• Redaksi
  • Kode Etik
Media Harapan
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video
No Result
View All Result
Media Harapan
No Result
View All Result
Home Featured

Indonesia Harus Siaga Hadapi Potensi Kehadiran Militer China di Natuna

Indonesia harus mewaspadai potensi eskalasi yang meninggi di perairan Laut Natuna Utara.

by Bilal
6 January 2020 17:07
in Featured, Politik & Keamanan
0
Indonesia Tolak Klaim China atas Natuna

MEDIAHARAPAN.COM, Jakarta –
Diplomat senior Hasyim Djalal meminta agar Indonesia tetap mempertahankan kewenangannya sebagai penguasa teritorial yang sah atas perairan Natuna Utara yang diklaim Repulik Rakyat China (RRC).

Indonesia harus mewaspadai potensi eskalasi yang meninggi di perairan Laut Natuna Utara yang belakangan kembali diklaim China. Terbuka kemungkinan Negeri Tirai Bambu itu mengambil langkah nekat di perairan Nusantara.

“Ini yang menurut saya yang disiapkan, adalah bersiap-siap menghadapi andai kata pasukan China itu yang masuk ke wilayah Indonesia,” kata Hasyim seperti dikutip dari Republika.co.id, Senin (6/1/2020).

Menurut pakar hukum laut internasional itu, potensi China untuk menggelar armada lautnya di Natuna Utara bakal terjadi selama sengketa di Laut Cina Selatan (LCS) tak selesai.  “Potensi (pengerahan militer) itu, akan selalu ada. Karena Laut China Selatan itu tidak jelas pemilik kewenangannya,” sambung dia.

Hasyim menerangkan, krisis antara Indonesia dan China yang terjadi di Natuna Utara sebetulnya, sisi lain dari pertengkaran di LCS. Di LCS Sengketa juga terjadi antara pemerintahan di Beijing, dengan sejumlah negara-negara ASEAN, seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam.

Indonesia, bukan negara pihak yang mengambil klaim atas perairan di LCS. Namun, perairan Natuna Utara yang sudah diakui hukum internasional sebagai teritorial sah Indonesia, beririsan dengan perairan LCS yang sampai hari ini tak terang kepemilikannya.

Namun, kata Hasyim, negara-negara ASEAN yang berselisih dengan Cina di LCS, mengakui 200 mil perairan dari Pulau Natuna menjadi hak kedaulatan pemerintah Indonesia sebagai zona ekonomi eksklusif (ZEE).

“Jadi hak China untuk ambil ikan di situ (perairan Natuna Utara) sesungguhnya merupakan pelanggaran atas hak negara yang punya zona ekonomi di situ (Indonesia),” terang Hasyim.

Mantan Duta Besar Indonesia di PBB itu, pun menyarankan sejumlah langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menanggapi pelanggaran penerobosan wilayah perairan yang dilakukan Cina di ZEE Natuna Utara.

Indonesia harus melaksanakan haknya mempertahankan kedaulatan wilayahnya dengan cara apapun. Baik lewat penguatan dan pengawasan militer di perairan krisis. Namun Hasyim mengingatkan, agar misi tersebut tetap dengan mengutamakan kampanye damai di perairan Natuna Utara.

“Ya itu sebagai langkah siap siaga saja. Indonesia  setahu saya tidak ingin bertempur. Tetapi ingin menjaga haknya dan kedaulatannya di sana (Natuna Utara),” ujar dia.

Di lain sisi, kata Hasyim, Indonesia  harus menguatkan diplomasi dengan negara-negara ASEAN yang punya sengketa teritorial di LCS dengan Cina. Ini agar tak mengingkari pengakuan Natuna Utara sebagai perairan Nusantara yang sah.

Menurutnya, Indonesia sejak lama punya peran penting dalam misi diplomasi dan kerja sama ASEAN dengan Cina untuk menuntaskan sengketa LCS. Tak salah kata dia, jika pemerintah Indonesia kembali mengajak negara-negara ASEAN kembali ke meja perundingan dengan China.

Indonesia dan Cina kembali mengalami krisis di perairan Natuna Utara. Sampai Ahad (5/1), sejumlah kapal nelayan berbendera Tiongkok itu, tetap berada di perairan ZEE Indonesia dengan pengawalan militer Tirai Bambu.

Pelanggaran batas wilayah perairan Indonesia ini, bukan yang pertama kali dilakukan oleh Cina. Pemerintah Indonesia, sudah melayangkan protes keras. TNI dari Korps Angkatan Laut (AL) pun sudah dikerahkan untuk mengantisipasi dan mengusir kapal-kapal Cina.

Namun kapal-kapal Cina, bergeming dan bertahan di perairan Indonesia.  Protes keras Indonesia, pun tak digubris. Cina keras kepala menyatakan perairan Natuna Utara bagian dari kedaulatannya. []

Comments

comments

Tags: Laut China SelatanPERAIRAN NATUNA
Previous Post

Walikota Bengkulu Helmi Hasan Harap Penyuluh Pertanian Jalin Kerjasama dengan Perusahaan

Next Post

NU Minta Pemerintah Tegas terhadap China soal Natuna

Bilal

Next Post
NU Minta Pemerintah Tegas terhadap China soal Natuna

NU Minta Pemerintah Tegas terhadap China soal Natuna

BERITA POPULER

10 Alat Bantu Fotografi yang Wajib Diketahui Pemula

10 Alat Bantu Fotografi yang Wajib Diketahui Pemula

28 August 2023 14:39
Indonesia Tolak Klaim China atas Natuna

Indonesia Harus Siaga Hadapi Potensi Kehadiran Militer China di Natuna

6 January 2020 17:07

“Janganlah Menjadi Orang Gila”

29 April 2017 08:39
Sumsel Panen Raya di Lahan Rawa Lebak, Bukti Kepahlawanan Gempita  Jawa Barat

Sumsel Panen Raya di Lahan Rawa Lebak, Bukti Kepahlawanan Gempita  Jawa Barat

29 September 2018 11:27
Orang Sholeh Yang Diam Menyaksikan Kemungkaran Maka Ia Terlaknat

Orang Sholeh Yang Diam Menyaksikan Kemungkaran Maka Ia Terlaknat

29 April 2019 08:25
Perkumpulan AQL Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-79 di Bogor

Sunni–Syiah dan Sikap Umat atas Serangan Israel ke Iran

3 March 2026 08:35

BERITA TERBARU

Bidan Jadi Garda Terdepan Lindungi Ibu dan Anak di Musim Pancaroba

Bidan Jadi Garda Terdepan Lindungi Ibu dan Anak di Musim Pancaroba

4 March 2026 07:07
Perkumpulan AQL Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-79 di Bogor

Sunni–Syiah dan Sikap Umat atas Serangan Israel ke Iran

3 March 2026 08:35
Problem Secara Hukum, FGD JATTI Tolak Indonesia Gabung BOP

Problem Secara Hukum, FGD JATTI Tolak Indonesia Gabung BOP

3 March 2026 08:21
Sertijab Camat, Staf Ahli TPPKK Dwinanda Ahmad Fadly Lantik Ketua TPPKK Kecamatan Salimpaung Dan Batipuh

Sertijab Camat, Staf Ahli TPPKK Dwinanda Ahmad Fadly Lantik Ketua TPPKK Kecamatan Salimpaung Dan Batipuh

28 February 2026 06:39

Follow Us

Media Harapan merupakan web portal berita berbasiskan citizen jurnalism yang menyajikan berbagai peristiwa yang terjadi baik dalam maupun luar negeri. Semua materi dalam situs mediaharapan.com boleh di copy guna keperluan pengembangan pengetahuan dan wawasan masyarakat khususnya peningkatan inteligensi pemuda-pemudi Indonesia dan referensi non komersil dengan mencantumkan mediaharapan.com sebagai sumbernya. Semua masyarakat khususnya pemuda-pemudi Indonesia dapat berpartisipasi sebagai citizen jurnalism dengan mengirimkan rilis, informasi, berita, artikel, opini atau foto untuk dipublikasikan melalui alamat email Redaksi.

Recent News

Bidan Jadi Garda Terdepan Lindungi Ibu dan Anak di Musim Pancaroba

Bidan Jadi Garda Terdepan Lindungi Ibu dan Anak di Musim Pancaroba

4 March 2026 07:07
Perkumpulan AQL Gelar Upacara Peringatan HUT RI ke-79 di Bogor

Sunni–Syiah dan Sikap Umat atas Serangan Israel ke Iran

3 March 2026 08:35
  • Redaksi
  • Kode Etik

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Hukum & Kriminal
    • Daerah
    • Politik
    • Peristiwa
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Keuangan
    • Macro
    • Pojok UKM
  • Internasional
  • Tekno
    • Teknologi
    • Telekomunikasi
  • Olahraga
    • Arena
    • Hobi
  • Khazanah
    • Opini
    • Profil
  • Sosial
    • CSR
    • Komunitas
  • Video

© 2019 mediaharapan.com - By Wahana Muda Indonesia