Bangsa yang Terjajah

Oleh: Adam Makatita*

“… Bangsamu, yang pernah melahirkan beratus dan beribu pahlawan dan pemimpin dalam menghalau penindasan Eropa. Seorang demi sorang dari mereka jatuh, kalah, tewas, menyerah, gila, mati dalam kehinaan, dilupakan dalam pembuangan. Tak seorang pun memenangkan peperangan” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Hal: 285)

Sekali dua, Beta, dan kita harus selalu bangga jadi bagian dari pergumulan bangsa-bangsa atas satu kenamaan tempo itu—ketika seruan-seruan 1908 menyatukan seisi kapling-kaplingan—dari pulau-pulau terpisah, barangkali ribuan sampai ratusribuan kilometer jaraknya. Hanya untuk menampakan dirinya pada dunia denga tak kurang sedikitpun kesungguhan: “kami bangsa yang satu”

Kemudian mencoba menyelami arti dan makna dari kata “bangsa” sesungguhnya. Apakah hanya sebatas kata berbentuk bunyi untuk semangat yang sebentar-sebentar saja, lalu pendar dan hilang—lenyap tak berbekas lagi. Bahkan dengan sigap dan cergas, sesekali coba beta awankan ingatan pada yang pernah beta temui, iya adalah satu kutipan; kutipan yang belum tentu jua semua orang pernah berpapasan dengannya: “bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”sekiranya seperti itu rasanya bunyi-bunyi dari setiap perkawinan antara huruf vokla dan Konsonan dalam melahirkan kutipan tersebut.

Dari seribu kata yang berjejer dalam catatan-catatan mereka yang menjadi pendahulu (pendiri bangsa), meskinya kita tahu dan tak pernah harus bosan mengasah pikir untuk menjadi “bangsa” yang lebih baik. Bukan membentuk pemikiran yang samar-samar lalu menampakan diri ditengah-tengah kemajemukan manusia seperti pada pasar tradisional atau pun modern lantas bertingkah konyol sekonyong-konyongnya: “generasi keenam adalah generasi yang watak dan karakternya lemah” seperti itu ungkapan mochtar lubis setelah merenungi perkembangan generasi dalam membanding karakter anak bangsa.

Bahkan pada diri seorang pribumi sekali pun, seperti di beberapa abad silam. Jiwa kebangsaan sudah menjadi satu “jejak langkah” dari setiap manusia-manusia pada kapling-kaplingan tanah nusantara. Dan biar bagaimana pun, “bumi manusia” menjadi pijakan dari setiap hentakan perubahan pada isi kepala manusia-manusiaIndonesia atas sejarah “bangsa” sendiri tanpa harus memecah tawa yang geram dari bangsa lain.

Bukan menjadi pribumi yang rela menjual diri dan sanak keluarga demi mendapatkan perhatian dari pada indo pun Eropa seperti dalam karya seorang ternama—yang terbuang, terasing, terhempas dari barat sampai paling timur indonesia—Pramoedya Ananta Toer. Itu sama halnya membodohi diri sendiri dengan kekonyolan paling jenaka.

Jenagan berpikir yang bukan-bukan terhadap tulisan Beta ini! Tidak sedikitpun berpikir untuk mendikotomi atau hal serupa sak swasangka dalam pikiran untuk melunak “yang lain” dengan doktrin-doktrin basi penuh ketaklidan tak bernilai.

Tapi sekadar untuk mengingatkan, bagaimana geliatnya jiwa muda para pahlawan yang pernah menumpahkan darah atas “bumi manusia”, penuh dengan teka-teki kehidupan absurd dan ambigu seperti sekarang ini—menunduk dan membungkuk di hadapan bangsa lain. Lalu menindas dan mengekang “bangsa” sendiri. Itu tak lebih dari ikhtiar seorang bung Karno: “… perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Bahkan setiap generasi yang lahir di abad milenium ini, sudah diberi sebuah pertanggung jawaban hidup atas nama “bangsa”, sekali pun belum bisa menghidupi sejagat tanah ibu. Semua terjadi karena “kerakusan”. Itu telah terlihat semakin jelas dari lakon setiap pemangku jabatan di gedung mewah dan megah sana, yang ketika melakukan sesuatu keluar dari jalur aturan dibuat sendiri, lalu merasa tenang-tenang sahaja dan berimbas pada orang lain atas roman “rakus”, pada akhirnya setiap pribumi yang lahir sudah memiliki beban dan bukan milik pribadi melainkan jutaan kepala semua “bangsa” terseret dalam daftar pertanggung jawaban itu.

Boleh jadi: “bangsa” yang mulai lahir saat ini merupakan siklus renaisans tempo dulu. Adalah “bangsa” di mana ke-seru-an dalam keterpaksaan untuk mengangkat tangan dan menyerukan: “tabik, tuan”. Itu terlihat jelas dengan masalah ke-“bangsa”-an waktu kini. Orang elit kita mulai menghormati bangsa-bangsa asing—yang jauh;yang pada kenyataannya bebrbeda sejarah kehidupan dari kita—sembari menyerukan: “tabik, tuan.” Inilah kenyataan yang harus dan mesti diterima, tanpa sekadar menaruh curiga—jika kelak—kesengsaraan akan hadir untuk melahirkan petaka kubra di atas kubangan kapling-kaplingan tanah sendiri. Itu beta sebut ialah “HUTAHG BERJAMAAH”.

Kita tahu bahwa tempo dulu bukan hanya pribumi yang menyerukan perlawanan atas ketidak beresan hidup bangsa kita; juga seorang indo pilhan sahaja yang berlaku seperti messias—yang datang menyelamatkan beratus jiwa—dengan cinta kasihnya untuk kehidupan lebih baik. Namun hal itu bahkan seorang Eropa punya andil terhadapnya. Seperti yang pernah dilakukan bangsa india terhadap Inggris yang hanya denga kepalan tangan terbuka, melawan atas nama ahimsa. Iya! Dia seorang yang pernah menyeru “biarkan india merdeka tanpa harus ada kekerasan dan pertumpahan darah”, manusia bijaksana dimasanya, Mahatma Ghandi (seorang manusia yang berhati mulia dimata masyarakatnya kala itu); seorang bijaksana yang tak pernah berharap belas kasih sesiapa.

Maka, pada detik ini, jadikanlah dirimu sebagai “bangsa”  yang memahami setiap seluk beluk kehidupanmu atas sejarah yang pernah berlaku seraya menjadi “Gung” yang bunyinya lebih menggema dari sekadar sepucuk bayonet. Supaya yang lain tahu kalau-kalu di atas kapling-kaplingan tanah Nusantara masih ada jiwa “bangsa” dari Pramoedya, Dowes Decker (sekalipun bukan indo juga prbumi) dan beberapa nama lain yang selalu sedia mencintai Hindia-Belanda dengan penuh keikhlasan tanpa ada keterpaksaan sedikit pun.

Dan itu hanya bisa dilakukan dengan solah dan tingkah selayaknya terpelajar, bukan menjadi seperi bandit keranjingan dengan melotot mata yang memerah, berkaca emosi dan amarah meradang. Namun sepatutnya, menjadi seorang berpengetahuan dan berilmu untuk mendapat kebebasan sesungguhnya. Karena hanya dengan ilmu dan pengetahuan, akan ada hal istimewa dalam diri untuk memahami kebebasan “bangsa” dari cengkeraman asing-asing yang tanpa punya rasa bersalah setelah menggerus tanah kehidupan kita.

Juga dengan ilmu dan pengetahuan, “bangsa” bisa dipahami sederhana saja, asalkan berpendirian yang utuh tanpa membelok dan mencoba berubah sikap biarpun sesekali. Sebab tidak ada satu orang pun, bisa melawan terhadap mereka yang berilmu. Bahkan itu pernah diucapkan Pramoedya Ananta Toer, sekiranya seperti ini: “melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan” (Bumi Manusia, hal: 286). Bukan saja itu. Seorang Kartini pun pernah menyerukan kepada perempuan-perempuan di zamannya tempo itu: “kekerasan yang paling menyakitkan adalah kebodohan.Maka jangan sesekali mencoba menjadi bodoh.

Untuk itulah, cintailah bangsamu sendiri, lalu biarkan dirimu bebas, sebebas-bebasnya menjadi seorang pribumi yang berjiwa besar dan memiliki satu pendirian terhadap satu bunyi yang membuncah dari mulut atas nama kemerdekaan yang benar-benar sejatinya merdeka; biar orang di luar bangsamu tahu, kalau sebenarnya masih ada orang yang berjiwa seperti Tan Malaka, Soekarno, Syahrir, Moh, Hatta, Kartini, dan sederet nama lain yang setia mempertahankan jati diri “bangasa”nya: BANGSA INDONESIA.

*Penulis saat ini aktif di Moluccas Democratization Watch (MDW) dan Beta Kreatif (BetKraf)

Comments

comments