan terus naik.

Penulis adalah pembelajar Antropologi

Comments

comments