MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta – Luka di leher Agung Maryana (29), menjadi petunjuk awal kejanggalan kematiannya, Sabtu (21/9/2019) malam. Petunjuk penting tersebut, sempat luput dari pantauan warga sekitar Gang KH Muchtar Nomor 100 RT 004/011, Palmerah, Jakarta Barat. Tepatnya, saat warga mengevakuasi wartawan Tribratanews.com tersebut ke rumah sakit Satria IKKT, Palmerah.
“Ada bekas luka di leher paman saya. Mirip jeratan tali tambang,” ungkap keponakan korban, Muhammad Rifqi Abdurahman kepada MediaHarapan.com, Selasa (24/9) malam.
Rifqi, merupakan perwakilan pertama dari pihak keluarga almarhum yang tiba di rumah sakit malam itu. Saat tiba di rumah sakit, Rifqi mendapati pamannya dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Hanya ada istri almarhum, Desi, tengah duduk di atas meja tindakan ruang IGD. Desi, kata Rifqi, terlihat memangku sambil memeluk almarhum Agung.
“Saya tiba di rumah sakit sekira pukul 21.30 WIB. Paman saya sudah nggak ada, tangan dan kakinya sudah diikat perban. Istrinya tidak bicara apa-apa. Saya dengar dari suster, istri paman saya bilang penyebab kematian karena bunuh diri,” papar Rifki.
Meski demikian, saat Rifki berupaya melihat bagian leher Agung justru dihalang-halangi Desi. Upaya untuk memastikan bekas luka di leher almarhum terealisasi setelah dibantu suster jaga. “Suster bilang, ada bekas luka di leher paman saya. Waktu saya mau lihat, penutup kepala selalu ditutup lagi oleh istrinya. Akhirnya, ada suster yang bantuin menenangkan, terus saya foto lukanya,” tuturnya.
Tak berselang lama, Ade Rahmawati selaku kakak almarhum sekaligus orang tua Rifki tiba di rumah sakit. Ade pun langsung histeris dan meminta jasad almarhum untuk segera di otopsi. Karena ia merasa ada kejanggalan dari kematian mendadak adiknya tersebut. Namun, otopsi batal terjadi karena pihak keluarga di Cirebon, meminta almarhum untuk segera dipulangkan.
Sebelumnya, kematian mendadak Agung sempat ramai di kalangan wartawan Ibu Kota. Mantan wartawan Jawapos itu, dikabarkan meninggal dunia karena menderita penyakit jantung. Dikutip dari akun media sosial jurnalis Jakarta, @BobolBoss, rekan seprofesi dan keluarga almarhum mengatakan Agung tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. “Bahkan, cenderung sehat wal afiat selama beberapa bulan terakhir,” tulis akun @BobolBoss dalam unggahannya tanggal 23 September 2019.
Informasi tersebut dibenarkan Rifqi. Bahkan, Rifqi mengungkapkan, pernyataan resmi pihak rumah sakit memastikan penyebab kematian Agung bukan karena penyakit jantung. Hal ini diperkuat bukti dari Sertifikasi Medis Penyebab Kematian (SMPK) almarhum dari rumah sakit. Dokter yang menangani almarhum, kata Rifqi, memberi tanda di kolom “cedera lainnya” berikut keterangan tambahan ditulis tangan. “Jelas di leher kanan dan lengan kiri,” terang Rifqi membacakan tulisan dokter di SMPK.
Berdasarkan hasil penelusuran Rifqi, sebelum dilarikan ke rumah sakit, almarhum dikabarkan tidak sadarkan diri di kontrakannya sekitar pukul 19:30 WIB. Salah satu tetangga mengaku sempat melihat istri almarhum, Desi, keluar kontrakan sekira pukul 18.30 WIB. Tidak diketahui kemana tujuannya, Desi terpantau pergi menggunakan sepeda motor miliknya, seorang diri. Tak lama berselang, Desi kembali ke kontrakan dan memicu kehebohan terkait kondisi Agung.
“Ada saksi Mas Kris, tinggal dekat pintu pagar kontrakan. Waktu itu dikasih tahu istrinya yang lihat tetangga lain, Bu Kokom dan Bu Dion, lari ke arah kontrakan paman saya. Mas Kris juga langsung ikut nyamperin. Jadi, tiga orang itu yang pertama kali melihat kondisi paman saya. Menurut mereka, paman saya sudah terbaring di kasur kamarnya,” jelas Rifqi.
Kris sendiri saat dikonfirmasi membenarkan hal itu. Teman dekat almarhum sejak bujangan itu mengaku, dirinya sempat berniat membopong Agung seorang diri agar segera dilarikan ke rumah sakit. Namun ia tak sanggup dan butuh bantuan warga lainnya. Saat itulah, Kris berupaya untuk menyadarkan Agung yang dikira pingsan.
Kris menambahkan, saat dirinya tiba di kamar kontrakan, kondisi almarhum sudah terbaring di atas kasur lantai. Bajunya terlihat terbuka sebagian dengan kaki yang ajak menjulur keluar dari kasur. Menurutnya, tubuh almarhum sudah basah hingga membasahi pakaiannya.
Hanya Kris sendiri di kamar Agung. Sedangkan istri almarhum, berada di ruang tamu bersama Bu Kokom dan Bu Dion yang mencoba menenangkannya. Menurut Kris, dirinya juga sempat meraba nadi di tangan almarhum.
“Saya cek nadinya, tidak ada denyut. Terus saya coba pegang dadanya, sudah ngga ada detak jantung juga. Tapi saya masih berpikir, saat itu almarhum hanya pingsan. Jadi, begitu datang warga lainnya, langsung kami angkat sama-sama ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit terdekat,” urainya.
Kematian misterius Agung ini, menjadi tanda tanya besar bagi keluarganya. Termasuk rekan-rekan seprofesi di Ibu Kota. Bahkan, pihak keluarga sepakat melaporkan kejanggalan kematian Agung ke Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (24/9) sore. Laporan tersebut teregister dengan nomor TBL/887/IX/2019/PMJ/Restro JAK-BAR tanggal 24 September 2019. (Cecep Gorbachev)











